KOTA CIREBON, (FC).-  Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia menggelar Panen Raya Serentak Ketahanan Pangan Pemasyarakatan secara nasional pada Kamis (15/1/2026).

Kegiatan ini menjadi bukti konkret keterlibatan lembaga pemasyarakatan dalam mendukung program strategis nasional di bidang ketahanan pangan.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menjelaskan bahwa panen raya merupakan bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan yang berorientasi pada penguasaan keterampilan produktif.

Menurutnya, program tersebut dirancang tidak hanya untuk kepentingan pembinaan internal, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat luas.

“Melalui kegiatan ini, warga binaan dilatih untuk mandiri sekaligus berkontribusi bagi masyarakat. Pemasyarakatan hadir sebagai bagian dari solusi,” ujar Mashudi.

Dalam pelaksanaannya, panen raya serentak menghasilkan total 123,5 ton komoditas pangan. Hasil tersebut berasal dari sektor pertanian, peternakan, dan perikanan yang dikelola di lingkungan pemasyarakatan.

Sebanyak 99 ton merupakan hasil pertanian berupa singkong dan kelapa, 4 ton dari peternakan ayam, bebek, dan kambing, serta 19 ton dari sektor perikanan.

Seluruh hasil panen didonasikan kepada masyarakat yang terdampak bencana alam.

Program ini melibatkan sekitar 12.000 warga binaan dengan memanfaatkan lahan produktif seluas 44,2 hektare. Dari kegiatan tersebut, tercatat nilai premi hasil kerja warga binaan mencapai Rp905.284.222, sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi aktif mereka.

Selain panen raya, kegiatan juga dirangkaikan dengan pelayanan sosial dan kesehatan. Masyarakat di sekitar lapas mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis hasil kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Cirebon, serta penyaluran 500 paket bantuan sosial.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Agus Andrianto, yang turut memberikan arahan, menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu fokus utama dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia.

Ia menilai pendekatan berbasis komunitas yang dilakukan Pemasyarakatan sejalan dengan karakter bangsa Indonesia.

“Ketahanan pangan tumbuh dari keluarga dan masyarakat. Pendekatan ini tidak bisa digantikan oleh teknologi semata, termasuk artificial intelligence,” kata Agus Andrianto.

Ia menambahkan, program ketahanan pangan Pemasyarakatan berawal dari optimalisasi lahan-lahan potensial di lingkungan lapas dan rutan, yang kemudian disinergikan dengan kebijakan nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri juga secara spontan menyumbangkan 5.000 potong pakaian untuk anak-anak korban banjir.

“Pakaian tersebut dipesan dari hasil karya warga binaan Lapas Kelas I Kesambi sebagai dukungan nyata terhadap program pembinaan kemandirian,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Menteri Agus Andrianto juga mengarahkan agar sebagian hasil panen dapat dimanfaatkan untuk membantu pengadaan air bersih bagi masyarakat terdampak bencana yang masih mengalami keterbatasan akses.

Mengakhiri kegiatan, Menteri memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran Pemasyarakatan dan mitra kemasyarakatan atas kolaborasi yang terjalin.

Ia menegaskan bahwa Pemasyarakatan memiliki peran strategis dalam menyiapkan warga binaan agar kembali ke masyarakat secara bermartabat dan produktif.

Ke depan, Pemasyarakatan didorong untuk terus memperkuat Balai Latihan Kerja, memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan industri, serta meningkatkan sinergi lintas sektor.

Menteri juga menyinggung berlakunya KUHAP baru yang memperluas peran Balai Pemasyarakatan (Bapas), sehingga menuntut penguatan kapasitas dan koordinasi yang lebih solid dalam pelaksanaan tugas Pemasyarakatan. (Agus)