SULAP KAWASAN ‘REMANG’ HARJAMUKTI JADI TERANG
KOTA CIREBON, (FC).- Kawasan di belakang Terminal Harjamukti Kota Cirebon yang selama ini disorot karena diduga menjadi lokasi aktivitas prostitusi dan transaksi minuman keras (miras) akan ditata. Pemerintah Kota Cirebon menyiapkan sejumlah langkah untuk mengubah kawasan yang selama ini terkesan sepi dan “remang” tersebut menjadi ruang yang lebih terang, ramai, dan dipenuhi aktivitas positif masyarakat.
Langkah itu tidak hanya mengandalkan penertiban. Pemkot Cirebon juga berencana menambah penerangan jalan, menghadirkan aktivitas perdagangan, serta memperkuat kegiatan keagamaan di sekitar Masjid Al-Hidayah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Iing Daiman, mengakui adanya indikasi aktivitas yang dinilai tidak semestinya di kawasan tersebut. Temuan alat kontrasepsi yang berserakan di belakang terminal, tidak jauh dari Masjid Al-Hidayah, turut memunculkan dugaan adanya praktik prostitusi.
“Memang kami juga tidak menutup mata, di daerah sana itu kadang ada, diindikasikan, mohon maaf, kegiatan prostitusi, termasuk bisa jadi transaksi minuman keras atau apa pun seperti itu,” ujar Iing, Kamis (20/8/2026).
Menurut Iing, Pemkot Cirebon telah beberapa kali melakukan penertiban melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Patroli dan razia dilakukan untuk mengantisipasi aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
“Kami juga menyadari betul, makanya Satpol PP beberapa kali melakukan razia dan patroli,” katanya.
Sejumlah bangunan di kawasan tersebut juga telah dibongkar sebagai bagian dari penertiban. Namun, pemerintah menyadari bahwa langkah represif saja tidak cukup untuk mengubah kondisi kawasan.
Karena itu, Pemkot Cirebon memilih pendekatan lain dengan membuat kawasan lebih hidup. Salah satu rencana yang disiapkan adalah memindahkan aktivitas pedagang bunga dari kawasan Kalibaru ke sekitar Masjid Al-Hidayah.
Iing mengatakan, rencana tersebut telah disepakati Wali Kota Cirebon Effendi Edo bersama Wakil Wali Kota Siti Farida Rosmawati.
“Pak Wali dengan Bu Wakil Wali Kota itu sepakat memindahkan lokasi pasar pedagang bunga Kalibaru ke tempat di sana,” ujarnya.
Menurut Iing, kehadiran aktivitas perdagangan diharapkan membuat kawasan lebih ramai sehingga mempersempit ruang bagi kegiatan yang tidak diinginkan.
“Itu bagian dari ikhtiar kita supaya di sana ada keramaian, sehingga, mohon maaf, orang yang remang-remang atau merasa yang tidak melakukan hal baik pelan-pelan merasa enggak enak,” katanya.
Selain menghidupkan aktivitas ekonomi, Pemkot juga berencana memasang lampu penerangan jalan di sekitar kawasan tersebut.
“Nanti juga akan pasang lampu penerangan jalan di sana,” ucap Iing.
Perkuat Aktivitas Keagamaan
Penataan kawasan juga sempat diarahkan untuk memperkuat aktivitas keagamaan. Iing mengungkapkan, sebelumnya terdapat rencana keterlibatan komunitas Lautze dalam menghidupkan kawasan bersama Masjid Al-Hidayah.
“Makanya ketika ada Lautze (komunitas) mau bergabung, ini luar biasa sekali, komprehensif ya,” katanya.
Menurut Iing, keterlibatan tersebut diharapkan dapat memperkuat syiar dan aktivitas keagamaan di sekitar masjid.
“Yang kedua, ada syiar Islam yang akan kuat antara Al-Hidayah dengan Lautze,” ujarnya.
Namun, rencana kerja sama tersebut akhirnya tidak dilanjutkan. Iing mengatakan, terdapat perbedaan misi yang disampaikan melalui surat dari pihak Masjid Lautze.
“Cuma ya sayang, dari surat yang disampaikan oleh Masjid Lautze, karena ada perbedaan misi, entah misinya seperti apa,” katanya.
Iing mengaku tidak mengetahui secara rinci mengenai perbedaan misi tersebut. Ia hanya memastikan kerja sama tersebut tidak dapat diteruskan.
Bantuan untuk Masjid
Di sisi lain, Pemkot Cirebon menyatakan Masjid Al-Hidayah juga pernah mendapat bantuan pemerintah. Iing mengatakan, bantuan tersebut antara lain berkaitan dengan fasilitas masjid, meski ia tidak mengingat secara pasti tahun pemberiannya.
“Sebenarnya karena kami di Pemerintah Kota Cirebon itu ada beberapa masjid yang harus di-handle. Jadi, kami pernah memberikan bantuan, cuma lupa tahun berapa ya, bantuan termasuk fasilitas dan lain sebagainya,” kata Iing.
Ia menjelaskan, bantuan kepada masjid tidak dapat diberikan setiap tahun karena keterbatasan anggaran. Pemerintah juga harus membagi prioritas dengan sejumlah masjid dan musala lain yang membutuhkan dukungan.
“Cuma memang tidak tiap tahun karena anggaran terbatas,” ujarnya.
Iing menyebut sejumlah masjid dan musala lain juga membutuhkan perhatian pemerintah, baik untuk perbaikan, rehabilitasi maupun dukungan fasilitas.
“Juga ada masjid atau musala lain yang butuh prioritas untuk, katakanlah, dibangun, bukan dibangun, untuk dibiayai, diperbaiki, direhab, bahkan dikunjungi,” katanya.
Terkait bantuan yang pernah diterima Masjid Al-Hidayah, Iing menyarankan informasi lebih rinci dikonfirmasi kepada pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).
“Tapi kami pernah juga membantu, cuma saya lupa. Nanti ke DKM-nya saja,” tandasnya.
Penataan kawasan belakang Terminal Harjamukti kini diarahkan tidak sekadar untuk membubarkan aktivitas yang dianggap mengganggu ketertiban. Pemkot Cirebon ingin menghadirkan kawasan yang lebih terang dan ramai melalui perpaduan penertiban, penerangan, aktivitas ekonomi, serta kegiatan keagamaan.
Dengan pendekatan tersebut, kawasan sekitar Masjid Al-Hidayah diharapkan tidak lagi menjadi ruang sepi yang rawan dimanfaatkan untuk aktivitas negatif, tetapi berubah menjadi ruang publik yang lebih terbuka dan nyaman bagi masyarakat. (Agus Rahmat)


Tinggalkan Balasan