Siaga ISPA, Kasus Tembus 205 Ribu di Kabupaten Cirebon
KAB.CIREBON, (FC).- Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Cirebon menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mencatat adanya kenaikan kunjungan pasien ke sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, terutama dalam dua bulan terakhir.
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Cirebon, rata-rata kunjungan pasien anak ke puskesmas meningkat dari 35 orang per hari pada Juli 2026 menjadi 54 orang per hari pada September 2026. Kenaikan tersebut mencapai sekitar 54 persen.
Peningkatan paling terlihat dari Agustus menuju September, dengan tambahan rata-rata kunjungan sekitar 17 pasien per hari. Kondisi tersebut membuat Dinkes meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit saluran pernapasan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih mengatakan, meski terjadi peningkatan, kondisi tersebut belum ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Belum masuk masa KLB. Kami terus melakukan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Kalau dibandingkan dengan minggu yang sama tahun sebelumnya, memang ada kenaikan,” ujar Mona, Senin (21/9).
Menurutnya, peningkatan kasus tahun ini terlihat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Namun, penyebabnya belum dapat dipastikan hanya berasal dari satu faktor.
“Kalau dilihat dari grafik memang lebih tinggi dari tahun kemarin. Tetapi belum bisa dikatakan apakah karena abu vulkanik atau bukan, karena saat ini juga ada fenomena influenza tipe A,” jelasnya.
Mona menjelaskan, masyarakat perlu memahami perbedaan antara jumlah kunjungan pasien dan jumlah kasus penyakit. Data kunjungan merupakan catatan pelayanan kesehatan, sedangkan data SKDR merupakan laporan penyakit yang masuk dalam pemantauan kewaspadaan dini.
Berdasarkan laporan SKDR dari puskesmas dan rumah sakit, jumlah kasus ISPA di Kabupaten Cirebon hingga minggu ke-36 tahun 2026 tercatat mencapai 205.928 kasus.
“Angka tersebut merupakan jumlah kasus ISPA, bukan jumlah kunjungan pasien. Ini harus dibedakan,” tegasnya.
Ia menyebut, jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan minggu sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu. Karena itu, Dinkes terus melakukan pemantauan perkembangan kasus di lapangan.
Selain ISPA, Dinkes juga melakukan kewaspadaan terhadap dampak lingkungan, termasuk potensi paparan abu vulkanik. Pemerintah daerah telah mengeluarkan surat edaran terkait kewaspadaan dini dan respons terhadap dampak kesehatan.
“Puskesmas sudah kami imbau untuk mempersiapkan obat-obatan dan meningkatkan kewaspadaan,” katanya.
Di tengah meningkatnya kasus gangguan pernapasan, Dinkes mengingatkan masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Orang tua diminta tidak memaksakan anak yang sedang mengalami gejala sakit untuk tetap mengikuti kegiatan sekolah. Selain membantu proses pemulihan, langkah tersebut juga mencegah penyebaran kepada siswa lainnya.
“Kalau anak sedang sakit, sebaiknya tidak masuk sekolah dulu agar tidak menularkan ke anak lainnya,” ujar Mona.
Dinkes juga mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti memakai masker saat mengalami gejala gangguan pernapasan, mencuci tangan secara rutin, menjaga jarak dengan orang yang sakit, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan yang memburuk.
“Pencegahan utama tetap dengan menjaga kebersihan, menggunakan masker, mencuci tangan, dan mengurangi kontak ketika sedang sakit,” pungkasnya. (Ghofar)


Tinggalkan Balasan