Ribuan Penari Turun ke Sungai di Festival Pecunan, Yang Digelar Komunitas Hujan Keruh Jaritujuh
MAJALENGKA, (FC).– Sekitar 1.000 penari turun ke kawasan aliran Sungai Cipelang, Bendungan Rentang, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, dalam Festival Pecunan yang digelar Komunitas Hujan Keruh, Senin (31/8).
Ribuan warga dan peserta mengikuti festival yang memadukan seni budaya dengan kampanye pelestarian lingkungan tersebut. Tahun ini, Festival Pecunan memasuki penyelenggaraan keempat dan digelar lebih panjang selama tiga hari, Minggu – Senin (30 – 31 Agustus 2026).
Salah satu atraksi utama adalah Tari Blentung yang melibatkan sekitar 1.000 penari dari sejumlah sanggar seni dan kalangan pelajar. Berbeda dari pertunjukan tari pada umumnya, para penari tidak tampil di panggung. Mereka bergerak di sepanjang tanggul dan kawasan aliran Sungai Cipelang di sekitar Bendung Rentang.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari pesan utama festival, yakni menghidupkan kembali hubungan masyarakat dengan sungai melalui pendekatan budaya. Selain Tari Blentung, Festival Pecunan diisi balap perahu pecunan tradisional, penebaran benih ikan, serta parade karnaval perahu hias.
Sebanyak 3.000 benih ikan nila Nirwana ditebar ke aliran Sungai Cipelang sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem perairan. Pesan lingkungan juga terlihat dalam parade perahu hias.
Sejumlah perahu karya warga Jatitujuh dibuat dengan memanfaatkan material sampah yang ditemukan di sekitar sungai. Sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan diolah menjadi bagian dari karya kreatif.
Cara tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan sampah sungai dapat dihadapi melalui keterlibatan langsung masyarakat.
Ketua Panitia Festival Pecunan Komunitas Hujan Keruh, Syarifudin Rahmat, mengatakan penyelenggaraan tahun ini memiliki konsep yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Festival Pecunan tahun ini yang keempat kalinya. Tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena digelar selama dua hari, dengan rangkaian kegiatan balap perahu tradisional, Tari Blentung, penebaran benih ikan nila dan parade karnaval perahu hias,” kata Syarifudin.
Festival Pecunan 2026 mengangkat tema “Rawat Ruat Aliran Air, untuk Menjernihkan Tradisi di Arus Zaman.” Tema tersebut menjadi ajakan agar masyarakat tidak hanya menjaga kebersihan sungai, tetapi juga mempertahankan tradisi yang berkembang di lingkungan masyarakat yang hidup di sekitar aliran sungai.
Rangkaian kegiatan juga diisi Ikrar Memuliakan Sungai yang dibacakan Deputi III Kemenko Infrawil, Nazib Faizal. Nazib mengapresiasi penyelenggaraan Festival Pecunan yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas.
Menurut dia, festival yang lahir dari inisiatif komunitas di Jatitujuh tersebut tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan budaya tingkat lokal.
“Ini sangat bagus dan kami apresiasi. Ke depan mudah-mudahan Festival Pecunan tidak hanya menjadi agenda rutin lokal, tetapi bisa menjadi agenda nasional dengan melibatkan komunitas pecinta sungai dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Nazib.
Festival Pecunan pada akhirnya tidak sekadar menjadi pertunjukan seni. Kegiatan tersebut mempertemukan masyarakat, pelajar, komunitas seni, komunitas lingkungan dan berbagai pihak untuk mengangkat kembali perhatian terhadap keberadaan sungai.
Melalui tari blentung, balap perahu tradisional, penebaran ikan hingga perahu hias berbahan sampah, Festival Pecunan membawa satu pesan utama, yakni sungai bukan hanya bagian dari bentang alam, tetapi juga ruang hidup, budaya dan tradisi masyarakat yang perlu dirawat bersama. (Munadi)


Tinggalkan Balasan