Kuningan 528 Tahun, Dorong Ekonomi Lokal dan Jaga Akar Budaya
KUNINGAN, (FC).- Memasuki usia 528 tahun, Kabupaten Kuningan didorong untuk bergerak lebih cepat menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budaya dan kelestarian lingkungan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Sidang Paripurna Hari Jadi ke-528 Kuningan di Gedung DPRD Kuningan, Selasa (1/9).
Mengusung tema “Melesat, Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi”, peringatan Hari Jadi tahun ini menegaskan arah pembangunan Kuningan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan ekonomi, namun tetap berpijak pada sejarah, budaya, kearifan lokal serta nilai-nilai agama.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengatakan tema tersebut bukan sekadar slogan, tetapi menjadi gambaran arah pembangunan daerah dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Setinggi apa pun kita terbang melesat menggapai masa depan, akar sejarah, jati diri, kearifan lokal, serta nilai-nilai agamis dan keasrian tradisi Sunda Kuningan harus tetap menancap kokoh di dalam dada,” kata Dian.
Menurutnya, pembangunan Kuningan harus dilakukan secara berimbang dengan memperkuat ekonomi, infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM dan pariwisata tanpa mengabaikan karakter daerah.
Momentum Hari Jadi juga dimanfaatkan Pemkab Kuningan untuk memberikan penghargaan kepada sejumlah putra-putri daerah, atlet, pelajar, santri, desa berprestasi serta masyarakat yang dinilai berkontribusi terhadap pembangunan.
Penghargaan juga diberikan kepada masyarakat Pinunjul dari berbagai profesi, mulai petani, guru ngaji, pedagang, buruh hingga marbot. Pemkab Kuningan bahkan menyiapkan pemberangkatan umrah bagi marbot penerima penghargaan.
Tokoh asal Kuningan, Andi Gani Nena Wea, turut menerima penghargaan sebagai Tokoh Pinunjul atas perhatian dan kontribusinya terhadap pengembangan investasi serta perekonomian daerah.
Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal) Laksda TNI Yayan Sofiyan yang hadir sebagai tokoh asal Kuningan mendorong generasi muda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan mengembangkan potensi lokal.
Menurutnya, Kuningan memiliki modal ekonomi yang besar, mulai dari pertanian, hortikultura, sumber daya alam, budaya, pariwisata hingga sumber daya manusia.
Produk seperti kopi Kuningan, komoditas pertanian, produk kulit dan sepatu dinilai memiliki peluang untuk menembus pasar nasional hingga global apabila diperkuat melalui digitalisasi, hilirisasi, branding dan pemasaran.
“Belajar digitalisasi, belajar information technology, eksplorasi berbagai macam keunggulan lokal, jual di pasar global. Agar Kuningan melesat menjadi raksasa ekonomi, menjadi raksasa industri,” pesannya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengingatkan pembangunan Kuningan harus tetap memperhatikan kualitas lingkungan, tata ruang dan pelayanan publik.
Menurut Dedi, pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya mengutamakan pengaspalan jalan, tetapi harus dibarengi perbaikan drainase, penerangan jalan, CCTV serta kebersihan lingkungan.
Ia juga meminta pengembangan sektor pariwisata tidak mengorbankan kelestarian Gunung Ciremai sebagai salah satu aset alam utama Kuningan. “Pengembangan wisata jangan merusak Ciremai,” tegasnya.
Dedi turut mendorong penguatan produk lokal seperti kopi, peuyeum dan jeniper melalui inovasi, kemasan serta branding. Konsep “Warung Kuningan” dinilai dapat menjadi wadah pemasaran produk masyarakat sekaligus memperkuat identitas ekonomi lokal.
Pengembangan desa wisata berbasis homestay dan aktivitas masyarakat juga dinilai dapat membuat manfaat sektor pariwisata lebih banyak dirasakan warga desa.
Di sisi lain, Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy menilai usia 528 tahun harus menjadi momentum evaluasi sekaligus memperkuat kolaborasi seluruh elemen dalam pembangunan daerah.
“Semoga hari jadi ini menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi, memperkuat kolaborasi dari semua aspek penyelenggara Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan guna mewujudkan Kabupaten Kuningan yang maju, lestari, agamis, dan tangguh,” ujarnya.
Rangkaian Hari Jadi turut diawali tradisi naik delman hias dari Pendopo Kabupaten Kuningan menuju Gedung DPRD. Tradisi tersebut menjadi simbol bahwa modernisasi dan kemajuan daerah tetap dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya.
Di usia 528 tahun, tantangan Kuningan bukan hanya bagaimana bergerak lebih cepat, tetapi juga bagaimana menjaga lingkungan, mengembangkan potensi ekonomi lokal dan mempertahankan identitas budaya.
Semangat “Melesat, Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi” menjadi pijakan untuk membangun masa depan tanpa mencabut akar daerah. (Angga)


Tinggalkan Balasan