MAJALENGKA, (FC).- Dibalut suasana pedesaan yang tenang, di salah satu sudut Saung Eurih, Kabupaten Majalengka, terjalin silaturahmi yang hangat antara Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jabar, Ineu Purwadewi Sondari dengan insan jurnalis yang bertugas di kabupaten Majalengka.

Silaturahmi ini bukan sekadar silaturahmi biasa, namun dibalut dengan kegiatan “Ngopi” atau Ngobrol Pintar yang digelar bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Majalengka, pada Minggu (16/8).

Kegiatan ini menjadi ruang bertukar gagasan antara para alumni GMNI dan insan pers, yang dibuka langsung oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat sekaligus Ketua DPD GMNI Jawa Barat, Hj. Ineu Purwadewi Sundari.Berita Jawa Barat

Dikemas secara akrab dan santai, kegiatan ini menghapus sekat antara latar belakang yang beragam. Ineu hadir membawa pesan sederhana namun mendalam keberagaman yang dimiliki alumni GMNI adalah kekuatan yang harus disalurkan lewat kontribusi nyata, bukan hanya lewat kancah politik.

Ineu memulai pembicaraan dengan menegaskan bahwa dunia GMNI tak hanya soal politik. Di antara para alumni, banyak yang kini berbakti sebagai ASN, PPPK, akademisi, wirausahawan, bergerak di dunia perbankan, asuransi, hingga berbagai bidang profesional lainnya.

“Tidak semua alumni GMNI itu politik. Ada yang ASN, PPPK, akademisi, wirausahawan, bergerak di berbagai usaha, perbankan, asuransi dan bidang lainnya,” ujar Ineu.

Justru karena latar belakang yang beragam itulah, kata dia, alumni GMNI memiliki potensi besar untuk memberi manfaat luas bagi masyarakat. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk terus berinovasi, membangun gagasan, dan mencari cara-cara kreatif dalam berkontribusi. Salah satunya, belajar menyampaikan gagasan lewat tulisan.

Di tengah pesatnya perkembangan media digital dan media sosial, Ineu menekankan satu hal penting yaitu “kini adalah eranya menulis”. Kemampuan menyusun gagasan menjadi tulisan yang baik bukan lagi keahlian tambahan, melainkan kebutuhan mendasar.

“Sekarang dunianya sudah dunia menulis, digital, media sosial dan sebagainya. Dasar untuk bisa menulis atau membuat konten, siapa yang lebih ahli kalau bukan teman-teman PWI?” tandasnya.

Karena itu, ia mengajak para alumni GMNI untuk tidak malu belajar. Belajar dari wartawan, belajar menyusun tulisan yang rapi, menyampaikan pesan yang jelas. Bukan berarti semua harus menjadi wartawan namun setidaknya, memiliki dasar menulis yang baik agar gagasan dapat tersampaikan dengan tepat.

“Jangan pernah sebagai alumni GMNI kita malu untuk belajar. Belum tentu harus menjadi wartawan. Minimal mereka punya dasar untuk bisa menjadi penulis yang baik,” pesannya.

Ineu pun jujur mengakui bahwa banyak orang yang lincah di media sosial, memiliki ribuan pengikut, kerap menjadi narasumber, namun belum tentu mahir menyusun konten atau menyampaikan pesan dengan baik.

“Belum tentu yang bermain media sosial, follower-nya banyak, biasa menjadi narasumber, kemudian ahli juga dalam membuat konten. Saya sendiri mengakui belum ahli,” ucapnya dengan rendah hati, disambut senyum peserta yang hadir.

Tak hanya soal menulis dan literasi digital, Ineu juga menyinggung pentingnya menjaga jalinan komunikasi yang sehat antara media dengan lembaga pemerintahan maupun DPRD. Menurutnya, perbedaan sudut pandang dalam pemberitaan adalah hal yang wajar, bagian dari dinamika demokrasi yang harus disikapi dengan kepala dingin dan dialog terbuka.

Ia pun berharap PWI tetap menjadi rumah besar yang mengayomi para wartawan, sekaligus menjembatani komunikasi yang sehat, transparan, dan saling menghargai antara insan pers, pemerintah, serta legislatif.

Menanggapi hal itu, Ketua PWI Majalengka, Pai Supardi, menyambut hangat semangat yang disampaikan Ineu. Kegiatan Ngobrol Pintar ini, kata dia, bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan ruang terbuka untuk saling bertukar pandang tentang berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Langkah ini sejalan dengan visi PWI Jawa Barat yang ingin menjadikan kantor PWI bukan sekadar tempat berkumpul atau mengetik berita, melainkan ruang hidup tempat lahirnya gagasan-gagasan baru.

“Ke depan kita ingin menjadikan kantor PWI ini bukan hanya tempat kumpul, ngobrol, atau mengetik, tetapi juga menjadi ruang-ruang diskusi dan ruang untuk memecahkan berbagai persoalan di Jawa Barat,” ungkap Pai.Informasi Pariwisata Jabar

Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut, tumbuh menjadi ruang dialog yang produktif, kritis, dan pada akhirnya membawa manfaat nyata bagi masyarakat serta pembangunan Kabupaten Majalengka. (Munadi)