Gelar Reses, HSG Serap Aspirasi Pemekaran Kecamatan Harjamukti
KOTA CIREBON, (FC).— Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon sekaligus Sekretaris Dewan Pertimbangan DPD Partai NasDem Kota Cirebon, Harry Saputra Gani (HSG), menggelar reses bersama ratusan struktur Partai NasDem Kecamatan Harjamukti hingga tingkat kelurahan dan RW.
Reses ini menjadi ruang menyerap aspirasi sekaligus mengaktifkan struktur partai sebagai jembatan masyarakat dengan Fraksi NasDem di DPRD.
Aspirasi yang disampaikan meliputi pelayanan BPJS dan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, UMKM, pariwisata, serta penataan wilayah.
Salah satu aspirasi yang mengemuka adalah perlunya kajian pemekaran kecamatan dan kelurahan, khususnya di Harjamukti.
HSG mengatakan, berdasarkan DKB Disdukcapil Semester II 2025, Harjamukti memiliki 132.130 penduduk, terbesar di Kota Cirebon.
Sebagai contoh, Kelurahan Kalijaga memiliki 39.157 penduduk, bahkan lebih besar dibandingkan seluruh Kecamatan Pekalipan yang berjumlah 31.460 penduduk.
“Ini bukan gagasan dari atas. Ini aspirasi dari bawah yang kami dengar langsung. Kalijaga hanya salah satu contoh. Karyamulya dan beberapa kelurahan lainnya juga memiliki penduduk yang besar,” ujar HSG, Selasa (18/8).
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dikaji dari sisi beban pelayanan, luas wilayah, rentang kendali pemerintahan dan pemerataan pembangunan.
Harjamukti juga saat ini telah terbagi menjadi dua dapil. Namun HSG menegaskan, hal tersebut hanya menjadi data pendukung, bukan dasar pemekaran.
“Pembicaraan ini bukan soal pemilu. Yang utama adalah pelayanan. Kalau Harjamukti lebih efektif ditata menjadi dua kecamatan sehingga pelayanan lebih dekat dan pembangunan lebih merata, tentu gagasan ini layak dikaji secara serius,” tambahnya.
Selain pemekaran, masyarakat menyampaikan persoalan BPJS, pendidikan, infrastruktur, UMKM dan pariwisata.
Seluruh aspirasi akan diinventarisasi dan dikawal melalui fungsi penganggaran, legislasi dan pengawasan DPRD.
HSG menegaskan, aktivasi struktur NasDem hingga RW diharapkan membuat komunikasi dengan masyarakat berjalan terus, tidak hanya menjelang pemilu.
“Struktur di RW harus menjadi mata dan telinga kita. Aspirasi dari bawah kita dengarkan, kita petakan, lalu kita perjuangkan. Reses bukan seremonial, tetapi harus menghasilkan kerja nyata untuk masyarakat,” tandasnya. (Agus)


Tinggalkan Balasan