Disdikbud Kuningan Libatkan Mahasiswa KKN Tekan Anak Putus Sekolah
KUNINGAN, (FC).- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan menggandeng mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Al-Ihya (UNISA) Kuningan untuk membantu menekan angka anak putus sekolah.
Mahasiswa diminta turun langsung ke desa melakukan pendataan terhadap anak usia sekolah yang belum mengakses pendidikan.
Ajakan tersebut disampaikan Kepala Disdikbud Kabupaten Kuningan, Dr. Carlan, saat memberikan pembekalan sekaligus melepas peserta KKN UNISA di Kampus UNISA, Kelurahan Cigugur, Kamis (30/7).
Carlan mengungkapkan, persoalan anak tidak sekolah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Berdasarkan data Disdikbud, terdapat sekitar 10 ribu anak usia 7 hingga 18 tahun di Kabupaten Kuningan yang belum mengikuti pendidikan.
“Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama. Padahal, Kuningan memiliki layanan pendidikan formal maupun nonformal, baik melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang tersebar di berbagai wilayah,” ujarnya.
Ia menyebutkan, kondisi tersebut menempatkan Kabupaten Kuningan berada di peringkat ke-18 di Jawa Barat dalam jumlah anak tidak sekolah atau putus sekolah.
Untuk mempercepat penanganan, Disdikbud meminta mahasiswa KKN menjadi mitra pemerintah dalam melakukan pemetaan persoalan pendidikan hingga tingkat desa.
“Manfaatkan KKN ini untuk mendata anak usia sekolah yang belum bersekolah, cari penyebabnya, lalu sampaikan kepada pemerintah. Data tersebut akan menjadi dasar penyelesaian persoalan pendidikan di Kabupaten Kuningan,” kata Carlan.
Menurutnya, penyebab anak tidak bersekolah perlu diketahui secara rinci, apakah berkaitan dengan faktor ekonomi, lingkungan keluarga, akses pendidikan, maupun persoalan sosial lainnya. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat menyusun program intervensi yang lebih tepat sasaran.
Selain persoalan pendidikan, mahasiswa KKN juga diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam mendukung berbagai program strategis, seperti percepatan penurunan angka stunting dan pemberdayaan pelaku usaha mikro di wilayah pedesaan.
Carlan menilai, mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan karena mampu memberikan edukasi sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan bagi masa depan anak.
Ia juga berpesan agar mahasiswa menjaga nama baik almamater, membangun komunikasi positif dengan masyarakat, serta menjalin kerja sama dengan pemerintah desa selama menjalankan program pengabdian.
Melalui kolaborasi tersebut, Disdikbud Kuningan berharap persoalan anak putus sekolah dapat terpetakan secara menyeluruh hingga tingkat desa, sehingga kebijakan pendidikan yang disusun pemerintah dapat lebih efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (Angga)



Tinggalkan Balasan