Pemkab Majalengka Luncurkan Program Satu Desa Satu Sarjana
MAJALENGKA, (FC).— Pemerintah Kabupaten Majalengka memperluas program Satu Desa Satu Sarjana dengan konsep baru, tidak sekadar mengantarkan anak dari keluarga kurang mampu ke perguruan tinggi, tetapi juga menyiapkan mereka untuk kuliah sekaligus bekerja di Jepang.
Sebanyak 100 mahasiswa penerima beasiswa menjadi peserta tahap awal program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja yang diluncurkan Bupati Majalengka Eman Suherman di SMK PUI Majalengka, Jumat (9/10). Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemkab Majalengka dengan Universitas Teknologi Bandung (UTB).
Para peserta yang berasal dari keluarga kurang mampu, terutama kelompok Desil 1–4, akan menjalani pendidikan dan pelatihan intensif selama enam bulan sebelum dipersiapkan berangkat ke Jepang.
Tak hanya pembelajaran akademik, mereka akan dibekali kemampuan bahasa Jepang, penguatan mental, kedisiplinan, serta keterampilan kerja. Bekal tersebut disiapkan agar para peserta mampu mengikuti pendidikan sekaligus beradaptasi dengan lingkungan kerja di Jepang.
Bupati Majalengka H. Eman Suherman mengatakan, pengembangan program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menurut Eman, tantangan pendidikan di Majalengka masih cukup besar. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) masyarakat Majalengka saat ini berada di angka 7,81 tahun atau masih setara dengan jenjang SMP kelas satu.
Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Majalengka berada di angka 72,37.
“Ini menjadi tantangan kita bersama. Karena itu, pendidikan harus menjadi salah satu prioritas. Kita ingin anak-anak Majalengka, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu, memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” ujar Eman.
Ia mengatakan, program Satu Desa Satu Sarjana menjadi salah satu bentuk komitmen Pemkab Majalengka agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak daerah untuk mengenyam pendidikan tinggi.
Dalam lima tahun masa kepemimpinannya, Pemkab Majalengka menargetkan sedikitnya 343 sarjana lahir dari 334 desa dan kelurahan melalui program tersebut.
“Target kita minimal ada sarjana dari setiap desa dan kelurahan. Sampai tahun 2026, baru ada 170 sarjana. Ini adalah bagian dari komitmen kita agar anak-anak Majalengka mempunyai kesempatan untuk kuliah, terutama mereka yang secara ekonomi memang membutuhkan dukungan,” katanya.
Namun, konsep yang diluncurkan tahun ini memiliki perbedaan dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Jika sebelumnya program lebih berfokus pada pemberian kesempatan untuk melanjutkan kuliah, kini peserta juga diarahkan memperoleh pengalaman kerja internasional.
Menurut Eman, pola kuliah sambil bekerja di Jepang diharapkan membuat para penerima beasiswa tidak hanya pulang dengan ijazah, tetapi juga membawa pengalaman, keterampilan, dan bekal ekonomi.
“Kita tidak ingin anak-anak hanya mendapatkan ijazah. Mereka juga harus memiliki keterampilan dan pengalaman kerja. Dengan kuliah sambil bekerja di Jepang, mudah-mudahan ketika pulang ke Majalengka mereka sudah mempunyai ilmu, pengalaman, dan bekal ekonomi,” jelasnya.
Untuk mendukung keberangkatan peserta, Pemkab Majalengka juga berupaya menyiapkan skema pembiayaan bersama pihak perbankan. Langkah tersebut ditujukan agar keluarga peserta tidak harus menanggung biaya besar secara mandiri.
“Kita berusaha agar orang tua tidak terbebani. Pemerintah daerah bersama pihak terkait akan memfasilitasi kebutuhan keberangkatan melalui skema yang sudah disiapkan,” ungkap Eman.
Di hadapan para penerima beasiswa, Eman meminta seluruh peserta menjalani masa pelatihan enam bulan secara serius. Bahasa Jepang, kesiapan mental, kedisiplinan, dan keterampilan kerja menjadi bekal penting sebelum mereka berangkat ke Jepang.
“Jangan mudah menyerah. Jangan mundur di tengah jalan. Ini kesempatan emas yang belum tentu datang dua kali. Manfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh untuk masa depan kalian dan keluarga,” pesan Bupati.
Rektor Universitas Teknologi Bandung (UTB), Muhammad Nasir, mengapresiasi komitmen Pemkab Majalengka yang menjadikan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas pembangunan.
Menurutnya, kolaborasi tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja internasional.
“Kami sangat mengapresiasi visi dan komitmen Pemkab Majalengka dalam meningkatkan kualitas SDM daerah. Melalui program kolaborasi ini, para mahasiswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik hingga meraih gelar sarjana, tetapi juga dibekali keterampilan bahasa serta pengalaman kerja internasional di Jepang,” kata Muhammad Nasir.
UTB, kata dia, akan mendampingi para peserta secara intensif selama enam bulan masa persiapan. Pendampingan meliputi kesiapan mental, kemampuan bahasa, kompetensi, dan berbagai keterampilan yang dibutuhkan sebelum peserta menjalani pendidikan dan pekerjaan di Jepang.
“Kami berkomitmen mendampingi dan mendidik para mahasiswa selama enam bulan pelatihan ini agar mereka siap secara mental, bahasa, dan kompetensi sebelum diberangkatkan,” ujarnya.
Bagi para penerima beasiswa, kesempatan tersebut menjadi peluang untuk mengubah keterbatasan ekonomi menjadi jalan menuju pendidikan dan pengalaman baru.
Rita, salah seorang penerima beasiswa asal Kecamatan Sindangwangi, mengaku bersyukur mendapat kesempatan mengikuti program tersebut. Ia menilai kesempatan kuliah sekaligus bekerja di Jepang merupakan peluang berharga bagi dirinya dan peserta lainnya.
“Saya sangat bersyukur dan tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan emas ini. Bagi kami yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, bisa kuliah saja sudah menjadi impian besar, apalagi mendapatkan kesempatan untuk belajar dan bekerja di Jepang,” tuturnya.
Rita memastikan dirinya bersama peserta lain akan mengikuti seluruh tahapan pelatihan dengan sungguh-sungguh.
“Kami akan belajar dengan tekun dan fokus selama enam bulan pelatihan ini. Kami tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan dari pemerintah dan doa orang tua,” katanya.
Melalui program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja, Pemkab Majalengka berharap akses pendidikan tinggi bagi keluarga kurang mampu semakin terbuka.
Program ini sekaligus diarahkan untuk mencetak generasi muda yang memiliki kompetensi, pengalaman internasional, dan kemandirian ekonomi. Jika berjalan sesuai target, program tersebut tidak hanya melahirkan sarjana dari desa-desa di Majalengka, tetapi juga sumber daya manusia yang memiliki pengalaman global dan dapat kembali berkontribusi terhadap pembangunan daerah. (Munadi)


Tinggalkan Balasan