BANDUNG, (FC).- Memasuki usia ke-34 tahun, Ina Cookies menghadirkan inovasi berbeda dalam merayakan perjalanan panjangnya sebagai salah satu brand kukis keluarga Indonesia.

Melalui Sayembara Cipta Rasa INA, perusahaan mengajak masyarakat mengeksplorasi kekayaan cita rasa Nusantara dengan mengangkat bahan pangan lokal.

Grand Final Sayembara Cipta Rasa INA digelar di Pabrik Ina Cookies, Bandung, Sabtu (12/9). Kegiatan tersebut menjadi puncak rangkaian Pekan Raya Ina yang telah berlangsung selama tiga bulan. https://inacookies.co.id/

Ketua Pelaksana Sayembara Cipta Rasa INA, Najiha Al Sakinah, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang kreativitas bagi masyarakat sekaligus bagian dari upaya pengembangan produk baru Ina Cookies.

“Roadshow ini untuk memperkenalkan Ina Cookies secara nasional, mulai dari Pulau Jawa hingga luar pulau. Puncaknya ada di Sayembara Cipta Rasa INA,” ujar Najiha.

Menurutnya, konsep kompetisi tersebut selaras dengan visi Ina Cookies yang ingin mengangkat bahan baku tradisional Indonesia sebagai bagian dari inovasi produk.

“INA sendiri merupakan singkatan dari Indonesia, sehingga kami ingin mengangkat bahan baku lokal tradisional Indonesia,” katanya.

Dalam proses seleksi, peserta terlebih dahulu mengirimkan ide melalui video sebelum mengikuti babak final. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari chef profesional, pelaku UMKM, hingga home baker dari sejumlah daerah di Indonesia.

Najiha menjelaskan, resep hasil kompetisi tidak langsung digunakan sebagai produk komersial. Setiap ide masih akan melalui proses pengembangan dan penyesuaian oleh tim Research and Development (R&D) Ina Cookies.

“Resep peserta murni untuk kompetisi. Namun, nanti bisa disesuaikan dengan resep yang kami miliki untuk pengembangan produk baru,” jelasnya.

Perwakilan juri Ina Cookies, Voula Nur Rahmaniar, mengatakan Sayembara Cipta Rasa INA menjadi salah satu rangkaian utama dalam perayaan ulang tahun ke-34 Ina Cookies.

Sebelumnya, Ina Cookies menggelar roadshow ke berbagai daerah, seperti Cirebon, Gresik, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Bandung, Jakarta hingga Bogor.

“Selama tiga bulan kami roadshow mengajarkan pembuatan kue kering, salah satunya produk best seller kami, Choco Cheese Almond,” ujar Voula.

Menurutnya, kreativitas peserta dalam menghadirkan kreasi berbahan lokal cukup beragam. Bahkan, beberapa peserta menghadirkan ide yang tidak biasa, seperti penggunaan bahan lele hingga andaliman dalam produk kukis.

“Unik. Ada yang mencoba kue kering berbahan lele, ada juga andaliman, dan banyak bahan lokal lainnya,” katanya.

Dalam penilaian, juri tidak hanya melihat konsep atau nama produk, tetapi juga mempertimbangkan rasa dan tampilan hasil kreasi peserta.

“Penilaiannya bukan hanya dari ide dan cerita di balik produk, tetapi juga dari rasa serta tampilan,” jelas Voula.

Menariknya, peserta final baru mengetahui bahan utama yang menjadi tantangan saat hari pelaksanaan. Pada babak final, peserta diwajibkan memasukkan unsur kelapa dalam kreasi mereka.

Pemilihan kelapa tersebut bukan tanpa alasan. Bahan tersebut dinilai memiliki keterkaitan kuat dengan cita rasa khas Indonesia serta menjadi bagian dari arah pengembangan produk baru Ina Cookies.

“Cita rasa Indonesia itu salah satunya ada di kelapa,” ujar Voula.

Dari tiga pemenang yang akan ditetapkan, hanya kreasi juara pertama yang berpeluang dikembangkan menjadi produk baru Ina Cookies. Namun, proses tersebut tetap harus melalui tahapan kurasi dan pengembangan oleh tim R&D.

Melalui Sayembara Cipta Rasa INA, Ina Cookies ingin menunjukkan bahwa bahan pangan tradisional Indonesia memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk modern yang inovatif tanpa meninggalkan cita rasa khas Nusantara.

Perayaan 34 tahun Ina Cookies pun tidak hanya menjadi momentum mempertahankan produk yang telah dikenal masyarakat, tetapi juga menjadi langkah membuka ruang kreativitas bagi masyarakat dan pelaku usaha kuliner dalam menghadirkan inovasi berbasis bahan lokal. (Ghofar)