KAB.CIREBON, (FC).- Ruas jalan poros Desa Ambulu–Kalirahayu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, kini mengalami perubahan besar.

Jalan yang sebelumnya rusak parah hingga sempat terputus akibat abrasi dan banjir rob, kini menjelma menjadi kawasan favorit warga untuk beraktivitas dan rekreasi.

Masyarakat setempat menyebutnya sebagai “Jalan Rindu”. Setiap sore, kawasan tersebut ramai dikunjungi warga yang memanfaatkan jalan tersebut untuk berolahraga, berjalan santai, menikmati wisata perahu hingga berburu kuliner.

Kuwu Ambulu Sunaji, mengatakan peningkatan infrastruktur jalan tersebut tidak hanya memperlancar akses transportasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Sekarang Jalan Rindu bukan hanya menjadi akses penghubung, tetapi juga berkembang menjadi tempat rekreasi masyarakat,” ujar Sunaji, Minggu (6/9).

Menurutnya, perubahan tersebut merupakan hasil dari proses panjang. Pada 2019, ruas jalan Ambulu–Kalirahayu pernah dilakukan pengaspalan.

Namun, kondisi jalan kembali rusak akibat tingginya aktivitas kendaraan berat pengangkut hasil produksi garam.

“Aktivitas truk pengangkut garam cukup tinggi sehingga jalan yang sudah diaspal kembali mengalami kerusakan,” jelasnya.

Perbaikan kembali dilakukan pada 2022 melalui peningkatan jalan dengan konstruksi beton.

Namun, pembangunan yang belum menyeluruh membuat sebagian ruas masih mengalami persoalan hingga akhirnya rusak dan terputus akibat abrasi serta banjir rob.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Desa Ambulu kemudian berupaya mendorong perhatian pemerintah daerah melalui berbagai langkah perencanaan.

Salah satunya dengan mengembangkan tanah kas desa atau titisara menjadi Kawasan Industri Garam (KIG) menggunakan Dana Desa Tahun 2024.

Pengembangan tersebut dinilai dapat memperkuat potensi ekonomi desa sekaligus menjadi alasan pentingnya dukungan infrastruktur.

“Kami berusaha menunjukkan bahwa Ambulu memiliki potensi yang layak dikembangkan dan membutuhkan dukungan infrastruktur,” katanya.

Upaya tersebut dilanjutkan melalui koordinasi dengan sejumlah instansi. Bersama Kuwu Kalisari Mashuri, Pemerintah Desa Ambulu melakukan komunikasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Cirebon pada Januari 2025.

Dari hasil koordinasi tersebut, pemerintah desa diarahkan untuk memasukkan kebutuhan peningkatan jalan melalui perencanaan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida).

“Dari koordinasi itu kami mendapatkan arahan agar usulan jalan dikawal melalui perencanaan Baperida,” ungkap Sunaji.

Usulan peningkatan Jalan Ambulu–Kalirahayu kemudian masuk dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Losari pada Februari 2025 sebagai salah satu prioritas melalui Pagu Indikatif Kecamatan (PIK).

Sunaji menjelaskan, realisasi pembangunan jalan tersebut merupakan hasil proses perencanaan dan kolaborasi anggaran pemerintah.

Anggaran PIK sekitar Rp400 juta kemudian dikolaborasikan dengan Pagu Indikatif Sektoral (PIS).

“Ini merupakan hasil dari proses perencanaan dan kolaborasi anggaran, bukan jasa orang per orang,” tegasnya.

Setelah melalui tahapan perencanaan, pada Januari 2026 Pemerintah Desa Ambulu mendapat informasi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Cirebon terkait rencana realisasi peningkatan jalan pada semester pertama 2026.

Kini, wajah Jalan Ambulu–Kalirahayu berubah. Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai jalur rusak, kini menjadi ruang publik baru bagi masyarakat.

Aktivitas ekonomi kecil, wisata perahu, olahraga, dan kuliner mulai tumbuh seiring membaiknya akses jalan.

“Kami berharap infrastruktur yang sudah dibangun ini dapat dijaga bersama dan menjadi penggerak ekonomi masyarakat Desa Ambulu,” pungkas Sunaji. (Nawawi)