KUNINGAN, (FC).- Akses pendidikan perguruan tinggi di Kabupaten Kuningan semakin terbuka. Institut Agama Islam (IAI) Al Ikhlas Kuningan resmi diperkenalkan melalui grand launching yang digelar di Aula Utama Kampus IAI Al Ikhlas Kuningan, Desa Ciawilor, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Rabu (2/9).

Kehadiran IAI Al Ikhlas membawa misi memperluas kesempatan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dengan biaya yang lebih terjangkau.

Rektor IAI Al Ikhlas Kuningan, Dr. K.H. Muhammad Tata Taufik, M.Ag., mengatakan keberadaan perguruan tinggi di daerah sangat penting mengingat daya tampung perguruan tinggi negeri belum mampu mengakomodasi seluruh calon mahasiswa.

“Kita tahu jumlah Perguruan Tinggi Negeri itu tidak mampu menampung kandidat mahasiswa. Saya membaca hanya sekitar 7 persen dari jumlah itu,” kata Muhammad Tata Taufik usai kegiatan.

Menurutnya, keterbatasan daya tampung tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi swasta untuk membuka akses pendidikan tinggi yang lebih luas, termasuk bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan.

Ia meyakini semakin banyak masyarakat yang memperoleh pendidikan tinggi, semakin besar pula peluang suatu daerah untuk berkembang.

“Semakin banyak orang yang melek di satu wilayah, saya punya keyakinan bahwa itu akan membuat wilayah itu bergerak,” ujarnya.

IAI Al Ikhlas Kuningan hadir dengan empat program studi yang disiapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Keempatnya yakni Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Inggris, serta Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Program Studi Manajemen Pendidikan Islam akan dikembangkan dengan konsentrasi pada pesantren. Sementara Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Inggris diarahkan pada bidang keguruan. Adapun Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir disiapkan sebagai bagian dari pengembangan keulamaan yang memiliki kesinambungan dengan pendidikan pesantren.

“Kita punya Manajemen Pendidikan Islam, kita akan konsentrasi ke pesantren. Kemudian Pendidikan Agama Islam untuk keguruan, Pendidikan Bahasa Inggris juga untuk keguruan, dan kita siapkan Al-Qur’an dan Tafsir untuk keulamaan,” jelasnya.

Menurut Muhammad Tata Taufik, pendirian IAI Al Ikhlas juga ditopang pengalaman lembaga pendidikan pesantren yang selama ini telah melahirkan lebih dari 1.000 lulusan.

Pihaknya bahkan telah melakukan tracking terhadap para alumni. Hasilnya, sekitar 80 persen alumni mengaku bekal yang diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren berperan dalam kehidupan mereka saat ini.

“80 persen mereka merasa bahwa bekal-bekal selama hidup mereka sekarang adalah produk dari pengalaman mereka di pondok,” ungkapnya.

Ia menyebut kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan atau self-resilience dan endurance menjadi salah satu bekal penting yang diperoleh para alumni selama berada di lingkungan pesantren.

Selain menawarkan pendidikan tinggi, IAI Al Ikhlas juga membawa komitmen sosial agar akses pendidikan tidak hanya dinikmati masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih.

Muhammad Tata Taufik mengatakan pihaknya menyediakan program pendidikan gratis bagi masyarakat di wilayah Desa Ciawilor, khususnya di lingkungan pesantren.

“Untuk wilayah Desa Ciawilor ini, di pesantren ini, gratis. Itu sebagai social responsibility lembaga kita terhadap masyarakat,” tuturnya.

Ia menegaskan, keberpihakan kepada masyarakat menjadi bagian dari tujuan pendirian IAI Al Ikhlas. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat.

“Kita pro-poor, kita lebih memihak kepada masyarakat. Karena tujuan pendidikan dan pendirian sebuah lembaga bagi kami memang untuk membangun masyarakat,” tegasnya.

Seiring grand launching tersebut, proses penerimaan mahasiswa baru IAI Al Ikhlas Kuningan juga telah mulai dihimpun.

Dengan empat program studi yang dimiliki, IAI Al Ikhlas berharap kehadirannya dapat menjadi pilihan baru bagi masyarakat Kuningan untuk memperoleh pendidikan tinggi berbasis keislaman yang berkualitas, mudah diakses, dan tetap terjangkau.
(Angga)