KUNINGAN, (FC).- Sebanyak 160 warga Kabupaten Kuningan dari kelompok rentan mendapatkan bantuan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI. Total bantuan yang disalurkan mencapai lebih dari Rp383 juta.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 38 Kuningan, Jalan Pramuka Gang Tunas III, Kelurahan Purwawinangun, Kamis (27/8).

Program ATENSI tersebut disalurkan melalui Sentra Phalamartha Sukabumi Kemensos RI. Penerima manfaat berasal dari berbagai kelompok rentan, mulai dari lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, hingga keluarga peserta didik Sekolah Rakyat.

Kepala Sentra Phalamartha Sukabumi Kemensos RI, Febraldi, mengatakan program ATENSI merupakan bentuk kepedulian pemerintah dalam meningkatkan keberfungsian sosial dan kemandirian masyarakat yang membutuhkan.

“Bantuan ini merupakan program Kementerian Sosial untuk lansia, penyandang disabilitas, anak-anak terlantar, korban penyalahgunaan napza dan kelompok lainnya,” ujar Febraldi.

Menurutnya, bantuan yang diterima masyarakat diharapkan tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sesaat, tetapi dapat menjadi modal untuk meningkatkan taraf hidup, terutama bagi penerima bantuan usaha.

“Bagi yang mendapatkan bantuan usaha, tolong dijaga dan dikembangkan agar bisa berkelanjutan sehingga dapat menambah penghasilan keluarga,” katanya.

Selain penyaluran bantuan, Febraldi juga mendorong adanya peningkatan akses layanan terapi bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Kuningan.

Ia menilai masih terdapat warga penyandang disabilitas yang membutuhkan layanan terapi dengan jangkauan lebih mudah.

Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengapresiasi perhatian pemerintah pusat melalui Kemensos yang memberikan dukungan bagi masyarakat Kuningan.

Menurut Dian, bantuan ATENSI menjadi bukti hadirnya pemerintah dalam membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan ekonomi maupun persoalan sosial.

“Ini membuktikan pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat. Ketika ada warga yang mengalami kesulitan, baik lansia, penyandang disabilitas maupun keluarga peserta didik Sekolah Rakyat, pemerintah hadir memberikan bantuan,” tuturnya.

Ia berharap bantuan tersebut mampu menjadi pijakan bagi penerima manfaat untuk hidup lebih mandiri. Bantuan bagi penyandang disabilitas diharapkan dapat mendukung aktivitas dan produktivitas, sementara bagi lansia dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar maupun mendukung kegiatan usaha.

“Bantuan ini mudah-mudahan memberikan manfaat. Bagi penyandang disabilitas agar bisa hidup lebih mandiri, sedangkan lansia dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan dasar maupun usaha,” ungkap Dian.

Dian menegaskan, pembangunan daerah tidak hanya berbicara mengenai pembangunan infrastruktur, tetapi juga bagaimana menciptakan masyarakat yang berdaya, mandiri, aman dan nyaman.

“Pembangunan bukan hanya membangun jembatan yang kuat atau jalan yang baik, tetapi juga membangun masyarakat agar berdaya, mandiri, aman dan nyaman,” katanya.

Menurut Dian, semangat tersebut juga diwujudkan Pemkab Kuningan melalui program Gema Sadulur atau Gerakan Bersama Ngariksa Kaum Dhuafa, Lanjut Usia, dan Pengangguran.

Ia menilai program tersebut memiliki semangat yang sejalan dengan ATENSI Kemensos dalam memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada masyarakat.

“Gema Sadulur sejalan dengan program ATENSI melalui Sentra Phalamartha Sukabumi. Ini sangat selaras,” ujarnya.

Dian juga mengajak dunia usaha, Baznas, para dermawan serta seluruh elemen masyarakat untuk ikut berkolaborasi membantu kelompok rentan. Menurutnya, keterbatasan kemampuan anggaran daerah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Kuningan akan maju apabila dibangun bersama, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi oleh seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.

Ia memastikan tidak boleh ada masyarakat Kuningan yang tertinggal dan tidak merasakan manfaat pembangunan.

“Tidak boleh ada masyarakat Kuningan yang tertinggal dalam pembangunan. Semua harus merasakan manfaat pembangunan dan nikmatnya kemerdekaan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Dian juga menyinggung keberadaan Sekolah Rakyat yang menjadi wadah pendidikan bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi rentan.

Menurutnya, keterbatasan ekonomi orang tua tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak untuk meraih cita-cita.

“Mimpi menjadi dokter, profesor, tentara, polisi, kiai, camat, bupati, bahkan gubernur adalah hak semua anak. Cita-cita tidak boleh dibatasi karena kondisi ekonomi orang tua,” tuturnya.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 38 Kuningan, Efa Septia Nurida, mengatakan bantuan ATENSI memiliki keterkaitan dengan tujuan Sekolah Rakyat dalam memutus mata rantai kemiskinan.

“Sekolah Rakyat bertujuan mengentaskan dan memutus rantai kemiskinan. Anak-anak mendapatkan pendidikan, sementara orang tuanya melalui bantuan ATENSI dapat menjadi lebih berdaya,” ujarnya.

Dengan adanya bantuan tersebut, pemerintah berharap para penerima manfaat mampu mengoptimalkan dukungan yang diberikan sehingga tidak hanya meringankan beban saat ini, tetapi juga menjadi bekal menuju kehidupan yang lebih mandiri dan berkelanjutan. (Angga)