KKN UNISA dan Nakes Gelar Skrining TBC, Puluhan Warga Bandorasawetan Jalani Pemeriksaan Kesehatan
KUNINGAN, (FC).- Upaya menemukan kasus Tuberkulosis (TBC) sejak dini terus dilakukan hingga tingkat desa.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 01 Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan bersama tenaga kesehatan menggelar skrining TBC melalui metode Active Case Finding (ACF) sekaligus Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi warga Desa Bandorasawetan, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Senin (24/8).
Kegiatan tersebut menyasar sekitar 100 warga dengan melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, Puskesmas Cilimus, Pemerintah Desa Bandorasawetan, serta sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Skrining TBC diprioritaskan bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko, seperti warga yang pernah melakukan kontak erat maupun kontak serumah dengan pasien TBC, penderita Diabetes Melitus (DM), perokok aktif, serta warga yang memiliki riwayat penyakit TBC.
Wasor TBC Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, Sudrajat, dalam kesempatan tersebut memberikan edukasi terkait faktor risiko, gejala, pola penularan, hingga pentingnya pemeriksaan dini.
Menurutnya, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila ditemukan dan ditangani sejak awal. Karena itu, masyarakat yang memiliki faktor risiko diimbau tidak ragu melakukan pemeriksaan.
“TBC dapat disembuhkan apabila ditemukan dan ditangani sejak dini. Masyarakat yang memiliki faktor risiko maupun riwayat kontak dengan pasien TBC sebaiknya segera melakukan pemeriksaan dan tidak perlu takut,” ujar Sudrajat.
Ia menjelaskan, metode ACF menjadi salah satu strategi untuk menemukan kasus TBC secara aktif. Dengan cara tersebut, warga berisiko dapat segera memperoleh pemeriksaan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut.
Sementara itu, dr. Sygih Pratama dari RS Pradipa menyampaikan bahwa keterlibatan pihaknya merupakan bentuk dukungan terhadap program CKG sekaligus memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
“Kami senang bisa berkolaborasi dalam kegiatan CKG ini. Masyarakat yang sudah menjalani pemeriksaan tekanan darah, cek gula dan rontgen dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan EKG untuk mengetahui kondisi awal jantung melalui rekam jantung,” ungkapnya.
Ia berharap sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, puskesmas, dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan dapat terus diperkuat agar manfaat pelayanan kesehatan dapat dirasakan lebih luas.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Bandorasawetan, Yayan Fudiyani. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat langsung karena warga mendapatkan pemeriksaan sekaligus pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena masyarakat mendapatkan pemeriksaan sekaligus edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan. Harapannya, warga semakin sadar untuk melakukan pemeriksaan sejak dini, terutama bagi yang memiliki faktor risiko TBC,” katanya.
Berdasarkan data tahun 2025 dan 2026, tercatat sebanyak 19 warga Desa Bandorasawetan memiliki riwayat TBC. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pelaksanaan skrining agar warga berisiko mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Selain skrining TBC, warga juga memperoleh layanan CKG berupa pemeriksaan tekanan darah, pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan gula darah, rontgen, hingga elektrokardiogram (EKG).
Pemeriksaan rontgen didukung Heru Indra dari RSUD 45 Kuningan. Sedangkan pemeriksaan EKG didukung dr. Sygih Pratama dari RS Pradipa bersama Direktur RS Pradipa, dr. Yolan Sri Widiastuti.
Dari Puskesmas Cilimus turut hadir dr. Asep Yedi Musbar, petugas TBC Tita Puspitasari, serta Bidan Desa Bandorasawetan Riqzi Rianti.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN 01 UNISA turut berperan dalam membantu sosialisasi, pendataan, pendampingan peserta, serta mengajak masyarakat memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan.
Mahasiswa KKN 01 UNISA, Hadi Suseno, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, khususnya dalam mendukung upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat pemeriksaan kesehatan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa deteksi dini sangat penting untuk mencegah penularan dan menangani TBC lebih cepat,” ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, upaya pencegahan dan penanggulangan TBC di Desa Bandorasawetan diharapkan semakin kuat. Edukasi berkelanjutan serta pemeriksaan dini menjadi langkah penting dalam menekan penyebaran penyakit sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. (Angga)


Tinggalkan Balasan