KAB. CIREBON, (FC).- Harapan petani Desa Geyongan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, untuk mendapatkan kembali pasokan air mulai menemukan titik terang.

Setelah tiga tahun menghadapi krisis air akibat kebocoran Embung Geyongan, bantuan pompanisasi dari Kementerian Pertanian akhirnya mulai dipasang, Kamis (6/8).

Bantuan tersebut menjadi solusi sementara untuk menyelamatkan sekitar 65 hektare lahan sawah yang terancam mengalami kekeringan dan gagal panen pada musim tanam kali ini.

Adapun bantuan yang diterima petani berupa satu unit mesin pompa berkapasitas sekitar 7.000 watt serta 375 batang pipa berdiameter enam inci dengan total panjang mencapai 1,5 kilometer.

Peralatan tersebut digunakan untuk mengalirkan air dari Saluran Irigasi Rentang menuju area persawahan Desa Geyongan.

Anggota DPRD Kabupaten Cirebon dari Daerah Pemilihan Cirebon III, H. Abdul Kodir, mengatakan bantuan tersebut merupakan tindak lanjut atas keluhan petani yang selama ini kesulitan mendapatkan air akibat kondisi Embung Geyongan yang tidak berfungsi optimal.

“Kementerian Pertanian langsung merespons dengan memberikan bantuan mesin pompa dan pipa sepanjang 1,5 kilometer untuk mengatasi ancaman gagal panen petani pada musim tanam ini,” ujar Abdul Kodir.

Menurutnya, setelah proses pemasangan selesai, petani akan bersama-sama mengoperasikan pompa agar distribusi air ke lahan pertanian dapat segera berjalan.

“Kami mengapresiasi respons dari Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian, dan Pemerintah Kabupaten Cirebon. Setelah terpasang, petani akan bergotong royong melakukan pemompaan agar kebutuhan air segera terpenuhi,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Forum Tani Desa Geyongan, Duryoto, mengatakan seluruh bantuan telah diterima dan saat ini masih dalam tahap pemasangan jaringan pipa.

Ia menjelaskan, pompa yang diberikan menggunakan teknologi tenaga surya, namun tetap dapat dioperasikan menggunakan jaringan listrik PLN sehingga penggunaannya lebih fleksibel.

“Pompa dan pipa sudah datang. Saat ini sedang dilakukan pemasangan. Ada 375 batang pipa ukuran enam inci dan pompa tenaga surya dengan kapasitas sekitar 7.000 watt yang juga bisa menggunakan listrik,” jelasnya.

Duryoto menyebut, sistem pompanisasi tersebut nantinya akan dibagi menjadi tiga titik distribusi untuk menjangkau wilayah sawah bagian barat, tengah, dan timur Desa Geyongan.

Dengan adanya bantuan tersebut, petani berharap kebutuhan air kembali terpenuhi sehingga produksi padi dapat berjalan normal.

Selain itu, keberadaan pompanisasi juga diharapkan mampu mengurangi beban biaya yang selama ini harus dikeluarkan petani untuk menyewa pompa secara mandiri.

“Selama ini biaya petani cukup besar karena harus menyewa pompa dan membeli bahan bakar sendiri. Mudah-mudahan dengan bantuan ini hasil panen kembali normal dan petani tidak lagi khawatir gagal panen,” ungkapnya.

Meski bantuan pompanisasi menjadi solusi jangka pendek, petani tetap berharap pemerintah segera memperbaiki Embung Geyongan yang mengalami kebocoran selama bertahun-tahun.

Menurut petani, perbaikan embung merupakan solusi permanen agar air hujan dapat kembali ditampung dan dimanfaatkan saat musim kemarau.

Sebelumnya, kebocoran Embung Geyongan membuat sekitar 65 hingga 70 hektare sawah kehilangan sumber irigasi.

Untuk mempertahankan tanaman padi, petani terpaksa memompa air dari Saluran Irigasi Rentang dengan jarak sekitar 1,2 hingga 1,5 kilometer yang membutuhkan biaya besar.

Bahkan, sebagian petani mengaku harus menjual aset hingga berutang untuk memenuhi kebutuhan operasional pompanisasi agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air. (Johan)