Masuk Musim Kemarau, 2 Desa di Cirebon Mulai Alami Krisis Air Bersih
KAB. CIREBON, (FC).- Memasuki musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Cirebon mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan. Hingga saat ini, dua desa telah mengajukan bantuan distribusi air bersih karena mengalami keterbatasan pasokan air.
Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, mengatakan dua desa tersebut yakni Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, dan Desa Sampiran, Kecamatan Talun.
“Kalau berdasarkan data BPBD Kabupaten Cirebon, sampai hari ini ada dua desa yang sudah mengajukan pendistribusian air bersih, yakni Desa Slangit dan Desa Sampiran. Kita juga sudah melakukan distribusi air ke kedua wilayah tersebut,” ujar Syamsul, Selasa (4/8/2026).
Selain distribusi air bersih, BPBD juga melakukan peminjaman tandon air untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di Desa Winduhaji.
Syamsul menjelaskan, berdasarkan pemetaan tiga tahun terakhir, terdapat delapan desa yang masuk dalam wilayah rawan kekurangan air bersih. Wilayah tersebut terus menjadi perhatian dan dilakukan pemantauan secara berkala oleh BPBD.
Namun, sebelum melakukan pendistribusian air, BPBD terlebih dahulu melakukan asesmen melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk memastikan kondisi lapangan, kebutuhan air, serta jumlah masyarakat yang terdampak.
“Kalau ada laporan resmi dari desa maupun kecamatan, tim TRC langsung melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi sebenarnya, kebutuhan air bersih, dan berapa jumlah warga yang terdampak,” jelasnya.
Menurut Syamsul, langkah asesmen dilakukan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan sesuai skala prioritas. Proses mulai dari laporan, asesmen hingga pendistribusian air bersih diupayakan tidak lebih dari satu hari.
Di sisi lain, BPBD juga terus melakukan pemantauan terhadap delapan desa yang selama tiga tahun terakhir tercatat mengalami kekurangan air bersih. Langkah tersebut dilakukan agar penanganan tidak hanya menunggu laporan dari masyarakat.
“Harapannya kita tidak perlu menunggu laporan. Kalau hasil pemantauan menunjukkan membutuhkan suplai air bersih, kita bisa langsung mengirimkan bantuan,” katanya.
Syamsul menambahkan, distribusi air bersih merupakan solusi jangka pendek. Untuk penanganan jangka panjang, Pemkab Cirebon mulai mengusulkan pembangunan sumur bor sebagai sumber air permanen bagi wilayah rawan kekeringan.
Upaya tersebut disampaikan saat BPBD Kabupaten Cirebon berkoordinasi dengan Deputi Kedaruratan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dari hasil koordinasi tersebut, Kabupaten Cirebon mengusulkan pembangunan 10 titik sumur bor dan bantuan mobil tangki air.
“Kita mengusulkan 10 titik pembuatan sumur dalam. Harapannya wilayah yang menjadi prioritas bisa tertangani sehingga dua sampai tiga tahun ke depan tidak lagi mengalami kekurangan air bersih,” ungkapnya.
Syamsul menyebut, sebelumnya lima titik sumur bor yang dibangun di sejumlah wilayah seperti Cupang, Walahar, Kamarang, Beber, dan Greged telah berfungsi dan mampu mengatasi persoalan kekurangan air bersih di wilayah tersebut.
Saat ini, usulan pembangunan 10 sumur bor tambahan masih dalam proses pengajuan dan diharapkan dapat direalisasikan pada tahun berjalan. (Ghofar)


Tinggalkan Balasan