KAB.CIREBON, (FC).- Produktivitas padi di Desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, menunjukkan hasil menggembirakan.

Pada Panen Raya Musim Tanam (MT) II di Blok Sibakung, Senin (3/8), hasil panen mencapai 8 hingga 10 ton gabah per hektare.

Capaian tersebut dinilai menjadi salah satu bukti keberhasilan penerapan budidaya pertanian yang baik sekaligus dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam meningkatkan produktivitas tanaman pangan.

Panen raya tersebut digelar di lahan seluas sekitar 30 hektare dan dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Deny Nurcahya, unsur Forkopimcam Astanajapura, pemerintah desa, serta kelompok tani setempat.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deny Nurcahya, mengatakan produktivitas padi di Desa Kanci tergolong tinggi dibandingkan sejumlah wilayah lainnya.

“Produktivitas di Desa Kanci sangat baik, mencapai 8 sampai 10 ton per hektare. Ini bisa menjadi contoh bagi petani di daerah lain dalam menerapkan budidaya pertanian yang efektif,” ujarnya.

Menurut Deny, keberhasilan tersebut tidak hanya dipengaruhi penggunaan benih unggul, tetapi juga ditentukan oleh pengelolaan budidaya secara menyeluruh. Mulai dari pengolahan lahan, pemupukan berimbang, hingga pengendalian gulma sebelum masa tanam.

“Keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh benih, tetapi juga bagaimana pengelolaan lahan dan pemupukan dilakukan secara optimal,” katanya.

Meski mampu menghasilkan panen tinggi, Deny menyebut masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait ketersediaan air untuk musim tanam berikutnya.

Berdasarkan hasil dialog bersama kelompok tani, kebutuhan sumber air tambahan menjadi salah satu prioritas agar produktivitas tetap terjaga, khususnya menghadapi musim tanam ketiga (MT III).

“Solusinya perlu dibangun satu hingga dua sumur bor dalam agar kebutuhan air saat musim tanam berikutnya dapat terpenuhi,” jelasnya.

Deny menyampaikan, luas areal tanam padi di Kabupaten Cirebon saat ini mencapai sekitar 35 ribu hektare.

Namun, tingkat produktivitas masih berbeda antarwilayah sehingga diperlukan upaya peningkatan melalui penerapan teknologi pertanian modern.

Salah satu program yang terus didorong Dinas Pertanian adalah penerapan sistem tanam benih langsung (Tabela).

Metode tersebut merupakan bagian dari modernisasi pertanian yang dikembangkan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

“Kami terus mendorong petani menerapkan sistem pertanian modern agar hasil panen semakin meningkat dan mampu mencapai target produktivitas hingga 10 ton per hektare,” tambahnya.

Sementara itu, Kuwu Desa Kanci menjelaskan, lahan bengkok desa yang sebelumnya digunakan untuk tanaman tebu sejak 2023 kini dialihkan menjadi lahan padi. Kebijakan tersebut dilakukan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

“Dulu hasilnya hanya dinikmati kelompok tertentu. Sekarang lahan ditanami padi sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak masyarakat Desa Kanci,” ungkapnya.

Saat ini terdapat sekitar 35 penggarap lahan pertanian di Desa Kanci, termasuk 13 petani yang mengelola lahan di Blok Sibakung. Pengelolaan dilakukan melalui sistem sewa lahan milik desa.

Di sisi lain, perwakilan petani Suratman mengatakan masih terdapat sejumlah kendala yang dihadapi petani, terutama persoalan pasokan air dan keterbatasan alat mesin pertanian.

“Harapan kami kebutuhan air bisa terpenuhi dan pemerintah membantu pengadaan mesin tanam agar pekerjaan petani lebih mudah,” tuturnya.

Ia menjelaskan, selama ini petani masih mengandalkan pompa dari aliran sungai untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah. Usulan pembangunan sumur bor telah diajukan, namun hingga kini belum terealisasi.

Dengan hasil panen yang mencapai 10 ton per hektare, Desa Kanci diharapkan mampu menjadi salah satu wilayah percontohan dalam peningkatan produktivitas padi sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan di Kabupaten Cirebon. (Nawawi)