KAB.CIREBON, (FC).- Program peternakan ayam petelur yang dikembangkan BUMDes Jaya Sakti Desa Gumulung Tonggoh, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, mulai menunjukkan hasil.

Memasuki usia produksi, sebagian ayam peliharaan mulai bertelur dengan capaian produksi mencapai 26 kilogram per hari.

Kuwu Gumulung Tonggoh, Agus Saefudin, mengatakan saat ini sekitar 60 persen dari total populasi ayam telah memasuki masa produktif.

Meski produksi masih terbatas, hasil panen telur sudah mulai dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah ayam sudah mulai bertelur. Saat ini sekitar 60 persen dari populasi ayam yang ada sudah masuk masa produksi,” ujar Agus, Kamis (23/7).

Menurutnya, pemasaran telur untuk sementara masih dilakukan secara langsung dari lokasi peternakan.

Warga maupun pembeli dapat datang langsung membeli telur dengan harga yang relatif terjangkau, yakni berkisar Rp24 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Tingginya minat masyarakat membuat produksi telur yang dihasilkan belum mampu memenuhi seluruh permintaan.

Bahkan sejumlah pelaku usaha makanan di Desa Gumulung Tonggoh, terutama pedagang siomay, mulai mengambil pasokan telur dari peternakan BUMDes tersebut.

“Produksi saat ini masih belum mencukupi kebutuhan warga. Banyak masyarakat yang datang membeli, termasuk pedagang siomay yang membutuhkan pasokan telur setiap hari. Karena kebutuhan dalam desa saja belum terpenuhi, sementara ini belum bisa dipasarkan ke luar desa,” jelasnya.

Agus menyebutkan, populasi ayam petelur yang dikelola BUMDes Jaya Sakti saat ini baru mencapai 1.000 ekor.

Ke depan, jumlah tersebut akan terus dikembangkan hingga mencapai 3.000 ekor agar produksi meningkat dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Dari sisi operasional, kebutuhan pakan ayam masih berjalan lancar dengan pasokan yang didatangkan secara rutin setiap pekan.

Namun, kondisi cuaca panas selama musim kemarau menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pengelola peternakan.

“Cuaca panas menjadi kendala utama saat ini karena berpengaruh terhadap kondisi ayam. Untuk mengatasinya, kami memasang atap alderon agar suhu kandang lebih stabil. Ke depan kami juga berencana memasang kipas atau blower,” katanya.

Agus berharap, pengembangan peternakan ayam petelur tersebut dapat menjadi salah satu unit usaha unggulan BUMDes Jaya Sakti yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendukung ketersediaan pangan di tingkat desa.

“Kami berharap usaha ini terus berkembang dan nantinya mampu memenuhi kebutuhan telur masyarakat, bahkan membuka peluang ekonomi baru bagi warga,” pungkasnya. (Nawawi)