KAB.CIREBON, (FC).- Aktivitas pengunjung di Kawasan Pusat Kuliner dan Pasar Batik Trusmi, Desa Weru Kidul, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, kembali meredup.

Kondisi kawasan tersebut kini terkesan sepi, kurang terawat, bahkan memprihatinkan. Akibatnya, sebagian pedagang memilih tidak berjualan guna menghindari kerugian yang terus berulang.

Pantauan FC di lokasi menunjukkan area depan sebelum memasuki kawasan panggung utama (yang sebelumnya kerap menjadi pusat kegiatan dan event) kini tampak terbengkalai.

Lapak pedagang kaki lima yang dulu berjajar menawarkan beragam kuliner, kini ditinggalkan dan mulai ditumbuhi rumput liar.

Salah seorang pedagang di area dalam pusat kuliner dan Pasar Batik Trusmi, Yogi, mengungkapkan bahwa banyak fasilitas bangunan yang mengalami kerusakan namun belum juga dibenahi.

Meski kios disediakan secara gratis, risiko sepinya pembeli membuat pedagang enggan bertahan.

“Banyak yang rusak, seperti atap bocor, bagian belakang bangunan, sampai gapura depan juga rusak dan ditumbuhi rumput liar. Kios memang gratis, tapi untuk listrik dan kebersihan tetap ada iuran yang dikelola DKM masjid,” ujar Yogi, Sabtu (31/1).

Ia menjelaskan, pengelolaan pedagang di dalam kawasan merupakan kewenangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin), sementara perizinan, iuran listrik, dan kebersihan dikelola oleh DKM Masjid Pasar Batik.

Selain persoalan fasilitas, Yogi menilai sepinya pengunjung juga dipicu masih maraknya pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sepanjang Jalan Fatahillah. Kondisi tersebut membuat pengunjung enggan masuk ke area pusat kuliner dan pasar batik.

“Dari sekitar 50 pedagang di dalam, sekarang tinggal sekitar 12 pedagang. Sementara pedagang di luar, sepanjang Jalan H Abas sampai gapura pintu masuk, awalnya sekitar 206 pedagang, kini tersisa sekitar 112 pedagang,” jelasnya.

Ia berharap para pedagang dapat kembali berjualan di lokasi semula, yakni di Jalan Syekh Datul Kahfi, agar aktivitas PKL tidak terpusat di Jalan Fatahillah.

“Di Jalan Fatahillah masih ada aktivitas PKL dari pagi sampai pagi lagi. Akhirnya pengunjung, khususnya kuliner, terpecah dan malas masuk ke dalam kawasan kuliner dan pasar batik,” katanya.

Yogi juga menyoroti minimnya promosi dari pemerintah daerah sebagai salah satu penyebab kawasan tersebut kehilangan daya tarik.

“Sepinya mungkin juga karena kurang promosi dari pemda. Tidak seperti dulu yang hampir setiap minggu ada acara,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan dinas terkait dapat memberikan perhatian lebih terhadap Kawasan Pusat Kuliner dan Pasar Batik Trusmi, baik dari sisi perbaikan fasilitas maupun promosi kegiatan.

“Harapannya ada perhatian dari dinas, terutama soal promosi, supaya kawasan ini bisa hidup lagi seperti dulu,” pungkasnya. (Johan)