Bahan Baku Gabah Langka, Pabrik Penggilingan Beras di Gegesik Tutup Produksi
KAB.CIREBON, (FC).- Sejumlah perusahan penggilingan padi di Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon terpaksa mendatangkan gabah dari luar daerah. Kondisi ini terjadi akibat pasokan gabah lokal yang semakin langka dan kualitasnya dinilai menurun.
Hal tersebut membuat biaya produksi membengkak. Sebagian penggilingan bahkan memilih untuk berhenti beroperasi.
Di Desa Gegesik Kidul, salah satu pemilik penggilingan padi, Arjo sedang sibuk membongkar muatan gabah basah yang baru tiba dari Purwodadi dan Demak, Jawa Tengah.
Ia mengaku pengambilan gabah dari luar kota menjadi solusi di tengah sulitnya memperoleh bahan baku berkualitas dari wilayah sendiri.
“Ya, saat ini sedang ada bongkaran pengiriman gabah basah yang saya beli dari Purwodadi dan Demak,” ujar Arjo, Sabtu (26/7).
Menurutnya, gabah dari wilayah Cirebon sulit didapat dan jika pun ada, kualitasnya sangat buruk tidak sesuai dengan kebutuhan pasar dan harganya naik drastis.
“Kalau dari Cirebon itu gabahnya berebut, kondisinya juga kurang bagus gabah jenis IR 32 atau kebo borang itu kurang enak nasinya, jadi pasaran juga kurang bagus, kita nyari padi yang IR, biar enak dimakannya, terus kualitasnya juga bagus,” ucapnya.
Ia mengungkapkan, bahwa dalam dua bulan terakhir, harga gabah terus melonjak. Gabah basah kini bisa dibeli hingga Rp7.750 per kilogram, belum termasuk ongkos angkut yang mencapai Rp2,2 juta per muatan.
“Biasanya harga gabah basah itu Rp5.600 sampai Rp6.000 per kilo, sekarang bisa sampai Rp8.000-an kalau sama ongkosnya. Ya pasti ngeluh dengan kondisi kaya gini,” keluh dia.
Arjo juga menyoroti ketatnya persaingan di lapangan, yang membuat penggilingan kecil seperti miliknya makin sulit bersaing. “Barang juga sekarang susah, berebut. Berebutnya dengan siapa kita enggak tahu, mungkin sama perusahaan besar. Yang jelas kami di lapangan kesulitan barang,” katanya.
Dalam sehari, penggilingan miliknya bisa memproduksi 10 ton beras, namun kenaikan biaya bahan baku menekan margin keuntungan. Ia juga membantah adanya praktik pengoplosan beras yang kerap dikaitkan dengan penggilingan.
“Kalau soal beras oplosan, kami tidak pernah dan tidak akan lakukan itu. Isu-isu begitu malah merugikan penggilingan, imbasnya kita dituding macam-macam, padahal kita apa adanya,” ujarnya.
Sementara itu, berbeda dengan Arjo yang memilih bertahan dengan mendatangkan gabah dari luar daerah, penggilingan lainnya di Desa Gegesik Lor justru memilih menghentikan produksi karena tidak sanggup bersaing dalam membeli gabah dengan harga tinggi.
Pemilik penggilingan lainya, Aksol Amri menyampaikan, bahwa pabriknya sudah tidak beroperasi selama hampir satu bulan terakhir.
“Ya, saat ini memang penggilingan tidak jalan, karena memang kita kekurangan bahan baku, terutama gabah,” ucap Amri.
Ia menjelaskan, kelangkaan gabah disebabkan oleh gagal panen di wilayah Gegesik akibat serangan hama, seperti beluk dan tikus serta virus yang menyerang akar padi. “Panennya tidak menghasilkan gabah, itu yang jadi bahan baku kita, Sekarang kita enggak dapat barang sama sekali,” katanya.
Tak hanya soal pasokan, persaingan harga di lapangan pun disebut semakin ketat, Banyak pembeli besar yang mengincar gabah tanpa memperhatikan kualitas, membuat harga melonjak hingga Rp6.500 per kilogram.
“Kalau kita ikut beli dengan harga segitu, kita rugi. Karena pas beras jadi, harga jualnya tidak menutup biaya produksi mending kami stop dulu daripada memaksakan produksi tapi merugi,” tandasnya. (Johan)



Tinggalkan Balasan