Upaya Kota Cirebon Meningkatkan Literasi Masyarakat
KOTA CIREBON, (FC). – Perpustakaan menjadi ujung tombak bagi suatu daerah dalam kemajuan pengetahuan dan arsip lokal.
Kemajuan perpustakaan suatu daerah dapat mempengaruhi tingkat literasi masyarakat. Ironinya, tingkat literasi masyarakat Indonesia masih di bawah rata-rata.
Hal itu sesuai survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019.
Dalam survei tersebut ditemukan minat baca masyarakat Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara, atau berada dalam 10 negara terbawah.
Lalu bagaimana dengan di Kota Cirebon?
Tingkat literasi masyarakat Kota Cirebon sendiri menurut Wakil Wali Kota Cirebon Eti Herawati, sedang berkembang pesat.
Ini dibuktikan dengan banyak munculnya komunitas literasi.
“Kota Cirebon memiliki banyak komunitas literasi, namun karena pandemi aktivitas mereka terhambat,” ujar Eti ketika ditemui oleh FC pada Senin (16/08).
Meski terkendala pandemi, Eti sebagai Bunda Literasi Kota Cirebon memiliki rencana untuk meningkatkan literasi masyarakat melalui program ‘Literasi Edukasi’. Program tersebut masih dalam tahap perencanaan.
Sementara itu, pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Perpustakaan (Dispusip) terus menggalakan beberapa program baik bekerjasama dengan lembaga ataupun masyarakat.
Misalnya program Pojok Baca atau perpustakaan kecil di setiap RW sudah diadakan dari tahun 2019.
“Hingga sekarang bilik pojok baca telah hadir di 72 RW se-Kota Cirebon,” ungkap Kepala Bidang Perpustakaan dan Pembudayaan kegemaran membaca (P3KM) Dinas Perpustakaan Agus Jaman.
Sementara itu, ada program dari provinsi Jawa Barat Bernama Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) yang ada di beberapa tempat umum di Kota Cirebon.
Selain hadir secara fisik, perpustakaan juga merambah ke koleksi buku digital.
“Aplikasi Perpusnas sangat lengkap dan mudah diakses oleh masyarakat, atau bisa juga menggunakan aplikasi iCirebon untuk mengakses koleksi digital yang dimiliki Dispusip Kota Cirebon,” katanya.
Yang memprihatinkan adalah, buku-buku fisik di Perpustakaan 400 kebanyakan telah usang.
Itupun merupakan koleksi pembaharuan tahun 2016.
Agus kemudian menambahkan, “kami memiliki keterbatasan anggaran, akan tetapi di hari normal biasanya 500-700 orang mengunjungi perpustakaan.”
Dispusip Kota Cirebon sendiri sudah mengajukan pengadaan buku yang diperkirakan terealisasi pada tahun 2022 nanti.
Mereka masih tetap optimis meskipun dengan keadaan yang seperti ini, di kemudian hari masyarakat Kota Cirebon bahkan luar kota masih suka mengunjungi perpustakaan. (Melly/Job/FC)


Tinggalkan Balasan