MAJALENGKA, (FC).– Di tengah perkembangan teknologi digital, jejak pengetahuan leluhur di Kabupaten Majalengka, masih tersimpan dalam bentuk sederhana namun sarat makna.

Salah satunya adalah Kolenjer, penanggalan kuno yang dahulu digunakan masyarakat untuk menentukan waktu berbagai kegiatan penting.

Warisan penanggalan tradisional tersebut masih disimpan oleh Aki Rasadi (85), warga Blok Bojong, Kelurahan Babakanjawa, Kecamatan Majalengka. Kolenjer berbahan kayu itu diwariskan secara turun-temurun dari leluhurnya.

Ketua Group Madjalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana, yang akrab disapa Kang Naro, mengatakan Kolenjer merupakan salah satu bukti adanya pengetahuan lokal masyarakat Majalengka dalam membaca dan memperhitungkan waktu.

Menurutnya, Kolenjer dahulu digunakan untuk menentukan waktu yang dianggap tepat dalam melaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari masa panen, hajatan, perjalanan hingga kegiatan penting lainnya.

“Penanggalan ini merupakan bagian dari pengetahuan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Dahulu, masyarakat menggunakannya sebagai pedoman dalam menentukan waktu pelaksanaan kegiatan,” ujar Kang Naro, Minggu (27/9).

Kolenjer yang disimpan Aki Rasadi memiliki ukuran sekitar 25 sentimeter panjang dan 18 sentimeter lebar. Pada permukaan kayu terdapat pola kotak-kotak, sementara bagian lainnya dihiasi titik-titik yang diyakini berkaitan dengan perhitungan hari, bulan hingga waktu tertentu.

Aki Rasadi mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa pemilik pertama Kolenjer tersebut. Ia hanya mengetahui bahwa benda itu merupakan peninggalan leluhur yang kemudian diwariskan kepadanya.

Meski sudah berusia lanjut, Aki Rasadi masih memahami sebagian cara membaca dan menggunakan perhitungan yang terdapat pada Kolenjer tersebut.

Dalam tradisi penggunaannya, perhitungan dilakukan jauh sebelum kegiatan digelar. Hal itu dilakukan untuk menentukan waktu yang dianggap paling sesuai, termasuk untuk kegiatan seperti hajatan atau pernikahan.

Bagi masyarakat masa lalu, perhitungan tersebut bukan sekadar persoalan menentukan tanggal. Kolenjer menjadi bagian dari cara leluhur membaca waktu sekaligus ikhtiar agar kegiatan yang dilaksanakan berjalan lancar dan selamat.

Kang Naro menyebut keberadaan Kolenjer berbahan kayu di Majalengka tergolong langka. Berdasarkan pendataan Grumala, sedikitnya terdapat dua Kolenjer kayu yang masih diketahui keberadaannya.

Selain benda fisik tersebut, pengetahuan mengenai sistem penanggalan tradisional juga ditemukan dalam sejumlah naskah kuno yang berasal dari Burujul Wetan, Kecamatan Jatiwangi.

Naskah-naskah tersebut saat ini menjadi bagian dari koleksi Museum Alit Grumala di Gedung Juang Majalengka.

“Yang terbuat dari kayu sudah kami data ada dua. Selain itu, sistem perhitungannya juga ditemukan dalam beberapa naskah kuno,” kata Kang Naro

Grumala kini berencana membuat replika Kolenjer sebagai bagian dari upaya pelestarian. Replika tersebut nantinya akan disimpan di Museum Alit Grumala, Gedung Juang Majalengka.

Upaya itu diharapkan dapat memperkenalkan kembali pengetahuan tradisional kepada generasi muda sekaligus menjadi dokumentasi sejarah mengenai cara masyarakat Majalengka pada masa lalu memahami waktu.

Kolenjer pada akhirnya bukan hanya sebilah papan kayu dengan tanda dan titik-titik. Di balik bentuk sederhananya tersimpan jejak pengetahuan, tradisi, serta cara pandang leluhur dalam menjalani kehidupan.

Di tengah zaman yang serba digital, keberadaan Kolenjer menjadi pengingat bahwa Majalengka memiliki warisan pengetahuan lokal yang layak dikenali, didokumentasikan, dan dilestarikan. (Munadi)