KAB. CIREBON, (FC).- Keberadaan lima dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan Pondok Pesantren Babakan, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, dinilai ikut menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Aktivitas tersebut membuka peluang kerja sekaligus memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon, KH. Aziz Hakim Syaerozie, mengatakan, program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi di lingkungan pesantren.

Menurut Aziz, perkembangan tersebut terlihat dari meningkatnya aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan operasional program pemerintah.

Kondisi itu dinilai memberikan peluang bagi masyarakat sekitar untuk memperoleh penghasilan melalui pekerjaan maupun kegiatan usaha.

“Perputaran uangnya luar biasa cukup besar. Masyarakat juga tinggal mencari kesempatan untuk bekerja. Perputaran uang untuk UMKM juga ternyata luar biasa,” ujar Aziz, Selasa (20/10) malam.

Pimpinan Dewan Keluarga Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin itu mengungkapkan, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, aktivitas ekonomi yang bersumber dari program pemerintah di lingkungan pesantren kini dinilai semakin berkembang.

Ia menyebut, keberadaan lima dapur SPPG menjadi salah satu faktor yang mendorong perputaran uang tersebut. Selain membuka kesempatan kerja, operasional dapur juga berpotensi menggerakkan usaha masyarakat yang terlibat dalam rantai pasok kebutuhan program.

“Di pesantren Babakan ini tumbuh dan berkembang. Kalau kita kalkulasikan dengan tahun-tahun sebelumnya, perputaran uang di pesantren Babakan dari pemerintah mungkin belum terlalu besar, atau bantuan-bantuan untuk pesantren sifatnya belum terlalu signifikan,” ungkapnya.

Aziz berharap, manfaat ekonomi dari program pemerintah tidak hanya berhenti pada aktivitas operasional SPPG. Lebih dari itu, dampaknya diharapkan mampu memperluas kesempatan berusaha, memperkuat UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar pesantren.

Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan kebijakan pemerintah agar hasil pembangunan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Menurutnya, program yang dijalankan perlu memberikan manfaat nyata, terutama dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat.

“Harapannya, sisa waktu tiga tahun ke depan kepemimpinan Pak Prabowo hasilnya semakin baik. Produk-produk programnya juga harus dirasakan masyarakat. Yang penting adalah bagaimana bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Aziz menilai, pesantren memiliki peran strategis dalam pembangunan masyarakat. Selain menjadi lembaga pendidikan yang membentuk karakter dan kesungguhan para santri, lingkungan pesantren juga berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi bagi warga di sekitarnya.

Karena itu, ia berharap program-program pemerintah yang berdampak pada perekonomian pesantren dapat terus dikembangkan dan diperluas ke berbagai daerah.

Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan oleh lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga oleh masyarakat luas melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan kegiatan usaha. (Johan)