INDRAMAYU, (FC).- Pemerintah Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu bergerak cepat melakukan inovasi di bidang ketahanan pangan, perihal ini bagian dari implementasi program ketahanan pangan nasional yang digagas Presiden Prabowo.

Salah satu bentuk implementasi tersebut yakni dibangunnya Pos Ketahanan Pangan di tingkat Desa. Pembangunan pos ini sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis desa.

Pos ketahanan pangan di desa ini dilengkapi dengan lumbung pangan yang disiapkan secara terencana serta informasi untuk memastikan seluruh warga desa tetap memiliki akses terhadap kebutuhan dasar pangan, baik untuk kebutuhan saat ini maupun jangka panjang, sehingga tidak ada warga yang mengalami kekurangan pangan.

Kepala Desa Malang Semirang, Rusmono Syafi’i, mengatakan, pendirian pos ketahanan pangan berangkat dari inspirasi pemikiran Gubernur Jawa Barat yang menekankan pentingnya setiap desa memiliki pos ketahanan pangan secara mandiri.

Menurutnya, pos tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan pangan, tetapi juga sebagai pos pengaduan warga untuk memastikan kehadiran negara hingga ke tingkat paling bawah.

“Jadi yang pertama kita terinspirasi dari pemikiran Gubernur Jawa Barat bahwa setiap desa harus memiliki pos ketahanan pangan. Pos ketahanan pangan itu isinya adalah lumbung pangan, dengan peruntukan agar tidak ada satu pun warga desa yang sampai tidak bisa makan. Selain itu di sana ada pos pengaduan warga juga,” kata Rusmono, Kamis (15/1).

Ia menjelaskan, lumbung pangan Desa Malang Semirang diisi dengan berbagai kebutuhan pokok, mulai dari beras, sembako, obat-obatan, hingga makanan siap saji seperti ikan dalam kemasan.

Seluruh persediaan tersebut disiapkan untuk masyarakat dan dapat diakses secara gratis. Selain itu, pos ketahanan pangan juga dilengkapi dengan peralatan pendukung mitigasi bencana alam sebagai langkah antisipasi dalam kondisi darurat.

“Selain sebagai lumbung pangan, pos ketahanan pangan juga dilengkapi dengan berbagai peralatan yang membantu upaya pencegahan bencana alam. Termasuk di antaranya alat fogging nyamuk yang disediakan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan lingkungan masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut Rusmono menuturkan, sumber pengisian lumbung pangan berasal dari alokasi dana desa sebesar 30 persen pada tahun 2025 yang memang diperuntukkan bagi program ketahanan pangan.

Dana tersebut kemudian dikelola secara produktif melalui berbagai sektor usaha desa, dengan budidaya jamur sebagai motor penggerak utama.

“Isinya dari ketahanan pangan yang diambil dari dana desa sebesar 30 persen tahun 2025. Nah, Alhamdulillah di Malang Semirang, dana desa tersebut ketahanan pangannya kita gunakan di budidaya jamur. Keuntungannya itu masuk ke lumbung pangan dan pengembangan,” terangnya.

Meski demikian, ia menegaskan, bahwa ketahanan pangan desa tidak hanya bertumpu pada satu sektor saja. Pemerintah desa juga mengembangkan ketahanan pangan berbasis peternakan, pertanian, dan perikanan, sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

“Tapi tidak semua masuk ke budidaya jamur saja. Ada ketahanan pangan berbasis peternakan, pertanian, perikanan juga ada, semuanya ada. Nah, jadi kalau untuk masyarakat Malang Semirang, insya Allah, apa kebutuhan mereka untuk makan, kita siapkan,” tuturnya.

Rusmono mengungkapkan, program ketahanan pangan ini secara khusus menyasar kelompok rentan, mulai dari anak yatim, fakir miskin, lansia, jompo, dhuafa, hingga kebutuhan tempat ibadah. Seluruh bantuan diberikan tanpa dipungut biaya apa pun.

“Semuanya gratis. Sasarannya adalah anak yatim, fakir miskin dan tempat ibadah. Otomatis fakir miskin itu adalah lansia, jompo, dan dhuafa,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, Rusmono mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama dalam mengejar target produksi budidaya jamur yang ditetapkan sebesar satu kuintal per hari. Saat ini, produksi baru mencapai sekitar 40 kilogram per hari. Meski demikian, ia optimistis target tersebut ke depan dapat dicapai.

“Selama ini kendala kita sedikit ya, ambisi kita memiliki target satu hari penghasilan dari jamur itu satu kuintal, kita baru 40 kilo. Jadi kalau itu sudah satu kuintal per harinya, insya Allah selain ketahanan pangan semakin kuat, pengrajin-pengrajin petasan insya Allah akan beralih usaha,” tuturnya.

Ia menambahkan, pemerintah desa juga membuka ruang kolaborasi dengan warga melalui skema kerja sama penyediaan modal. Warga yang berminat dapat menjalankan usaha budidaya jamur dengan dukungan modal dari desa, kemudian mengembalikannya dalam bentuk hasil panen.

“Ini sudah banyak beralih, malahan kita sudah berkolaborasi dengan warga, MoU dengan warga. Barang siapa warga yang mau bekerja sama dengan kita, kita sediakan modalnya, nanti mereka bayar dengan jamur,” ujarnya.

Ke depan, Rusmono berharap Desa Malang Semirang dapat tumbuh menjadi desa yang sejahtera, mandiri, serta terbebas dari persoalan stunting dan kelaparan, sejalan dengan visi ketahanan pangan nasional jangka panjang.

“Harapan ke depan, mudah-mudahan Malang Semirang menjadi desa yang masyarakatnya tidak ada lagi yang mengalami kekurangan, terbebas dari stunting, serta tidak mengalami kelaparan. Program ini dirancang bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga sebagai upaya jangka panjang ke depan,” pungkasnya. (Agus Sugianto)