Bunda Literasi Kota Cirebon Hadiri Festival Tunas Bahasa Ibu 2026
KOTA CIREBON, (FC).- Sebanyak 1.060 anak di Kota Cirebon unjuk bakat dalam Festival Tunas Bahasa Ibu 2026. Mereka tak hanya tampil mendongeng, tetapi juga menunjukkan kemampuan dalam berbagai cabang lomba bahasa dan sastra daerah, mulai dari pupuh, biantara, aksara Sunda hingga carpon.
Suasana festival terasa berbeda di SMPN 9 Kota Cirebon, Selasa (6/10). Anak-anak yang datang mengenakan beragam pakaian adat.
Sebagian peserta perempuan tampil mengenakan kebaya, kain batik, dan selendang, sementara peserta lainnya mengenakan busana tradisional Sunda lengkap dengan iket atau penutup kepala khas.
Di salah satu ruang lomba, seorang siswi SD berdiri di hadapan juri. Dengan mengenakan pakaian adat Sunda berwarna putih dan kain batik, ia memeragakan cerita dalam lomba mendongeng. Ekspresi wajah dan gerakan tubuhnya mengikuti alur cerita yang disampaikan di hadapan juri.
Di ruangan lain, peserta juga mengikuti sejumlah mata lomba yang menjadi bagian dari Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 Tingkat Kota Cirebon. Festival tersebut dibuka secara seremonial di SMPN 9 Kota Cirebon.
Pembukaan diisi dengan sambutan serta penampilan Yasmin, pelajar SMPN 1 Cirebon yang menunjukkan kemampuan mendongeng di atas panggung.
Bunda Literasi Kota Cirebon, Noviyanti Edo, kemudian meninjau sejumlah ruang tempat perlombaan berlangsung. Ia didampingi Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Ade Cahyaningsih.
Festival Tunas Bahasa Ibu tahun ini diikuti 1.060 peserta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 885 merupakan siswa jenjang SD, sedangkan 175 peserta lainnya berasal dari jenjang SMP. Ribuan peserta itu mengikuti tujuh mata lomba yang digelar secara paralel selama tiga hari.nDi antaranya mendongeng, borangan, pupuh, biantara, aksara Sunda, dan carpon.
Besarnya jumlah peserta menjadi perhatian Noviyanti. Menurut dia, antusiasme anak-anak tersebut menunjukkan masih banyak pelajar di Kota Cirebon yang memiliki potensi dalam bidang literasi.
“Saya jadi optimistis bahwa di Kota Cirebon banyak anak yang berpotensi mengangkat talenta di bidang literasi. Semoga ini bisa makin memperkuat Kota Cirebon dalam hal literasinya,” ujar Noviyanti seusai membuka dan meninjau perlombaan di SMPN 9 Kota Cirebon, Selasa (6/10).
Namun, bagi Noviyanti, festival tersebut diharapkan tidak berhenti hanya sebagai ajang perlombaan. Ia ingin kemampuan dan keberanian anak-anak yang telah tampil dapat terus dikembangkan setelah festival selesai. Rencana itu, kata dia, akan dibicarakan lebih lanjut agar kegiatan serupa bisa menjadi agenda rutin di Kota Udang tersebut.
“Ya, nanti mungkin akan kita bicarakan agar agenda ini bisa dijadikan kegiatan rutin di Kota Cirebon,” ucapnya.
Menurutnya, keberlanjutan kegiatan juga perlu didukung dari lingkungan sekolah. Para guru dapat kembali mendapatkan pendampingan atau coaching agar memiliki kemampuan untuk mendorong anak-anak mengembangkan potensi literasi dan bahasa daerah.
“Di sekolah-sekolah, kita juga bisa memandu (coaching) para guru dan menyemangati mereka bahwa kegiatan seperti ini harus terus berjalan,” jelas dia.
Dengan begitu, festival tidak hanya menjadi panggung bagi anak-anak untuk tampil selama beberapa hari. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa ibu agar tetap digunakan dan dikenal oleh generasi berikutnya.
“Jadi, tidak hanya berhenti pada festival saat ini saja, tetapi juga dilanjutkan pada acara-acara lainnya agar tidak punah,” katanya.
Peserta terbaik dari masing-masing kategori nantinya akan mewakili Kota Cirebon pada Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat provinsi. Pengiriman peserta terbaik tersebut direncanakan berlangsung pada akhir November 2026.
Seluruh kategori lomba akan memiliki kesempatan untuk mengirimkan wakil terbaiknya ke tingkat provinsi.
Bagi Noviyanti, keberanian anak-anak untuk tampil di hadapan juri dan penonton juga menjadi hal penting. Sebab, selain kemampuan berbahasa, festival tersebut memberi ruang bagi anak-anak untuk membangun kepercayaan diri sekaligus menunjukkan talenta mereka.
“Untuk para peserta yang sudah ikut, yang jumlahnya mencapai 1.060 orang, luar biasa sekali!” ujarnya.
Ia menilai, keberanian para peserta tampil dalam berbagai perlombaan menjadi tanda bahwa anak-anak di Kota Cirebon memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan.
“Saya sangat optimistis karena anak-anak di Kota Cirebon terbukti berani, mampu tampil percaya diri, dan menunjukkan bakat mereka,” ujarnya.
Ia pun berpesan agar para peserta tidak berhenti belajar dan terus berani menunjukkan kemampuan mereka.
“Tetap semangat untuk anak-anakku se-Kota Cirebon. Semoga ini menjadi awal dari kesuksesan kalian,” ucap istri dari Wali Kota Cirebon, Effendi Edo tersebut.
Di tengah suasana festival yang dipenuhi anak-anak dengan pakaian adat dan cerita dalam bahasa daerah, pesan tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan. Sebab, menjaga bahasa ibu bukan hanya soal memenangkan perlombaan.
Ada keberanian anak-anak untuk kembali menggunakan, mempelajari, dan mengenalkan bahasa daerah melalui panggung yang mereka miliki.
Dari ruang kelas tempat peserta mendongeng hingga panggung utama festival, bahasa ibu hari itu kembali mendapat ruang di hadapan generasi muda Kota Cirebon. (Agus)


Tinggalkan Balasan