Dinkes Kota Cirebon Minta Masyarakat Waspadai Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
KOTA CIREBON, (FC).- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kesehatan akibat sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Kepala Dinkes Kota Cirebon, dr. Siti Maria Listiawaty mengatakan meskipun informasi terakhir menyebutkan erupsi Gunung Anak Krakatau telah berakhir, masyarakat tetap perlu waspada mengingat status aktivitas gunung api tersebut masih berada pada level siaga.
Menurutnya, sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau bahkan sempat melintasi wilayah udara Kota Cirebon sebelum bergerak ke arah Jawa Tengah.
“Informasi yang kami terima, sebaran abu vulkanik kemarin siang sekitar pukul 13.00 WIB sudah melintasi Kota Cirebon dan bergerak menuju Jawa Tengah. Karena itu, masyarakat tetap perlu melakukan langkah antisipasi,” kata dr. Maria, Senin (7/9).
Ia menjelaskan, abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Material tersebut dapat mengandung partikel mineral, termasuk silika, yang apabila terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan.
Dampaknya, lanjut dr. Maria, bisa berupa iritasi pada saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan. Selain gangguan pernapasan, paparan abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit maupun mata.
“Abu vulkanik ini bukan abu biasa. Ada kandungan material yang dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, terutama saluran pernapasan. Iritasi kulit dan mata juga bisa terjadi apabila masyarakat terpapar secara langsung,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Dinkes mengimbau masyarakat, termasuk pelajar, menggunakan masker apabila kembali terjadi erupsi dan abu vulkanik mencapai wilayah Cirebon.
Penggunaan kacamata juga dianjurkan, khususnya bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah saat kondisi udara terdampak abu vulkanik.
dr. Maria berharap pihak sekolah turut memberikan ruang bagi para siswa untuk menggunakan perlengkapan pelindung tersebut apabila kondisi mengharuskan.
“Kalau terjadi erupsi susulan dan abu vulkanik kembali menyebar, masyarakat sebaiknya menggunakan masker. Kalau memungkinkan, gunakan juga kacamata, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.
Selain perlindungan diri, masyarakat juga diminta berhati-hati ketika membersihkan abu vulkanik yang menempel di lingkungan rumah maupun fasilitas umum.
Dinkes menyarankan abu tidak dibersihkan dengan cara disapu secara kering karena dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.
‘Kalau ada abu vulkanik, sebaiknya jangan langsung disapu dalam kondisi kering. Lebih baik dibasahi atau disiram terlebih dahulu agar partikelnya tidak beterbangan dan justru terhirup oleh orang yang sedang membersihkannya,” tutur dr. Maria.
Di sisi lain, Dinkes Kota Cirebon mulai melakukan langkah kesiapsiagaan sebagai bagian dari mitigasi apabila terjadi erupsi susulan atau peningkatan aktivitas vulkanik.
Pengecekan dilakukan terhadap kesiapan tenaga kesehatan, perbekalan kesehatan, hingga ketersediaan masker yang dapat digunakan apabila kondisi berkembang dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Kami dari Dinas Kesehatan juga sudah mengecek kesiapsiagaan, termasuk persiapan perbekalan kesehatan dan stok masker. Kalau situasinya meningkat, tentu kami harus siap untuk melakukan langkah berikutnya,” katanya.
dr. Maria menegaskan kesiapsiagaan tersebut merupakan bentuk antisipasi agar pemerintah daerah tidak terlambat merespons apabila terjadi perkembangan situasi.
Ia juga mengajak masyarakat tidak panik, namun tetap mengikuti informasi resmi dan menerapkan langkah perlindungan diri.
“Prinsipnya, lebih baik kita waspada dan bersiap daripada tidak melakukan persiapan sama sekali. Kita tetap memantau perkembangan dan melakukan mitigasi sebagai langkah antisipasi,” pungkasnya. (Agus)


Tinggalkan Balasan