KUNINGAN, (FC).- Pemerintah Kabupaten Kuningan memperkuat upaya pencegahan keterlambatan diagnosis kanker anak melalui peningkatan edukasi kepada tenaga kesehatan dan kader PKK.

Langkah tersebut dilakukan agar gejala awal kanker dapat dikenali lebih cepat sehingga anak memperoleh penanganan yang tepat.

Upaya itu diwujudkan melalui Sosialisasi Kanker Anak bagi Tenaga Kesehatan dan Kader PKK yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan di Teras Pendopo Kabupaten Kuningan, Jumat (31/7).

Kegiatan tersebut menghadirkan Yayasan Anyo Indonesia serta dokter spesialis anak konsultan hematologi onkologi, dr. Edi Setiawan Tehuteru.

Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar mengatakan, keterlambatan diagnosis masih menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan kanker anak.

Menurutnya, peningkatan pemahaman masyarakat dan tenaga kesehatan menjadi kunci dalam menemukan penyakit sejak dini.

“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan masa depan anak-anak. Edukasi, kepedulian, dan deteksi sedini mungkin menjadi kunci agar mereka mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik,” ujar Dian.

Ia menilai, keberadaan tenaga kesehatan dan kader PKK memiliki peran penting karena menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat.

Dengan pemahaman yang lebih baik, tanda-tanda awal kanker anak diharapkan dapat segera dikenali dan ditindaklanjuti.

Bupati juga mengapresiasi Yayasan Anyo Indonesia yang memilih Kabupaten Kuningan sebagai lokasi kegiatan edukasi.

Kehadiran para ahli, kata dia, menjadi kesempatan berharga untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani persoalan kanker anak.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr. Martono, mengungkapkan bahwa kanker anak tidak hanya berdampak terhadap kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi aspek psikologis, pendidikan, sosial, hingga ekonomi keluarga.

Menurutnya, masih ditemukan kasus kanker anak yang diketahui ketika kondisi penyakit sudah memasuki stadium lanjut.

Hal tersebut disebabkan minimnya pemahaman masyarakat terhadap gejala awal serta kekhawatiran dalam membawa anak untuk mendapatkan pemeriksaan.

“Puskesmas memiliki peran strategis sebagai garda terdepan, mulai dari memberikan edukasi, pemeriksaan awal, hingga melakukan rujukan apabila ditemukan indikasi penyakit,” jelas Martono.

Ia menambahkan, kader PKK dan kader kesehatan juga memiliki peran besar karena berinteraksi langsung dengan masyarakat di tingkat bawah.

Ketua Yayasan Anyo Indonesia, Pinta Manulang Panggabean, mengapresiasi komitmen Pemkab Kuningan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kanker anak.

Menurutnya, edukasi dan pendampingan menjadi bagian penting dalam membantu anak-anak penderita kanker.

Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan bahwa Indonesia saat ini masih menghadapi keterbatasan tenaga dokter spesialis hematologi onkologi anak.

Jumlah dokter spesialis yang tersedia sekitar 83 orang, sementara kasus baru kanker anak diperkirakan mencapai 11 ribu kasus setiap tahun.

Selain edukasi, kegiatan tersebut menghadirkan penyintas kanker mata (retinoblastoma), Siti Julia, yang membagikan pengalaman perjuangannya dalam menghadapi penyakit tersebut.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa kanker anak memiliki peluang penanganan lebih baik apabila ditemukan sejak dini.

Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap kesadaran masyarakat terhadap kanker anak semakin meningkat, sehingga kasus dapat ditemukan lebih awal, mendapatkan penanganan cepat, dan meningkatkan peluang kesembuhan bagi anak-anak. (Angga)