Matangaji Bangun Rumah Sampah, Olah 1 Ton Limbah per Hari
KAB.CIREBON, (FC).- Pemerintah Desa Matangaji, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, mulai membangun Rumah Pengelolaan Sampah Harapan Kita sebagai upaya mengatasi persoalan sampah rumah tangga sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Fasilitas pengolahan sampah tersebut dilengkapi mesin pemilah berkapasitas hingga satu ton sampah per hari. Mesin yang dikenal dengan sebutan gibrig itu berfungsi memisahkan sampah organik dan anorganik melalui sistem getaran serta ayakan.
Kuwu Matangaji, Rusnadi, mengatakan sistem pengelolaan sampah nantinya dimulai dari tingkat rumah tangga. Sampah warga akan dikumpulkan oleh petugas desa bersama Karang Taruna untuk kemudian dipilah berdasarkan jenisnya.
“Skemanya nanti sampah dikumpulkan terlebih dahulu. Petugas dari desa dan Karang Taruna akan mengambil sampah dari rumah warga, kemudian dipisahkan antara sampah basah dan kering sebelum diproses menggunakan mesin,” ujar Rusnadi, Rabu (12/8).
Setelah proses pemilahan, sampah organik akan dimanfaatkan untuk budidaya maggot dan pengolahan melalui sistem fermentasi. Sementara sampah anorganik, terutama plastik, akan dipilah kembali untuk diolah atau dijual sehingga memiliki nilai ekonomi.
Rusnadi menjelaskan, pengelolaan sampah tersebut akan dilakukan secara bertahap. Pemerintah desa memilih memulai dari skala kecil sebagai proyek percontohan sebelum dikembangkan menjadi sistem pengolahan yang lebih modern.
“Untuk sementara sampah organik dimanfaatkan untuk ternak maggot. Setelah itu ada rencana pengolahan dengan fermentasi. Kita mulai dari skala kecil sebagai contoh sebelum menuju pengolahan modern,” katanya.
Rumah Pengelolaan Sampah Harapan Kita ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Agustus 2026. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu mengubah kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah, dari sekadar membuang menjadi memilah dan memanfaatkan kembali.
Dalam pelaksanaannya, Pemdes Matangaji melibatkan masyarakat, Karang Taruna, pemuda, serta mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Menurut Rusnadi, keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program tersebut. Warga mulai diarahkan untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah, sementara pemerintah desa menyiapkan pengelola di tingkat RW dan desa.
“Pemilahan dimulai dari bawah, dari warga. Ada satu orang pengelola sampah di tingkat RW dan dua orang pengelola sampah di tingkat desa,” jelasnya.
Untuk tahap awal, program tersebut akan diterapkan di satu blok sebagai wilayah percontohan. Masyarakat juga didorong menyediakan tempat sampah secara mandiri, termasuk memanfaatkan wadah bekas yang masih layak digunakan.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, program tersebut juga diarahkan menjadi kegiatan pemberdayaan ekonomi. Petugas pengelola sampah nantinya akan mendapatkan upah dari iuran masyarakat, sementara Karang Taruna diberi ruang untuk ikut mengelola.
“Selain mengatasi persoalan sampah, program ini juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi para pemuda,” ungkap Rusnadi.
Sebelumnya, Desa Matangaji juga mendapat penghargaan melalui program Kampung Bersih yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon. Pada 2025, desa tersebut memperoleh bantuan mesin pengolah sampah sebagai bentuk apresiasi.
Tahun ini, Matangaji kembali mengikuti program Kampung Bersih dengan mengusulkan bantuan sarana pendukung berupa kendaraan pengangkut sampah. Pasalnya, desa tersebut hingga kini belum memiliki kendaraan khusus untuk mengangkut sampah dari permukiman warga.
“Untuk 2026 ini kita masuk kembali. Mudah-mudahan bantuan yang kami usulkan berupa motor sampah bisa terealisasi,” harap Rusnadi.
Ke depan, Pemdes Matangaji juga menyiapkan pengembangan Bank Sampah. Rumah Pengelolaan Sampah Harapan Kita diharapkan menjadi pusat pengelolaan terpadu, mulai dari pemilahan sampah rumah tangga, pengangkutan, pengolahan organik dan anorganik, hingga pemanfaatan kembali.
Dengan konsep tersebut, sampah tidak lagi dipandang sebagai persoalan lingkungan semata, tetapi dapat menjadi sumber manfaat sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat Desa Matangaji. (Johan)


Tinggalkan Balasan