KAB. CIREBON, (FC).- Gunungan sampah yang menumpuk di pinggir Jalan Pantura, Desa Arjawinangun, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, mulai dibersihkan. Pemerintah Desa (Pemdes) Arjawinangun mengerahkan alat berat dan puluhan armada truk untuk mengangkut sampah liar tersebut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Santri.

Kuwu Arjawinangun, Maman, mengatakan proses pembersihan dilakukan sejak Jumat (31/7/2026) dan ditargetkan rampung dalam waktu empat hari. Hingga Senin (3/8/2026), proses pengangkutan terus dilakukan untuk menghilangkan tumpukan sampah yang selama beberapa bulan mengganggu pemandangan dan kenyamanan pengguna jalan.

“Mudah-mudahan hari ini bisa selesai dan tuntas,” ujar Maman, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, keterbatasan anggaran desa untuk penanganan sampah liar menjadi salah satu kendala dalam percepatan pembersihan. Kondisi tersebut membuat dirinya harus menggunakan dana pribadi agar persoalan sampah di wilayahnya segera tertangani.

“Karena anggaran kita untuk pengangkutan sampah cukup minim, akhirnya terpaksa pakai uang pribadi juga,” ungkapnya.

Maman menjelaskan, langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah desa karena lokasi penumpukan sampah berada di wilayah administratif Desa Arjawinangun.

Padahal, kata dia, sampah yang menumpuk tidak sepenuhnya berasal dari aktivitas masyarakat Desa Arjawinangun. Banyaknya warga maupun pengguna jalan yang melintas turut berkontribusi terhadap munculnya sampah liar tersebut.

“Ini menjadi tanggung jawab kami karena lokasinya berada di wilayah Desa Arjawinangun. Namun sampah ini bukan hanya berasal dari warga kami. Dalam waktu sekitar lima bulan saja jumlahnya sudah sangat banyak,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, sebelumnya menyebut peningkatan volume sampah di sejumlah titik dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari meningkatnya aktivitas perdagangan hingga perubahan pola konsumsi masyarakat.

Menurutnya, penggunaan produk sekali pakai, terutama berbahan plastik, turut menjadi penyumbang tingginya volume sampah anorganik.

“Perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama meningkatnya pembelian makanan siap saji, membuat sampah anorganik seperti plastik sekali pakai semakin bertambah,” ujar Dede.

Ia menegaskan, penanganan sampah tidak dapat hanya mengandalkan pola angkut dan buang. Diperlukan perubahan perilaku masyarakat melalui pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Dede menjelaskan, sekitar 50 persen timbulan sampah merupakan sampah organik yang masih memiliki nilai manfaat apabila diolah kembali, seperti menjadi kompos maupun pakan maggot. Sedangkan sampah anorganik seperti plastik dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif melalui pengolahan Refuse Derived Fuel (RDF).

“Penanganan sampah tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Harus ada kolaborasi mulai dari masyarakat, pemerintah desa, kecamatan hingga pemerintah kabupaten,” katanya.

Ia berharap pembersihan sejumlah titik penumpukan sampah dapat menjadi solusi jangka pendek. Namun, keberhasilan pengelolaan sampah secara berkelanjutan tetap bergantung pada kesadaran masyarakat dalam mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari rumah.

“Kalau pemilahan dilakukan sejak dari rumah, volume sampah yang masuk ke TPS maupun TPA akan berkurang secara signifikan,” pungkasnya. (Ghofar)