KAB.CIREBON, (FC).- Program Kampung Bersih yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon telah berjalan hampir empat bulan.

Namun, pelaksanaannya di 40 desa binaan masih menunjukkan hasil beragam. Sejumlah desa mulai mampu mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi, sementara lainnya masih berkutat pada tahap pemilahan.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan DLH Kabupaten Cirebon, Suyanto, mengatakan program tersebut memiliki masa kontrak enam bulan dengan pendampingan untuk mendorong desa mengelola sampah secara mandiri sejak dari sumbernya.

“Dari 40 desa itu ada juga yang kurang maksimal. Hampir separuhnya mungkin belum maksimal, tetapi proses pemilahan sudah mulai berjalan, walaupun belum semuanya,” ujar Suyanto, Rabu (28/10).

Menurutnya, setiap kecamatan diwakili satu desa binaan. Pendampingan dilakukan oleh tenaga pendamping dengan rasio satu orang untuk lima desa.

Suyanto mencontohkan Desa Susukanlebak, Kecamatan Susukanlebak, sebagai salah satu desa yang menunjukkan perkembangan positif. Pengelolaan sampah di desa tersebut tidak hanya sebatas pemilahan, tetapi juga mulai menghasilkan produk turunan, seperti paving block dan kerajinan hiasan.

“Desa Susukanlebak benar-benar bagus dalam proses pengolahan sampahnya. Mereka ingin sampah bisa diselesaikan di desa sendiri, sedangkan desa lainnya masih belum maksimal,” katanya.

Untuk mendukung pelaksanaan program, setiap desa disebut menerima Bantuan Keuangan Khusus (BKK) sebesar Rp25 juta yang ditransfer langsung ke rekening desa.

Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, mulai dari pengadaan komposter, perbaikan hanggar, hingga sarana budidaya maggot.

DLH juga memprioritaskan pengadaan alat pengomposan untuk menangani sampah organik. Langkah tersebut dinilai dapat membantu desa memulai pengelolaan sampah melalui pemilahan dan pengolahan sesuai jenisnya.

Meski demikian, keterbatasan sarana dan prasarana serta sumber daya manusia masih menjadi kendala. Karena itu, DLH mengandalkan tenaga pendamping untuk membantu sosialisasi, bimbingan teknis, hingga pendampingan rutin di lapangan.

Program Kampung Bersih ditujukan untuk mengurangi volume sampah yang diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Melalui pemilahan dan pengolahan di tingkat desa, beban pengangkutan serta penanganan sampah oleh pemerintah kabupaten diharapkan ikut berkurang.

Suyanto mengatakan, hingga akhir masa kontrak, DLH masih memusatkan perhatian pada penguatan pengelolaan sampah di 40 desa binaan. Adapun kelanjutan program pada tahun depan masih menunggu kepastian anggaran.

“Yang jelas, fokus kita bagaimana 40 desa itu bisa benar-benar mengelola sampah sendiri dan melakukan pemilahan secara mandiri,” pungkasnya. (Ghofar)