KOTA CIREBON, (FC).-  Sejarah Kota Cirebon tidak hanya tersimpan dalam cerita masa lalu, tetapi juga melekat pada bangunan, jalur perdagangan, dan aktivitas masyarakat yang berkembang dari generasi ke generasi. Jejak sejarah tersebut menjadi bagian penting dari identitas daerah yang perlu terus dikenalkan, khususnya kepada generasi muda.

Semangat itu diangkat dalam Festival Literasi dan Historia Bea Cukai 2026 yang diselenggarakan Kantor Bea Cukai Cirebon. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak menelusuri jejak sejarah kepabeanan dan perdagangan yang berkaitan erat dengan perjalanan panjang Kota Cirebon.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pemaparan sejarah, tetapi juga memberikan pengalaman belajar secara langsung melalui kunjungan ke sejumlah lokasi bersejarah. Pendekatan tersebut menjadi sarana pembelajaran yang mempertemukan literasi, sejarah, dan pengalaman di lapangan.

Kepala Kantor Bea Cukai Cirebon, Koen Rachmanto, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mengembangkan program literasi yang lebih luas. Upaya itu dapat dilakukan melalui penggalian sumber sejarah dan kolaborasi dengan berbagai instansi di Kota Cirebon.

“Kami berharap kegiatan ini dapat dikembangkan melalui penggalian sumber-sumber literasi, baik dari Bea Cukai sendiri maupun bekerja sama dengan instansi lain di Cirebon. Banyak bangunan yang ternyata memiliki sejarah panjang dalam konteks ke-Cirebonan,” ujar Koen, Sabtu (17/10).

Menurut Koen, kegiatan tersebut melibatkan berbagai instansi dan lembaga yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Kota Cirebon, termasuk perbankan BUMN, Kantor Pos, dan Sekolah Santa Maria.

Melalui kolaborasi itu, ia berharap jejak sejarah yang selama ini tersimpan di masing-masing lembaga dapat digali dan diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.

Koen juga menyampaikan bahwa berdasarkan materi sejarah yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, praktik kepabeanan di wilayah Cirebon telah dikenal jauh sebelum kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda.

Hal tersebut menunjukkan panjangnya perjalanan Cirebon sebagai wilayah yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan dan pengaturan keluar masuk barang.

“Cirebon memiliki sejarah kepabeanan yang sangat panjang, bahkan jauh sebelum VOC datang. Karena itulah kami mengangkat tema kepabeanan, selain sejarah kecirebonan itu sendiri,” jelasnya.

Lebih lanjut, Koen menegaskan bahwa Festival Literasi dan Historia Bea Cukai juga menjadi upaya untuk meningkatkan kesadaran literasi, baik di lingkungan internal Bea Cukai maupun di tengah masyarakat.

Menurutnya, kemampuan menggali informasi hingga ke sumbernya menjadi hal penting, terutama bagi generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi.

“Kami ingin meningkatkan kegiatan literasi, terutama di internal Bea Cukai. Kami juga mengajak masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa, agar kesadaran literasi semakin tumbuh dan mereka terbiasa menggali informasi sampai ke sumbernya,” tuturnya.

Peneliti sejarah, Endang Kusumasari, menjelaskan bahwa Cirebon memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan. Menurutnya, aktivitas perdagangan di wilayah tersebut telah berlangsung jauh sebelum kedatangan VOC.

Berdasarkan catatan sejarah yang disampaikan dalam kegiatan itu, pelabuhan di Cirebon telah berkembang dan ramai sekitar 1373. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan di wilayah Cirebon telah berlangsung sejak masa lampau.

Endang mengatakan, Cirebon memiliki sejumlah komoditas bernilai tinggi yang kemudian menarik perhatian bangsa Eropa, termasuk Portugis, Belanda, dan Inggris. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Cirebon telah menjadi salah satu titik penting dalam jaringan perdagangan.

“Cirebon memiliki sejarah perdagangan yang sangat panjang. Jauh sebelum pengaruh Eropa dan VOC datang, kita sebenarnya sudah memiliki sistem kepabeanan sendiri,” ujar Endang.

Menurut Endang, jejak awal sistem kepabeanan dapat ditelusuri dari kawasan Pelabuhan Muara Jati. Di wilayah Celancang, hingga kini dikenal kawasan Pabean Kulon dan Pabean Wetan. Keberadaan nama-nama tersebut disebut menjadi salah satu penanda aktivitas kepabeanan pada masa lampau.

Ia juga menyebut Ki Gedeng Tapa sebagai tokoh yang pada masa itu menjalankan peran sebagai syahbandar sekaligus mengatur aktivitas yang berkaitan dengan perdagangan dan kepabeanan di pelabuhan.

Menurutnya, sejarah tersebut penting dikenalkan kepada generasi muda agar pemahaman mengenai kepabeanan di Cirebon tidak hanya berawal dari masa kolonial.

“Generasi muda perlu mengetahui bahwa sejarah kita bukan sekadar bagian dari sejarah VOC. Cirebon memiliki sejarahnya sendiri, bahkan sistem perdagangan dan kepabeanannya sudah tumbuh jauh sebelumnya,” katanya.

Endang turut menyinggung asal-usul istilah bea yang menurutnya ditemukan dalam sumber-sumber lama. Ia mengaitkan istilah tersebut dengan kata veaya, yang bermakna biaya atau ongkos dan disebut menjadi salah satu petunjuk mengenai panjangnya sejarah konsep pungutan dalam aktivitas perdagangan di Nusantara.

Selain perdagangan dan kepabeanan, perkembangan Cirebon sebagai kota perdagangan juga didukung oleh kemajuan teknologi komunikasi pada masa berikutnya. Salah satunya melalui keberadaan telegraf yang berkembang seiring dengan jaringan komunikasi dari Batavia.

Pada awalnya, telegraf banyak digunakan untuk kepentingan komunikasi militer. Namun, dalam perkembangannya, jaringan tersebut turut menunjang arus logistik dan perputaran komoditas.

Keberadaan telegraf menjadi penting bagi aktivitas perdagangan, termasuk dalam menghubungkan kawasan produksi, British American Tobacco (BAT), dan pelabuhan.

“Telegraf kemudian tidak hanya berfungsi untuk komunikasi militer, tetapi juga mendukung jalur logistik dan perdagangan. Ketika produksi siap dikirim, komunikasi dengan pelabuhan dapat dilakukan melalui jaringan tersebut,” jelas Endang.

Ia berharap penggalian sejarah seperti ini terus dikembangkan agar generasi muda tidak hanya mengenal Cirebon melalui bangunan atau peninggalan bersejarahnya, tetapi juga memahami peran kota tersebut dalam perkembangan perdagangan, kepabeanan, dan komunikasi di Nusantara. (Agus)