Kiai Imjaz Dorong Dai Bertransformasi di Era Digital
KAB.CIREBON, (FC).- Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat mencari ilmu, berkomunikasi hingga menentukan sumber informasi yang dipercaya.
Kondisi itu mendorong Rais Syuriah PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, mengajak para dai bertransformasi dalam menyampaikan dakwah.
Kiai Imam Jazuli yang akrab disapa Kiai Imjaz mengatakan, perubahan zaman tidak cukup dijawab dengan sekadar memindahkan ceramah dari mimbar ke media sosial.
Para dai perlu memahami karakter masyarakat serta menyesuaikan cara menyampaikan pesan dengan pola perilaku audiens yang terus berubah.
“Dunia dakwah sedang berubah. Media dan masyarakatnya berubah. Cara mereka mencari pengetahuan berubah. Bahkan, cara mereka menentukan siapa yang layak didengarkan pun berubah,” kata Kiai Imjaz, Selasa (6/10).
“Saya tergerak untuk mengawal transformasi dakwah yang relate dengan kebutuhan zaman,” lanjutnya.
Menurutnya, tantangan dakwah saat ini bukan sekadar menyediakan materi keagamaan.
Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang benar dapat disampaikan kepada masyarakat dengan pola belajar, berpikir, berkomunikasi dan konsumsi informasi yang semakin beragam.
“Dakwah tidak cukup bertanya apa yang ingin disampaikan. Kita juga harus bertanya kepada siapa pesan itu disampaikan, bagaimana pesan tersebut diterima, dan perubahan apa yang lahir setelah pesan itu diterima,” ujarnya.
Gagasan tersebut salah satunya diwujudkan melalui program transformasi dai yang dikembangkan Imam Jazuli Foundation.
Pada September 2026, program itu digelar melalui Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif yang diikuti sekitar 700 pendakwah.
Program tersebut ditargetkan menjangkau hingga 5.000 dai di berbagai daerah. Seleksi peserta dilakukan dengan mempertimbangkan portofolio dan kompetensi, sedangkan agenda lanjutan dijadwalkan berlangsung di Provinsi Banten pada 18 Oktober 2026.
Kiai Imjaz juga menyoroti fenomena popularitas di ruang digital. Menurutnya, jumlah pengikut maupun tingkat viralitas tidak dapat dijadikan ukuran utama kedalaman ilmu seorang dai.
“Yang paling banyak didengar belum tentu yang paling dalam ilmunya,” katanya.
Karena itu, ia mendorong lahirnya ulama digital yang tidak hanya menguasai khazanah keislaman, tetapi juga memahami persoalan kontemporer serta karakter generasi muda.
Tradisi keilmuan, lanjutnya, harus mampu diterjemahkan ke dalam bahasa dan media yang mudah dipahami masyarakat. Namun, transformasi tersebut tetap harus menjaga kedalaman ilmu, ketepatan membaca konteks dan kemampuan berkomunikasi.
Kiai Imjaz, yang baru dipercaya sebagai Rais Syuriah PBNU masa khidmat 2026-2031, menegaskan dakwah digital membutuhkan keseimbangan antara popularitas dan otoritas.
Para dai, kata dia, dituntut mampu memilah informasi, memeriksa sumber, membaca konteks serta membedakan fakta dan opini. Di sisi lain, diperlukan tim media yang mampu mengolah pengetahuan agama secara cepat dan bertanggung jawab.
Ia juga menekankan pentingnya revitalisasi orientasi dakwah NU. Dakwah, menurutnya, tidak semestinya berhenti pada kemeriahan acara, tetapi harus diarahkan pada pemberdayaan umat dan penyelesaian persoalan kehidupan masyarakat.
“Berubah tanpa kehilangan akar” menjadi prinsip yang ditekankan Kiai Imjaz dalam gagasan transformasi dakwahnya.
Menurutnya, dakwah harus tetap memiliki sanad dan berpijak pada tradisi keilmuan. Namun, para dai juga tidak boleh gagap menghadapi perkembangan teknologi.
Transformasi digital, lanjutnya, justru dapat menjadi ruang baru untuk memperluas khidmat dan menjangkau masyarakat lebih luas.
Karena itu, generasi muda yang memiliki talenta di bidang media, teknologi dan komunikasi profesional perlu dirangkul.
Transformasi dakwah juga membutuhkan ekosistem dan tata kelola profesional, mulai dari produksi konten, desain, strategi distribusi, literasi data hingga komunikasi digital. (Johan)


Tinggalkan Balasan