Gala Dinner Pascamuktamar NU Jadi Momentum Rekonsiliasi Nahdliyin
KAB.CIREBON, (FC).- Sekitar 300 aktivis Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai kalangan berkumpul dalam Gala Dinner Pascamuktamar ke-35 NU di Joglo Agung Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Kabupaten Cirebon.
Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus momentum rekonsiliasi untuk memperkuat persatuan dan ukhuwah di kalangan Nahdliyin pascapelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Pengasuh Ponpes BIMA Kabupaten Cirebon, KH Imam Jazuli, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai forum kebersamaan untuk menyerap gagasan dan masukan dari berbagai elemen NU, baik struktural maupun kultural.
“Walaupun dihadiri berbagai pihak yang sebelumnya memiliki perbedaan pandangan saat Muktamar ke-35, suasana tetap kondusif dan penuh keakraban. Semua hadir dengan semangat rekonsiliasi dan mengedepankan ukhuwah,” ujar KH Imam Jazuli, Senin (29/9).
Menurutnya, forum tersebut bukan untuk membahas kembali perbedaan yang terjadi, melainkan menjadi ruang menyatukan langkah demi kemajuan NU ke depan.
Ia menyebut, banyak agenda besar yang membutuhkan kekuatan bersama, mulai dari pengembangan pendidikan, pesantren, dakwah, kesehatan hingga pemberdayaan ekonomi umat.
“Sudah saatnya NU bangkit dan fokus menghadapi tantangan masa depan. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui kerja sama seluruh elemen,” katanya.
KH Imam Jazuli yang juga menjadi penggagas kegiatan melalui Imam Jazuli Foundation (IJF) menilai soliditas internal organisasi menjadi hal penting agar berbagai program NU dapat berjalan secara optimal.
Ia berharap seluruh kader NU dapat mengedepankan semangat pengabdian dan menjaga komunikasi agar tidak muncul konflik berkepanjangan yang dapat menghambat gerak organisasi.
Dalam forum tersebut, peserta juga membahas pentingnya perbaikan tata kelola organisasi, termasuk proses penguatan kepemimpinan dan kaderisasi di berbagai tingkatan.
Selain itu, warga Nahdliyin diingatkan agar bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar sehingga tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memicu perpecahan.
“Forum ini tidak untuk membahas masa lalu atau memperpanjang perbedaan. Fokus kami adalah menyerap ide, gagasan, saran dan harapan demi NU yang lebih baik ke depan,” tegasnya.
Dialog yang berlangsung sekitar empat jam tersebut menghasilkan berbagai masukan dari peserta. Gagasan yang muncul nantinya akan dirumuskan sebagai bahan rekomendasi untuk perjalanan NU memasuki abad kedua.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta berharap semangat persatuan dan kebersamaan di tubuh Nahdliyin semakin kuat sehingga NU dapat terus berkontribusi bagi masyarakat, bangsa dan negara. (Johan)


Tinggalkan Balasan