INDRAMAYU, (FC).- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) RI, Wihaji, menginstruksikan ribuan kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) untuk mendistribusikan langsung makan bergizi gratis (MBG) secara langsung ke rumah kelompok 3B yang mencakup ibu hamil, ibu menyusui, hingga bayi di bawah usia dua tahun (baduta).

Pasalnya, sesuai Perpres 115/2026, tugas kader TPK di Kabupaten Indramayu yang jumlahnya mencapai 4.000-an orang tersebut tidak hanya mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, baduta, remaja, dan lansia, tetapi ditambah mendistribusikan MBG kepada kalangan 3B.

Karenanya, menurut dia, para TPK di Kabupaten Indramayu harus mendistribusikan MBG secara door to door untuk memastikan kalangan 3B di wilayah binaan masing-masing mendapatkan menu makanan bergizi tanpa perlu keluar dari rumahnya.

“Jadi, jangan sampai ibu hamil atau ibu menyusui yang datang ke Posyandu untuk mendapatkan MBG, tetapi kader TPK yang mendistribusikan langsung ke rumahnya,” kata Wihaji, Sabtu (19/9)

Ia mengatakan, skema semacam itu untuk memastikan MBG tersebut disalurkan tepat sasaran kepada penerima dari kelompok 3B sekaligus memberikan ruang edukasi, khususnya mengenai gizi bagi keluarganya.

Pihaknya pun menyoroti fenomena di lapangan terkait menu MBG yang diperuntukkan bagi kalangan 3B justru dikonsumsi anggota keluarganya, sehingga dinilai tidak tepat sasaran, karena program itu ditujukan untuk ibu hamil, ibu menyusui, maupun balita.

Wihaji juga mengapresiasi progres pendistribusian MBG untuk kelompok 3B di Kabupaten Indramayu yang sejauh ini telah berjalan secara optimal, meski belum menjangkau seluruh wilayah, tetapi realisasinya tercatat mencapai 80 persen-90 persen.

“Kami juga sudah menanyakan kepada para kader TPK yang mendistribusikan MBG 3B mendapatkan insentif Rp 1.000 per paket yang didistribusikan, dan pencairannya juga rutin setiap 10 hari. Pola insentif tersebut juga sudah berjalan,” ujar Wihaji.

Wihaji mengakui, prevalensi stunting di Kabupaten Indramayu tercatat di angka 9,8 persen, dan jauh lebih baik dibanding rata-rata nasional yang berada di kisaran 19,8 persen, sehingga MBG bagi kelompok 3B untuk mengoptimalkan upaya pencegahannya.

Dalam kesempatan itu, ia tampak berdialog dengan sejumlah kader TPK Kabupaten Indramayu, dan menanyakan mengenai ada tidaknya kendala yang dihadapi dalam pendistribusian MBG bagi kelompok 3B.

“Secara umum, Indramayu ini sudah cukup bagus, dan prevalensi stuntingnya 9,8 persen, tetapi kami mengingatkan tugas kader TPK tidak berhenti, karena angka pernikahan dini masih lumayan tinggi, sehingga harus didampingi untuk menurunkannya,” Pungkasnya. (F-08)