Jembatan 108 Meter Melintas di Atas Sungai Cimanuk Mulai Dibangun, Warga Jatitujuh Tak Lagi Terisolasi
MAJALENGKA, (FC).– Penantian panjang warga Desa Putridalem dan Desa Randegan Wetan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, untuk memiliki akses penghubung yang lebih layak akhirnya menemukan titik terang.
Kodim 0617/Majalengka mulai membangun Jembatan Perintis Garuda sepanjang 108 meter yang membentang di atas Sungai Cimanuk. Jembatan tersebut diharapkan memangkas jarak dan memudahkan aktivitas warga dari kedua desa yang selama ini mengandalkan jembatan bambu dan perahu rakit.
Pembangunan jembatan secara simbolis dimulai melalui peletakan batu pertama dan pemotongan tumpeng oleh Bupati Majalengka Eman Suherman bersama Dandim 0617/Majalengka Letkol Inf Rendra Dwi Jayanto di Blok Kaputren, Desa Putridalem, Sabtu (19/9).
Dandim 0617/Majalengka Letkol Inf Rendra Dwi Jayanto mengatakan, pembangunan jembatan tersebut berawal dari aspirasi masyarakat yang membutuhkan akses penghubung antardesa di atas Sungai Cimanuk.
“Jembatan ini dibangun karena memang ada keinginan dan masukan dari masyarakat yang membutuhkan akses penghubung antardesa. Panjangnya sekitar 108 meter dengan lebar 2,8 meter,” kata Rendra.
Menurut dia, Jembatan Perintis Garuda akan menggunakan konstruksi kayu yang diperkuat dengan lapisan baja. Pembangunannya melibatkan personel TNI Kodim 0617/Majalengka bersama pemerintah daerah, dinas terkait, serta masyarakat sekitar. Kolaborasi tersebut dilakukan agar pengerjaan dapat berlangsung lebih cepat, terutama mengingat musim hujan mulai mendekat.
“Kami berharap pembangunannya bisa cepat selesai sebelum musim hujan. Bahan yang digunakan juga harus memiliki kualitas dan standar yang baik sehingga jembatan ini kokoh dan kuat,” ujarnya.
Rendra menambahkan, Jembatan Perintis Garuda di Jatitujuh menjadi salah satu proyek penting karena memiliki bentang paling panjang dibandingkan jembatan sejenis yang sebelumnya dibangun Kodim 0617/Majalengka.
“Kurang lebih sudah ada 250 Jembatan Perintis Garuda yang kami bangun. Untuk yang di Jatitujuh ini, bentangnya menjadi yang paling panjang,” katanya.
Jembatan tersebut nantinya menjadi akses penghubung utama bagi masyarakat Desa Putridalem dan Desa Randegan Wetan. Kehadirannya diharapkan membuat perjalanan warga untuk bekerja, beraktivitas, maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi lebih mudah dan dekat.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan, pembangunan jembatan tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan akses.
“Ini merupakan kebanggaan sekaligus anugerah bagi masyarakat Putridalem dan Randegan Wetan. Dengan adanya jembatan ini, hubungan kedua desa menjadi semakin dekat dan aktivitas masyarakat semakin mudah,” kata Eman.
Eman berharap keberadaan Jembatan Perintis Garuda dapat menjawab keluhan warga terkait akses transportasi sekaligus menjadi bentuk kehadiran negara dalam membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Ke depan tidak ada lagi keluhan dan kesulitan warga terkait akses ini. Dengan hadirnya negara, kesulitan yang dihadapi masyarakat bisa ditangani,” ujarnya.
Eman menjelaskan, pembangunan jembatan tersebut tidak menggunakan anggaran dari APBD Kabupaten Majalengka. Pembangunan dilakukan melalui dukungan TNI, di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah.
Sementara itu, Kepala Desa Putridalem Endah Hendarwati mengatakan, pembangunan jembatan tersebut merupakan penantian panjang warga. Pengajuan pembangunan akses penghubung itu telah dilakukan sejak 2019.
“Sudah lebih dari tujuh tahun warga menunggu. Pengajuan pertama dilakukan pada 2019 dan baru tahun 2026 ini pembangunan jembatan bisa terlaksana,” kata Endah.
Selama bertahun-tahun, warga hanya memiliki pilihan terbatas untuk menyeberangi Sungai Cimanuk. Salah satunya menggunakan perahu rakit yang dibuat secara swadaya.
Namun, perahu rakit tersebut rusak akibat diterjang luapan Sungai Cimanuk ketika terjadi banjir. Kondisi itu membuat warga kemudian mengandalkan jembatan bambu yang dibangun secara swadaya.
Menurut Endah, warga bahkan harus membayar Rp2.000 setiap kali melewati jembatan bambu tersebut. Biaya itu digunakan untuk kebutuhan perawatan jembatan. Karena itu, warga berharap Jembatan Perintis Garuda dapat menjadi akses yang lebih kuat, aman, dan dapat digunakan dalam jangka panjang tanpa membebani masyarakat dengan biaya perawatan seperti sebelumnya.
“Harapan kami, jembatan ini benar-benar menjadi jembatan yang permanen, kuat dan kokoh. Warga bisa beraktivitas lebih mudah dan tidak lagi harus membayar biaya untuk perawatan jembatan,” ujar Endah.
Dengan panjang 108 meter dan lebar sekitar 2,8 meter, Jembatan Perintis Garuda di atas Sungai Cimanuk itu diharapkan tidak hanya menjadi penghubung fisik antara Putridalem dan Randegan Wetan, tetapi juga membuka akses aktivitas masyarakat yang selama ini terkendala kondisi geografis. (Munadi)


Tinggalkan Balasan