Suara Taman Ajak Anak Muda Lestarikan Batik Cirebon
KAB. CIREBON, (FC).- Pelestarian batik Cirebon terus didorong melalui pendekatan kreatif yang melibatkan generasi muda. Salah satunya melalui kegiatan Suara Taman di Galeri Batik Samida, Desa Kalitengah, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, Senin (26/10).
Kegiatan kolaborasi Batik Samida Cirebon dan Tuju Coffee tersebut menghadirkan ruang belajar membatik yang melibatkan Nok Hijab Kota Cirebon, Ruang Perempuan Muda (Rupa), serta sejumlah komunitas lainnya.
Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada batik tulis khas Cirebon, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam proses pembuatannya. Mulai dari membuat sketsa, menggoreskan malam menggunakan canting, hingga mengikuti tahapan pewarnaan kain.
Tiara Ayu Putri mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mendekatkan generasi muda dengan warisan budaya daerah. Menurutnya, kecintaan terhadap batik perlu dibangun melalui pengalaman langsung, bukan sekadar mengenakan produk yang sudah jadi.
“Kami mengajak generasi muda mengenal batik secara langsung, mulai dari membuat sketsa hingga menghasilkan kain batik yang siap pakai,” ujar Tiara.
Ia menilai, pemahaman terhadap proses membatik penting untuk menumbuhkan penghargaan terhadap karya dan keterampilan para perajin. Sebab, menghasilkan selembar kain batik membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan proses pengerjaan yang panjang.
“Siapa pun bisa belajar dan mengenal kebudayaannya sendiri dengan lebih dekat. Salah satunya melalui proses membatik seperti ini,” katanya.
Kegiatan yang dikemas secara santai tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menuangkan ide dan kreativitas melalui goresan canting di atas kain putih. Selain memperoleh pengetahuan baru, mereka juga dapat merasakan langsung tahapan pembuatan batik tulis.
Antusiasme juga ditunjukkan Winner Nok Hijab Idola Cirebon. Ia mengaku bangga dapat mengikuti kegiatan yang memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya anak muda, untuk mengenal batik lebih dekat.
Menurutnya, praktik langsung menjadi cara menarik untuk memperkenalkan budaya membatik. Dengan mengikuti setiap tahapan, peserta dapat memahami proses dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghasilkan kain batik.
Pengalaman serupa dirasakan Putri Safira Pitaloka, warga Kalitanjung, Kota Cirebon. Ia mengaku baru pertama kali mencoba membatik meski berasal dari daerah yang memiliki tradisi batik cukup kuat.
“Seru, karena dari awal kita membuat sketsa sendiri, menggunakan canting, membatik dengan lilin, sampai melihat proses pewarnaan, perebusan, dan penjemuran sampai selesai. Jadi, dapat banyak pengalaman,” tuturnya.
Putri berharap kegiatan serupa dapat lebih sering digelar di Cirebon. Menurutnya, generasi muda membutuhkan ruang kreatif untuk mengenal sekaligus melestarikan budaya lokal melalui pengalaman yang menyenangkan.
“Mudah-mudahan lebih sering lagi event seperti ini. Kita sebagai generasi muda perlu juga ruang kreatif untuk melestarikan budaya Nusantara khas Cirebon,” katanya.
Melalui Suara Taman, Batik Samida Cirebon dan Tuju Coffee berharap pelestarian batik tidak hanya dilakukan dengan mengenakan kain batik, tetapi juga melalui pengenalan proses pembuatannya kepada generasi penerus.
Keterlibatan anak muda dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya lokal, membuka ruang kreativitas, serta menjaga keterampilan membatik agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Johan)


Tinggalkan Balasan