Sulap Sampah Jadi Ruang Hijau, KKM UMC Hadirkan Eco Garden di Sejumlah Titik Desa Gunungwangi
MAJALENGKA, (FC).- Sampah plastik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah kini dimanfaatkan menjadi bagian dari ruang hijau produktif di Desa Gunungwangi, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.
Melalui program Eco Garden, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menghadirkan konsep penghijauan berbasis pemanfaatan barang bekas di enam titik desa.
Kegiatan tersebut dilaksanakan mahasiswa KKM UMC dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Muhammad Iqbal Manshur, S.Si., M.I.Kom.
Eco Garden tersebut ditempatkan menyesuaikan jumlah blok yang ada di desa Gunungwangi.
Penyebaran di sejumlah lokasi membuat konsep tersebut dapat menjadi ruang percontohan yang lebih dekat dengan aktivitas masyarakat.
Program ini mengintegrasikan pemanfaatan sampah rumah tangga dan budidaya tanaman sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular. Botol plastik bekas dimanfaatkan sebagai media dalam budidaya tanaman sehingga barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat digunakan kembali untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, Eco Garden juga diarahkan menjadi media edukasi bagi masyarakat. Melalui keberadaan taman di berbagai titik, warga dapat melihat secara langsung bagaimana sampah dapat dimanfaatkan kembali sekaligus dikaitkan dengan budidaya tanaman dan ketahanan pangan.
Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian KKM UMC di Desa Gunungwangi yang mengusung tema “Membangun Kemandirian Desa Melalui Penguatan Ekonomi Sirkular Berbasis UMKM, Pengelolaan Sampah, dan Ketahanan Pangan.”
Konsep Eco Garden dibangun dengan gagasan bahwa pengelolaan sampah tidak harus berhenti pada proses pembuangan.
Barang bekas dapat kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan dan dipadukan dengan kegiatan produktif masyarakat.
Dari pemanfaatan botol bekas sebagai media tanam, masyarakat diperkenalkan pada budidaya tanaman yang dapat dilakukan dengan sarana sederhana. Hasil tanaman selanjutnya dapat mendukung kebutuhan pangan sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Dengan demikian, Eco Garden menjadi salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular yang menghubungkan pengelolaan sampah, penghijauan, budidaya pangan, hingga potensi pengembangan ekonomi masyarakat.
Kepala Desa Gunungwangi Apang Sapari menyambut baik pelaksanaan program hidroponik Eco Garden yang dilakukan mahasiswa UMC.
Menurutnya, program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat selama mahasiswa berada di desa, tetapi juga dapat diteruskan oleh masyarakat.
“Mudah-mudahan program ini bisa bermanfaat bagi masyarakat kami dan bisa melanjutkan praktik setelah adik-adik semua kembali ke kampus,” ujar Kepala desa Gunungwangi.
Keberadaan Eco Garden juga membuka ruang bagi masyarakat untuk belajar melalui praktik. Warga tidak hanya memperoleh informasi mengenai pemanfaatan sampah dan hidroponik, tetapi dapat melihat secara langsung bentuk penerapannya di lingkungan sekitar.
Bagi Desa Gunungwangi, pola tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan baru dalam memandang sampah. Barang bekas yang sebelumnya identik dengan limbah dapat dipertimbangkan kembali sebagai bahan yang masih memiliki nilai guna.
Melalui Eco Garden, KKM UMC berupaya menghadirkan perubahan sederhana yang dapat dilihat secara langsung. Konsepnya pun dapat terus dikembangkan mengikuti potensi pertanian dan kebutuhan warga. Lebih dari sekadar taman, Eco Garden menjadi gambaran bagaimana ekonomi sirkular dapat diterapkan melalui langkah sederhana di tingkat desa. (Agus)


Tinggalkan Balasan