Swadaya Betonisasi Jalan, Warga Argasunya dan Mahasiswa Gelar Syukuran
KOTA CIREBON, (FC).- Wilayah Kota Cirebon bagian selatan, sudah “terbiasa” dengan ketertinggalan perbaikan infrastruktur dibandingkan dengan wilayah Kota Cirebon lainnya.
Sebagai contoh, infrastruktur jalan di Kelurahan Argasunya yang belum semuanya mendapatkan perhatian dari pemerintah. Masih banyak jalanan di wilayah tersebut rusak parah.
Bukan tidak ada usaha dari warga setempat untuk menggugah pemerintah, seperti menanam pisang di jalan yang rusak. Hal ini sebagai bentuk protes warga atas rusaknya jalanan yang sudah bertahun-tahun.
Atas hal tersebut, sejumlah warga dan mahasiswa melakukan swadaya perbaikan jalan dengan betonisasi akses Jalan Kalilunyu–Benda Kerep. Bagi warga, perbaikan jalan tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi buah dari perjuangan panjang yang mereka kawal bersama mahasiswa.
Rasa syukur itu dituangkan dalam acara sederhana di ruas jalan yang telah diperbaiki, Jumat (2/10). Puluhan warga bersama mahasiswa Cirebon berkumpul, membentangkan spanduk bertuliskan “Argasunya Berjuang” dan membagikan selebaran tentang perjalanan perjuangan mereka memperbaiki akses jalan tersebut.
Doa bersama dipimpin sesepuh setempat, Kang Nurudin. Tradisi syukuran kemudian dilanjutkan dengan pemecahan telur dan kendi berisi kembang tujuh rupa, sebelum mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon menaburkan bunga.
Bagi warga, prosesi tersebut menjadi simbol bahwa perjuangan yang berlangsung bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.
“Alhamdulillah hari ini kami mengadakan tasyakuran dan doa bersama yang dipimpin sesepuh setempat, Kang Nurudin, atas pengecoran jalan ini. Pemecahan kendi dilakukan sebagai simbol syukur sesuai tradisi dan adat istiadat setempat,” ujar tokoh masyarakat Argasunya, H. Tohirin.
Namun, di balik rasa syukur itu terselip pesan keras. Tohirin menegaskan, warga tidak ingin perbaikan Jalan Kalilunyu–Benda Kerep diklaim sebagai hasil perjuangan anggota legislatif.
Ia mengingat kembali aksi warga setahun sebelumnya ketika jalan yang rusak ditanami pohon pisang sebagai bentuk protes.
“Tepat setahun lalu, kami melakukan aksi protes dengan menanam pohon pisang di jalan ini. Semua ini adalah buah dari perjuangan masyarakat Argasunya. Jadi, jika ada yang mengklaim ini hasil perjuangan dewan, itu salah besar. Ini murni hasil perjuangan masyarakat,” tegasnya.
Perwakilan Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Cirebon (AM2C), Mohammad Romadoni, mengatakan mahasiswa bersama warga telah melakukan pendampingan advokasi selama hampir dua tahun. Menurutnya, jalan tersebut memiliki posisi penting karena menjadi akses utama masyarakat menuju Benda Kerep sekaligus penghubung aktivitas warga.
“Hampir dua tahun kami melakukan pendampingan advokasi untuk jalan Argasunya yang rusak ini. Alhamdulillah, gerakan teman-teman mahasiswa yang membersamai masyarakat membuahkan hasil,” kata Doni.
Meski satu persoalan mulai terurai, warga dan mahasiswa mengingatkan Pemkot serta DPRD Kota Cirebon bahwa pekerjaan rumah di Argasunya belum selesai. Persoalan TPA Kopi Luhur masih menjadi isu yang mereka minta segera ditangani.
“Sebagai agen perubahan dan kontrol sosial, mahasiswa mengabdi untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat. Kami berharap hak-hak warga di wilayah Argasunya lainnya bisa segera dipenuhi, termasuk penanganan persoalan TPA Kopi Luhur,” pungkas Doni. (Agus)


Tinggalkan Balasan