KUNINGAN, (FC).- Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kuningan Fraksi Gerindra, Sri Laelasari, mengajak pelajar menjadi agen perubahan dengan berani menolak bullying dan pergaulan bebas. Menurutnya, generasi muda harus memiliki pengetahuan dan pertahanan diri agar tidak mudah terjerumus dalam lingkungan negatif.

Ajakan tersebut disampaikan Sri saat menjadi narasumber dalam sosialisasi pencegahan bullying bertema “Teman Bukan Lawan, Ciptakan Sekolah Tanpa Bullying” yang digelar mahasiswa KKN UNISA Kelompok 03 Desa Bojong, Kecamatan Cilimus, di Aula SMPN 1 Cilimus, Rabu (19/8).

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Penyuluh Anti Narkoba Ahli Pertama BNN Kuningan Ine Dewi Juniar Kurniawati, S.KM., UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Kuningan yang diwakili Kasubag TU Euis Nurmala, S.E., serta Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kuningan Asep Susan Sonjaya Suoarman, S.Kom.

Dalam kesempatan itu, Sri menekankan pentingnya membangun kesadaran pelajar mengenai berbagai persoalan yang dapat mengancam masa depan, mulai dari bullying, pergaulan bebas hingga risiko infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak seharusnya dianggap tabu. Edukasi yang terbuka dan tepat justru diperlukan agar remaja memiliki bekal untuk mengambil keputusan yang aman.

“Bicara soal Infeksi Menular Seksual atau HIV/AIDS sering kali dianggap tabu. Padahal, ketakutan untuk membicarakannya justru menjadi pintu masuk rusaknya masa depan generasi muda,” ujar Sri.

Sri mengatakan, pengalaman turun langsung ke masyarakat membuatnya melihat bahwa persoalan kesehatan dan pergaulan berisiko dapat berdampak luas, tidak hanya kepada individu tetapi juga keluarga.

Karena itu, ia mengajak pelajar untuk menjaga diri dan tidak mudah terpengaruh tekanan lingkungan.

“Jagalah diri kalian. Masa depan kalian masih sangat panjang. Cita-cita kalian masih membumbung tinggi. Jangan pertaruhkan itu semua hanya karena kompromi sesaat atau tekanan pergaulan,” katanya.

Sri juga mengingatkan pelajar agar tidak mengucilkan orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Menurutnya, masyarakat harus mampu membedakan antara menjauhi perilaku berisiko dengan menjauhi orang yang sedang menghadapi persoalan kesehatan.

“Jauhi penyakitnya, bukan orangnya. Jika ada teman atau saudara kita yang tertular atau berada di lingkungan berisiko, bantu mereka, rangkul mereka untuk berobat, jangan dikucilkan,” ucapnya.

Selain menjaga diri, Sri mendorong pelajar ikut berperan dalam menciptakan lingkungan pertemanan yang sehat. Pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan sosialisasi diharapkan dapat diteruskan kepada teman-teman sebaya.

“Jadilah agen perubahan. Sebarkan edukasi yang benar dari kegiatan hari ini kepada teman-teman sejawat kalian,” tegasnya.

Sementara itu, Penyuluh Anti Narkoba Ahli Pertama BNN Kuningan, Ine Dewi Juniar Kurniawati, menilai sosialisasi tersebut perlu dilanjutkan dan dikembangkan dengan sasaran yang lebih luas.

Menurut Ine, kasus yang berkaitan dengan remaja saat ini semakin beragam sehingga pencegahan harus dilakukan sedini mungkin.

“Kegiatan sosialisasi ini sangat bermanfaat. Harapan saya bisa dilanjutkan dan sasarannya lebih bervariatif, bahkan bisa juga untuk SD, karena sekarang anak-anak lebih baik dicegah sejak dini,” kata Ine.

Ia menilai perlindungan terhadap remaja menjadi bagian penting dalam menyambut bonus demografi.

“Kita harus bisa melindungi remaja kita supaya bonus demografinya terwujud, bukan menjadi musibah demografi,” ujarnya.

Ine berpesan agar pelajar tetap menjadi diri sendiri, tidak kehilangan jati diri, serta memiliki pertahanan diri dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif.

“Tetap jadi diri sendiri, jangan lupa jati diri dan harus punya pertahanan diri,” pungkasnya.

Sementara itu, Kasubag TU UPTD PPA Kabupaten Kuningan, Euis Nurmala, mengatakan edukasi tersebut diharapkan membuat siswa memahami dampak bullying dan pergaulan bebas serta mampu melindungi dirinya.

“Diharapkan para siswa memahami dampak dari bullying, pergaulan bebas, sadar akan pentingnya melindungi diri sendiri serta berani bicara dan melapor ketika menghadapi hal-hal tersebut,” katanya.

Kegiatan yang diinisiasi mahasiswa KKN UNISA Kelompok 03 Desa Bojong tersebut diharapkan menjadi langkah nyata membangun kesadaran pelajar sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan bebas dari bullying. (Angga)