Siswa Usul, Gerakan Stop Bullying Digelar
KUNINGAN, (FC).- Kepedulian terhadap lingkungan sekolah yang aman dan nyaman mendorong lahirnya gerakan edukasi “Stop Bullying” di SDN 1 Bandorasa Wetan, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan.
Menariknya, kegiatan tersebut berawal dari usulan para siswa kelas VI yang ingin memahami lebih jauh bahaya perundungan.
Aspirasi para siswa itu kemudian ditindaklanjuti mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan melalui kegiatan pembelajaran interaktif.
Edukasi tersebut dikemas dengan berbagai metode menarik, mulai dari simulasi pertemanan sehat, diskusi kelompok, permainan edukatif, hingga sesi tanya jawab.
Para siswa terlihat antusias mengikuti kegiatan yang bertujuan menanamkan nilai empati, kepedulian, serta keberanian untuk mencegah tindakan perundungan di lingkungan sekolah.
Mahasiswi KKN UNISA dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Kholipah atau akrab disapa Ipeh, mengatakan ide kegiatan tersebut mendapat respons positif karena berasal langsung dari kebutuhan para siswa.
“Kami mengapresiasi kepekaan para siswa yang mengusulkan tema ini. Melalui kegiatan yang menyenangkan, kami ingin menumbuhkan rasa empati dan keberanian siswa untuk bersuara ketika melihat atau mengalami bullying,” ujarnya, Selasa (4/8).
Dalam kegiatan tersebut, siswa diberikan pemahaman mengenai berbagai bentuk bullying, mulai dari perundungan verbal, fisik, sosial, hingga cyberbullying.
Mereka juga diajak memahami pentingnya menghargai perbedaan dan membangun hubungan pertemanan yang sehat.
Selain itu, para siswa diberikan pemahaman agar tidak takut melaporkan apabila menemukan tindakan perundungan kepada guru maupun orang tua.
Pihak SDN 1 Bandorasa Wetan menyambut baik kegiatan tersebut. Menurut pihak sekolah, edukasi mengenai pencegahan bullying sangat penting diberikan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan karakter anak.
Melalui gerakan Stop Bullying ini, sekolah berharap para siswa tidak hanya memahami dampak buruk perundungan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari terciptanya lingkungan belajar yang aman, ramah, dan inklusif.
Kegiatan tersebut menjadi langkah nyata dalam membangun budaya sekolah yang mengedepankan sikap saling menghargai, sehingga seluruh siswa dapat belajar dan berkembang tanpa rasa takut. (Angga)


Tinggalkan Balasan