Pemkab Cirebon Akan Evaluasi SPPG Setu Kulon
KAB.CIREBON, (FC).- Puluhan siswa SDN 2 Setu Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon dilarikan ke Puskesmas Plered setelah mengalami mual dan muntah hingga lemas, diduga setelah menyantap menu MBG yang dibagikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Setu Kulon, Selasa (4/11).
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, puluhan siswa itu menyantap menu MBG berupa ayam suwir, soto isi sayur, toge dan kol yang dibagikan kepada siswa.
Sekretaris Daerah Kabupaten Cirebon, Hendra Nirmala mengatakan, pagi ini pihaknya mendapatkan laporan bahwa di SPPG Desa Setu Kulon ini terdapat kejadian dugaan keracunan menu MBG yang dialami oleh siswa di SDN 2 Setu Wetan.
“Totalnya sebanyak 20 orang sampai dengan saat ini 7 orang masih di Puskemas Plered, yang 13 orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Dengan kejadian ini tentunya pemerintah kabupaten menyanyangkan, intinya ini terjadi karena adanya ketidaktegasan terutama pihak SPPG,” kata Hendra.
Hendra menegaskan, bahwa pihak SPPG yang bertanggung jawab terhadap kualitas makanannya yang akan diberikan ke sekolah, tetapi kandungan makanannya masih diindikasikan ada racun, akibatnya 20 anak terkena racun tersebut. Walaupun gejalanya hanya pusing dan muntah-muntah.
“Sekali lagi kami menyanyangkan, kami pemerintah Kabupaten Cirebon adanya pengelola MBG ini belum secara optimal dan maksimal kinerjanya, karena harusnya kan ada pengawasan terhadap makanan yang sudah matang dilakukan oleh penjamah, yang menjamin bahwa makanan yang sudah matang ini aman, tidak mengandung hal-hal lain atau racun,” tegasnya.
“Ini evaluasi serius buat SPPG Setu Kulon agar lebih optimal lagi sehingga makanan yang dihasilkan dari semua dapur, semua SPPG yang ada di pemerintah ini betul-betul memenuhi higienis, kemudian memenuhi kalori, protein dan sebagainya dan aman dikonsumsi oleh penerima,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Setu Kuloj, Muhfidz mengatakan, bahwa dugaan keracunan itu berasal dari bahan baku ayam yang disajikan dalam menu MBG berupa soto.
“Dugaanya dari ayam yang ada di menu soto, padahal sebelum dibagikan ayam itu kondisi aman, kami akan evaluasi lagi terhadap suplier – suplier nya,” tegasnya. (Johan)


Tinggalkan Balasan