KUNINGAN, (FC).- Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, memasuki usia ke-46. Momentum tersebut menjadi refleksi perjalanan desa sekaligus penegasan komitmen untuk mengembangkan potensi wisata, pertanian, seni dan budaya menuju desa yang semakin mandiri.

Pesan itu mengemuka dalam puncak Milangkala ke-46 Desa Cisantana yang digelar Minggu (4/10).

Mengusung tema “Cisantana Ngajati Mandiri, Panceg Dina Purwadaksi, Rempug Jujung Sauyunan”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi pembangunan sekaligus menentukan arah pengembangan desa ke depan.

Kepala Desa Cisantana, Ano Suratno, mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Keterbatasan anggaran desa menjadi salah satu kendala dalam mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki.

Karena itu, pembangunan desa tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah desa. Kolaborasi dengan akademisi, pelaku usaha, pemerintah daerah dan masyarakat dinilai diperlukan untuk mempercepat pengembangan potensi Cisantana.

“Tidak ada sesuatu yang kita bisa laksanakan sendiri. Semua harus secara bersama bagaimana membangun, menghadirkan Cisantana ke depan,” ujar Ano.

Cisantana sendiri memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari panorama alam, udara sejuk, pertanian hingga kekayaan seni dan budaya. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal penguatan ekonomi masyarakat.

Peluang itu semakin terbuka seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kuningan. Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menyebut jumlah kunjungan wisatawan meningkat dari sekitar 3,2 juta menjadi 3,8 juta orang.

Menurut Dian, kondisi tersebut menjadi peluang bagi Cisantana untuk mengambil peran lebih besar dalam pengembangan sektor pariwisata.

Namun, pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Kesiapan sumber daya manusia, keramahan masyarakat dan kenyamanan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman kepada wisatawan.

“Kalau kita mau menjadi daerah yang dikunjungi masyarakat dari luar, orangnya harus someah, ramah dan terbuka,” kata Dian.

Dian bahkan mendorong kawasan Cigugur, khususnya Cisantana, untuk memperluas daya tarik hingga wisatawan mancanegara. Menurutnya, peluang tersebut terbuka apabila potensi lokal dikelola secara konsisten dan didukung pelayanan yang baik.

“Dan itu bisa, saya yakin bisa,” ujarnya.

Bagi Cisantana, tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan potensi yang telah dimiliki selama 46 tahun, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi kekuatan ekonomi masyarakat tanpa meninggalkan identitas serta nilai budaya desa.

Semangat gotong royong, silih asah, silih asih dan silih asuh pun kembali ditekankan sebagai modal sosial dalam pembangunan desa.

Milangkala ke-46 menjadi momentum bagi Cisantana untuk memperkuat langkah dari desa yang memiliki potensi menuju desa yang mampu mengelola potensi tersebut secara mandiri.

Puncak peringatan ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Kuningan dan pemotongan tumpeng oleh Kepala Desa Cisantana. (Angga)