KOTA CIREBON, (FC).- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon mengingatkan agar makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dikonsumsi maksimal empat jam setelah matang.
Hal ini sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mencegah terjadinya keracunan pangan, khususnya pada anak-anak penerima manfaat.
Kepala Dinkes Kota Cirebon, dr. Siti Maria Listiawaty menjelaskan setiap kali ada laporan dugaan keracunan, pihaknya selalu menelusuri waktu antara proses memasak hingga makanan dikonsumsi.
Dari hasil evaluasi, keterlambatan konsumsi menjadi salah satu faktor risiko.
“Beberapa kali kalau ada kejadian, kami selalu menanyakan makanan matang jam berapa. Karena sesuai juknis BGN, makanan harus dikonsumsi maksimal empat jam setelah matang,” ujar dr. Maria saat kepada wartawan, Kamis (6/11).
Ia menegaskan ketentuan tersebut bukan tanpa alasan. Empat jam merupakan standar keamanan pangan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui bimbingan teknis resmi.
“Empat jam itu adalah batas aman. Karena setelah makanan matang, ada proses pemorsian, distribusi, hingga sampai ke anak-anak penerima manfaat. Semua proses itu berpengaruh terhadap kualitas dan keamanan makanan,” jelasnya.
Namun, dr. Maria mengakui pelaksanaan di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Salah satunya adalah beban kerja dapur MBG yang tinggi akibat jumlah porsi yang besar, sehingga waktu pengolahan menjadi lebih lama.
“Porsi yang terlalu besar bisa memengaruhi kecepatan dapur dalam mempersiapkan makanan. Kadang karena takut tidak selesai tepat waktu, standar keamanan pangan jadi terabaikan,” katanya.
Untuk itu, Dinkes Kota Cirebon mendorong adanya koordinasi antara Korwil BGN, Dinas Pendidikan (Disdik), kepala sekolah, dan yayasan penyelenggara MBG agar waktu pengiriman dan konsumsi bisa lebih sinkron.
“Harus ada kesepakatan bersama. Begitu makanan datang ke sekolah, sebaiknya langsung dikonsumsi tanpa menunggu lama. Jangan sampai jeda antara makanan matang hingga dimakan melebihi empat jam,” kata dr. Maria.
Selain waktu distribusi, pihaknya juga menyoroti aspek penyimpanan dan pengiriman makanan. Beberapa armada pengangkut makanan diketahui belum dilengkapi fasilitas pendingin (AC), padahal kondisi suhu di Kota Cirebon cukup panas.
“Kami lihat di lapangan, beberapa kendaraan pengantar MBG belum ber-AC. Padahal pendinginan itu penting untuk menjaga kualitas makanan, apalagi di cuaca panas seperti Cirebon,” bebernya.
Maria menegaskan program MBG memiliki tujuan mulia untuk menyiapkan generasi emas 2045, sehingga kualitas makanan harus menjadi prioritas utama.
“Tujuan MBG sangat baik. Karena itu, mari kita duduk bersama untuk mengurai kesulitan di lapangan agar program ini bisa berjalan dengan aman dan bermanfaat bagi anak-anak,” pungkasnya. (Agus)











































































































Discussion about this post