INDRAMAYU, (FC).- Memasuki usia ke-499 tahun Kabupaten Indramayu, bukan hanya sekedar perayaan dan pembangunan fisik, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi, penguatan UMKM, serta penciptaan lapangan kerja.

Perihal tersebut diungkapkan H. Purnomo, S.Sos, pengusaha muda Indramayu sekaligus owner Taruna Beton. Menurutnya,Momentum hampir lima abad perjalanan daerah harus menjadi titik balik untuk menghadirkan politik pembangunan yang benar-benar berpihak pada pertumbuhan ekonomi, investasi, dunia usaha, UMKM dan penciptaan lapangan kerja.

Dikatakan Purnomo, Indramayu memiliki potensi ekonomi yang besar, namun potensi tersebut perlu diolah dan dikembangkan agar memberikan nilai tambah serta berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Indramayu jangan hanya bangga dengan potensi. Potensi harus menjadi kekuatan ekonomi nyata. Pertanian harus menghasilkan industri, laut harus menghasilkan nilai tambah, UMKM harus naik kelas, investasi harus menciptakan lapangan kerja, dan seluruhnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar H. Purnomo.

Purnomo menilai pembangunan infrastruktur tetap penting sebagai bagian dari pembangunan daerah. Namun, pembangunan jalan, gedung, dan fasilitas publik perlu diikuti dengan kebijakan yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurutnya, infrastruktur harus terhubung dengan sentra produksi, pasar, kawasan industri, sektor pertanian, perikanan, dan pusat perdagangan.

“Jalan dibangun untuk menggerakkan barang dan manusia. Infrastruktur harus terkoneksi dengan sentra produksi, pasar, kawasan industri, pertanian, perikanan dan pusat perdagangan. Jangan sampai infrastrukturnya bagus, tetapi ekonomi masyarakat berjalan di tempat,” katanya.

Ia mendorong agar orientasi pembangunan daerah semakin diarahkan pada pengembangan ekonomi dan peningkatan produktivitas masyarakat.

Soal Hilirisasi, Menurut H. Purnomo, salah satu agenda penting pembangunan ekonomi Indramayu adalah memperkuat hilirisasi komoditas daerah.

Purnomo menjelaskan, Potensi pertanian seperti padi, mangga, dan bawang, serta komoditas perikanan dan kelautan, termasuk produk olahan seperti kerupuk ikan, dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

“Kalau petani menjual gabah, nelayan menjual ikan, dan masyarakat hanya menjual bahan mentah, maka nilai tambah terbesar akan dinikmati pihak lain. Kita harus membangun industri pengolahan di Indramayu agar nilai tambah dan lapangan pekerjaan tetap berada di daerah,” ujarnya.

Hilirisasi tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat memperkuat rantai ekonomi lokal sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat Indramayu.

Purnomo juga menyoroti pentingnya penentuan prioritas dalam kebijakan anggaran daerah. Menurutnya, program pembangunan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.

“Setiap rupiah anggaran harus ditanya: berapa lapangan kerja yang tercipta, berapa UMKM yang naik kelas, berapa investasi yang masuk, berapa pendapatan masyarakat yang meningkat?” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari jumlah proyek yang diselesaikan, tetapi juga dari dampak ekonomi dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Dalam hal investasi, H. Purnomo mendorong Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk menciptakan iklim usaha yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor.

Menurutnya, beberapa hal yang dibutuhkan investor antara lain kepastian regulasi, kemudahan perizinan, kesiapan infrastruktur, kepastian lahan, serta pelayanan birokrasi yang cepat dan jelas.

“Investor tidak cukup hanya diundang. Mereka harus diberikan kepastian dan ekosistem usaha yang sehat. Pemerintah harus menjadi fasilitator, bukan menjadi hambatan,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya keterkaitan investasi dengan pelaku ekonomi lokal. Dengan demikian, keberadaan investasi diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi investor, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat dan pelaku usaha di Indramayu.

Purnomo menilai UMKM harus menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Menurutnya, program pengembangan UMKM tidak cukup hanya melalui pelatihan dan bantuan.

UMKM juga membutuhkan akses permodalan, pendampingan manajemen, digitalisasi, sertifikasi, peningkatan kualitas kemasan atau packaging, serta perluasan akses pemasaran.

Dengan penguatan tersebut, UMKM diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, dan memiliki daya saing yang lebih baik.

HUT ke-499 tahun, Purnomo berharap momentum tersebut dapat menjadi refleksi bersama untuk memperkuat arah pembangunan Indramayu.

Menurutnya, pembangunan daerah ke depan perlu semakin mengedepankan keterkaitan antara potensi daerah, investasi, industri, UMKM, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Potensi Indramayu sangat besar. Yang terpenting adalah bagaimana potensi tersebut diolah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” pungkasnya. (F-08)