KOTA CIREBON, (FC).- Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memengaruhi dinamika perdagangan komoditas berjangka.
Para pelaku pasar terus mencermati dampak ketegangan tersebut terhadap berbagai instrumen komoditas, terutama minyak dan emas.
Kepala Cabang Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman mengatakan, untuk komoditas emas sendiri, dampaknya tidak begitu terpengaruh.
Namun, komoditas yang justru paling terdampak adalah Brent Crude Oil (BCO), mengingat konflik di kawasan tersebut berkaitan langsung dengan jalur distribusi minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz.
Ernest menjelaskan bahwa jalur tersebut merupakan salah satu rute utama transportasi minyak global.
Karena itu, setiap ketegangan geopolitik di wilayah tersebut dapat langsung memengaruhi harga minyak dunia.
“Yang terdampak langsung sebenarnya adalah alur transportasinya untuk minyak sendiri di Selat Hormuz itu,” ujarnya.
Ernest menambahkan, dampak konflik terhadap emas biasanya hanya terjadi sesaat.
“Dampaknya hanya sesekali saja, begitu ada perang, orang mulai mengamankan asetnya dari bentuk likuiditas uang menjadi likuiditas emas,” katanya.
Namun, menurut Ernest, kondisi tersebut tidak berlangsung lama dalam kondisi perang yang terjadi saat ini.
Pergerakan harga emas cenderung tertahan dalam rentang tertentu.
Di sisi lain, produk yang saat ini paling aktif diperdagangkan di Equityworld Futures adalah Brent Crude Oil.
“Kami tidak memegang fisik komoditasnya. Kami hanya mentransaksikan pergerakan harganya. Saat harga sedang melonjak seperti sekarang, transaksi menjadi lebih menarik,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa harga Brent Crude Oil sempat menembus level tinggi sekitar 120 dolar AS per barel sebelum akhirnya mengalami koreksi ke kisaran 90 dolar AS per barel.
Meski demikian, ketidakpastian mengenai kapan konflik akan berakhir membuat tensi pasar minyak masih relatif tinggi.
“Selama belum jelas kapan perang ini akan berakhir, tensi harga minyak masih akan tetap tinggi,” ungkap Ernest.
Ernest juga menilai bahwa dalam banyak konflik global sebelumnya, emas biasanya menjadi komoditas yang paling terdampak.
Namun pada kondisi saat ini, dampak terbesar justru lebih terasa pada pasar minyak.
“Biasanya kalau perang-perang yang lain memng langsung efek ke emas. Tapi kalau untuk saat ini lebih cenderungnya ke Crude Oil, itu yang pengaruhnya besar sekali,” tandasnya.
Sementara itu, pergerakan harga emas diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi.
Menurut Ernest, kondisi tersebut masih membuka peluang bagi investor untuk mengambil posisi di pasar emas.
“Kalau untuk trading emas paling sebentar lagi saat harga agak rendah sedikit, karena selama ini tertahan terus antara level 5.000 hingga 5.200 dolar AS per troy ons,” ujarnya
Di sisi lain, ia menilai prospek perdagangan Brent Crude Oil masih cukup kuat selama konflik geopolitik belum mereda.
“Selama konflik masih berjalan, pergerakan minyak masih menarik untuk ditransaksikan,” katanya.
Meski demikian, Ernest mengingatkan bahwa konflik geopolitik biasanya tidak berlangsung terlalu lama.
Jika ketegangan masih berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, pelaku pasar perlu mulai meningkatkan kewaspadaan.
“Biasanya perang tidak berkepanjangan. Kalau sampai April belum reda, baru kita harus mulai lebih berhati-hati,” pungkasnya.(Andriyana)












































































































Discussion about this post