Bupati Kuningan Dorong Pasar Renteng Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
KUNINGAN, (FC).- Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar mengunjungi Pasar Renteng di Blok Cibogo, Desa Kadugede, Kecamatan Kadugede, Minggu (4/10).
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat langsung geliat ekonomi masyarakat sekaligus potensi budaya yang masih dipertahankan.
Pasar Renteng digelar rutin setiap minggu pertama setiap bulan. Selain aktivitas jual beli, pasar tersebut memadukan kuliner tradisional, kerajinan, kesenian dan budaya lokal yang menjadi daya tarik bagi masyarakat.
Kedatangan Bupati Dian disambut pertunjukan pencak silat dan lantunan Goong Renteng. Alat musik tradisional yang disebut telah berusia sekitar 500 tahun tersebut masih digunakan dalam setiap pelaksanaan pasar.
Dian mengaku terkesan melihat antusiasme masyarakat. Menurutnya, pengunjung tidak hanya berasal dari Desa maupun Kecamatan Kadugede, tetapi juga sejumlah wilayah lain di Kabupaten Kuningan.
“Pas masuk ke sini, saya agak kaget. Ternyata yang hadir bukan hanya dari Desa Kadugede, bahkan bukan hanya dari Kecamatan Kadugede. Ada yang dari Jalaksana, Cilimus, bahkan dari Garawangi,” kata Dian.
Menurutnya, antusiasme tersebut menunjukkan Pasar Renteng memiliki daya tarik karena mampu menggabungkan kegiatan ekonomi dengan kearifan lokal, seni, budaya, kerajinan dan kuliner khas masyarakat.
Keunikan lain terlihat dari sistem transaksi. Pengunjung terlebih dahulu menukarkan uang rupiah dengan koin kayu yang digunakan sebagai alat pembayaran di dalam pasar. Setiap koin kayu bernilai Rp2.000.
Dian menilai konsep tersebut dapat menjadi identitas Pasar Renteng sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Lebih dari sekadar pasar, kegiatan tersebut dinilai memiliki fungsi sosial dalam memperkuat silaturahmi dan pemberdayaan ekonomi warga.
“Ini bukan hanya tempat untuk jajan atau jual beli. Di sini tempat kita bersilaturahmi, tempat kita menumbuhkan nilai-nilai tradisi, dan tempat kita juga untuk memberdayakan ekonomi lokal yang akhirnya untuk menyejahterakan masyarakat,” ujarnya.
Berbagai produk lokal turut dipasarkan, mulai dari kerajinan, kesenian hingga kuliner tradisional seperti bubur hanjeli, pais lauk baung, adas, colenak dan panganan khas lainnya.
Dian mendorong potensi tersebut terus diperkenalkan kepada masyarakat luas agar Pasar Renteng dapat berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Selain ekonomi, perhatian juga diberikan terhadap keberadaan Goong Renteng yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Cibogo. Dengan usia yang disebut mencapai sekitar 500 tahun, alat musik tersebut dinilai perlu mendapatkan perlindungan dan perawatan.
“Kita punya Goong Renteng yang usianya sampai 500 tahun. Masih ada dan masih digunakan. Ke depan harus dimuseumkan, direnovasi, dan dirawat,” ujar Dian.
Ia mendorong agar Goong Renteng asli mendapat perlindungan memadai. Sementara untuk pertunjukan rutin, penggunaan replika dapat dipertimbangkan agar tradisi tetap berjalan tanpa mengabaikan pelestarian benda pusaka.
Dian juga mengingatkan pengelola untuk memperhatikan kebersihan kawasan dan kualitas pelayanan. Menurutnya, keramahan masyarakat serta lingkungan yang bersih menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan sebagai tujuan kunjungan masyarakat.
“Kalau kita mau menjadi daerah yang dikunjungi masyarakat dari luar, orangnya harus someah, ramah dan terbuka,” katanya.
Direktur Pasar Renteng, Sajum Baron, mengapresiasi kunjungan Bupati Kuningan. Menurutnya, kehadiran kepala daerah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat Cibogo dan Kadugede.
Sajum mengatakan Pasar Renteng lahir dari semangat gotong royong masyarakat. Pasar tersebut sekaligus menjadi sarana mengenalkan kembali warisan budaya lokal kepada generasi muda.
“Kawasan Cibogo memiliki warisan benda berupa Goong Renteng yang usianya sudah sekitar 500 tahun. Ini luar biasa dan harus dijaga. Selain warisan benda, ada juga warisan tak benda, yaitu gotong royong. Pasar Renteng ini dibangun dengan semangat gotong royong masyarakat,” katanya.
Menurutnya, Goong Renteng tidak sekadar disimpan sebagai benda bersejarah, tetapi tetap dihidupkan melalui kegiatan pasar. Alat musik tersebut ditabuh setiap pelaksanaan pasar untuk menyambut pengunjung.
“Dilestarikan, dihidupkan di nama pasar, ditabuh di setiap hari pasar untuk menyambut tamu. Itu merupakan cara merawat budaya,” ujarnya.
Pasar Renteng juga menjadi wadah bagi masyarakat memperkenalkan produk ekonomi kreatif, seperti kerajinan berbahan janur dan anyaman bambu. Produk janur Cibogo bahkan disebut pernah digunakan dalam kegiatan Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Sajum berharap kreativitas masyarakat tersebut terus dikembangkan sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Orang-orang kreatifnya ada di sini. Ada janur, ada anyaman bambu asli dari sini. Mudah-mudahan bisa disalurkan, khususnya di pasar-pasar, dan mudah-mudahan bisa mendunia,” katanya.
Pasar Renteng diharapkan terus berkembang bukan hanya sebagai tempat transaksi, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat dan pengenalan potensi lokal Kabupaten Kuningan. (Angga)


Tinggalkan Balasan