KOTA CIREBON, (FC).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon mencatat sebanyak 16 kejadian bencana terjadi sepanjang Januari 2026.
Faktor cuaca ekstrem menjadi pemicu dominan dari sebagian besar insiden yang muncul di berbagai wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon, Andi Wibowo menjelaskan dari total kejadian tersebut terdiri dari lima peristiwa cuaca ekstrem, empat pohon tumbang, empat rumah ambruk, dua tanah longsor, serta satu banjir.
“Mayoritas dipengaruhi kondisi cuaca yang masih cukup ekstrem,” ujar Andi kepada wartawan, Jumat (13/2/2026).
Rangkaian bencana itu membawa dampak cukup besar bagi masyarakat. BPBD mencatat sedikitnya 4.049 jiwa terdampak, sementara 130 jiwa lainnya sempat harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Tidak hanya berdampak secara kemanusiaan, sejumlah kerusakan fisik juga terjadi, baik pada pemukiman warga maupun fasilitas umum. Tercatat 1.236 unit rumah sempat terendam banjir dan 17 unit rumah mengalami rusak ringan.
Sementara untuk fasilitas umum, kerusakan ringan terjadi pada satu unit sarana pendidikan, satu sarana ibadah, satu bangunan perkantoran, serta satu bangunan lainnya.
Andi menuturkan, saat ini Kota Cirebon masih berada dalam status Siaga Darurat bencana hidrometeorologi. Hal tersebut berdasarkan Keputusan Wali Kota Cirebon Nomor 236 Tahun 2025, yang menetapkan masa siaga darurat banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, abrasi, dan tanah longsor sejak 1 Oktober 2025 hingga 30 April 2026.
“Dengan status ini, semua pihak diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi cuaca ekstrem masih mungkin terjadi. Kita masih berada dalam masa siaga sampai April 2026,” katanya.
Untuk menekan risiko bencana ke depan, Pemerintah Kota Cirebon telah menyiapkan sejumlah langkah, baik yang bersifat struktural maupun non-struktural.
Upaya struktural dilakukan melalui normalisasi sungai serta perbaikan saluran drainase di sejumlah titik rawan. Adapun langkah non-struktural diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat.
Menurut Andi, BPBD menggencarkan sosialisasi, edukasi, serta pelatihan kesiapsiagaan. Selain itu, telah dibentuk 12 Kelurahan Tangguh Bencana yang aktif, penyusunan rencana kontinjensi, hingga pengembangan sistem peringatan dini.
“Kami juga menyiapkan peta risiko bencana dan peta zona bahaya, serta memberikan pelatihan keterampilan bertahan hidup bagi warga, mulai dari pertolongan pertama, proses evakuasi, hingga penggunaan peralatan darurat,” pungkasnya. (Agus)











































































































Discussion about this post