KUNINGAN, (FC).- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon mengembangkan Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sebagai Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (Desa EKI) diharapkan mampu membuka peluang usaha, memperluas akses pembiayaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Melalui program tersebut, bisa mendorong potensi pariwisata, perikanan dan UMKM di Desa Jagara agar berkembang secara terintegrasi. Penguatan akses keuangan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan literasi masyarakat, tetapi juga memastikan pelaku usaha dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif.

Dengan semakin banyak wisatawan yang berkunjung, produk lokal terserap, UMKM tumbuh dan hasil perikanan diolah menjadi produk bernilai tambah, pengembangan Desa EKI Jagara diharapkan menciptakan efek ekonomi berantai yang dirasakan langsung oleh warga.

Dorongan tersebut dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon melalui pengembangan Desa Jagara sebagai Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (Desa EKI).

Program ini tidak sekadar diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan. Lebih jauh, OJK ingin memastikan akses keuangan benar-benar dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif sesuai dengan potensi yang dimiliki Desa Jagara.

Jagara sendiri memiliki sejumlah potensi ekonomi yang cukup besar, terutama di sektor pariwisata dan perikanan. Potensi tersebut dinilai masih dapat dikembangkan secara lebih terintegrasi dengan penguatan UMKM, pemasaran produk lokal, akses pembiayaan hingga promosi yang lebih luas.

Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib mengatakan, pengembangan Desa EKI harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar berhenti pada peningkatan akses terhadap layanan keuangan.

“Desa EKI bukan hanya tentang masyarakat memiliki akses terhadap layanan keuangan. Yang lebih penting adalah bagaimana akses tersebut bisa digunakan untuk kegiatan produktif. Karena itu, potensi yang ada di Jagara harus kita dorong bersama, mulai dari pariwisata, perikanan, UMKM sampai dengan penguatan akses kepada seluruh produk dan layanan jasa keuangan,” ujar Agus, Rabu (23/9).

Dalam pengembangan Desa EKI Jagara, sektor pariwisata menjadi salah satu potensi yang mendapat perhatian.

Pengembangan wisata tidak hanya ditargetkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga diharapkan mampu menciptakan efek ekonomi berantai bagi masyarakat sekitar.

Ketika wisatawan datang, manfaat ekonomi diharapkan dapat dirasakan berbagai sektor, mulai dari UMKM, kuliner, perdagangan, jasa transportasi, produk lokal hingga usaha pendukung lainnya.

Agus menegaskan, geliat pariwisata harus mampu ikut menghidupkan ekonomi masyarakat.

“Kalau wisata berkembang, jangan sampai hanya tempat wisatanya yang ramai. Kita ingin warungnya ikut ramai, UMKM-nya ikut tumbuh, produk masyarakatnya ikut terjual,” jelasnya.

Selain pariwisata, sektor perikanan juga dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

OJK mendorong agar aktivitas perikanan tidak berhenti pada produksi, tetapi dilanjutkan melalui pengolahan, pengemasan, pemasaran hingga penciptaan produk bernilai tambah.

“Begitu juga perikanan, jangan hanya menjual hasil produksi, tetapi bagaimana bisa diolah dan memiliki nilai tambah. Di situlah kita ingin akses keuangan hadir mendukung masyarakat,” tambah Agus.

Kepala Desa Jagara Umar Hidayat menyambut positif langkah OJK Cirebon yang mendorong Desa Jagara sebagai bagian dari pengembangan Desa EKI.

Menurut Umar, program tersebut menjadi kesempatan bagi Desa Jagara untuk memperkuat berbagai potensi desa sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Bagi kami, ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk mengembangkan Jagara. Kami memiliki potensi yang ingin terus kami kembangkan, baik dari sisi pariwisata maupun usaha masyarakat,” ujar Umar.

Ia berharap kolaborasi dengan OJK dapat membuat berbagai potensi tersebut semakin berkembang dan memberikan manfaat langsung bagi warga.

Umar juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, pemerintah desa tidak dapat bekerja sendiri dalam mengembangkan potensi ekonomi Jagara.

“Kami menyadari bahwa untuk mengembangkan desa tidak bisa dilakukan sendiri. Karena itu, kami sangat terbuka dengan kolaborasi. Termasuk dengan teman-teman media yang hari ini hadir,” katanya.

Untuk memperluas informasi dan promosi mengenai potensi Desa Jagara, OJK Cirebon turut mengajak sekitar 60 wartawan dari berbagai media di wilayah Cirebon Raya.

Para wartawan diajak melihat langsung berbagai potensi yang dimiliki Desa Jagara sekaligus mendapatkan gambaran mengenai pengembangan Desa EKI dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Keterlibatan media tersebut menjadi bagian dari upaya OJK untuk memperkenalkan Jagara kepada masyarakat yang lebih luas.

Agus menilai media memiliki peran penting dalam membangun perhatian publik terhadap sebuah daerah dan berbagai potensi yang dimilikinya.

“Kami mengajak sekitar 60 wartawan karena kami ingin cerita tentang Jagara tidak berhenti di sini. Kami ingin cerita itu dibawa keluar, disampaikan kepada masyarakat Cirebon Raya dan masyarakat yang lebih luas,” kata Agus.

Menurutnya, pemberitaan mengenai Jagara diharapkan tidak hanya sebatas seremoni Desa EKI, tetapi juga mampu mengangkat berbagai cerita menarik di balik potensi desa.

“Kami berharap teman-teman media tidak hanya memberitakan bahwa Jagara merupakan Desa EKI. Lebih dari itu, kami ingin ada cerita tentang apa yang menarik di Jagara, apa yang bisa dikunjungi, apa yang bisa dibeli, siapa pelaku usahanya dan bagaimana masyarakatnya berkembang,” tambahnya.

Melalui pengembangan Desa EKI, OJK Cirebon ingin memastikan inklusi keuangan tidak berhenti pada peningkatan akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan.

Akses tersebut diharapkan menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung kegiatan ekonomi produktif.

Pelaku usaha yang memiliki potensi dapat memperoleh akses pembiayaan sesuai kebutuhan dan kemampuan. Sementara masyarakat juga didorong meningkatkan literasi keuangan agar mampu memilih serta menggunakan produk jasa keuangan secara tepat.

Jika pariwisata berkembang, UMKM bergerak, produk lokal semakin dikenal, sektor perikanan memiliki nilai tambah dan akses pembiayaan semakin terbuka, maka ekosistem ekonomi desa diharapkan ikut tumbuh secara berkelanjutan.

“Harapannya sederhana. Orang semakin mengenal Jagara, semakin banyak yang datang, UMKM semakin bergerak, produk masyarakat semakin dikenal, usaha semakin berkembang dan masyarakat semakin memiliki akses terhadap pembiayaan yang sesuai. Kalau itu terjadi, berarti ekosistemnya mulai terbentuk,” pungkas Agus.

OJK Cirebon selanjutnya akan terus memperkuat sinergi bersama Pemerintah Desa Jagara, Pemerintah Kabupaten Kuningan, industri jasa keuangan, pelaku usaha, masyarakat dan media dalam mendorong pengembangan Desa EKI secara berkelanjutan.

Sebagai bagian dari komitmen menjaga stabilitas sistem keuangan dan tata kelola yang baik, Kantor OJK Cirebon juga menegaskan penerapan Program Pengendalian Gratifikasi.

OJK Cirebon melarang seluruh stakeholders, rekanan maupun mitra kerja memberikan hampers, hadiah atau parsel dalam bentuk apa pun kepada jajaran OJK Cirebon.

Dukungan seluruh pihak diharapkan menjadi bagian penting dalam mewujudkan tata kelola yang bersih, transparan dan berintegritas. (Agus)