“Secangkir kopi mengajarkan keikhlasan untuk menikmati rasa pahit maupun manis secara bersamaan”

Begitulah kiranya kepercayaan yang tumbuh di antara pecinta kopi dan pelaku bisnisnya. Selain bikin melek dan memberi efek kafein yang menyegarkan tubuh, ada mata rantai panjang yang menghidupi banyak orang dari nilai ekonomis kopi.

Dari kebun, tangan petani, barista, hingga cangkir konsumennya.

Tren kopi pun terus berkembang. Di Indonesia bahkan tercatat sekitar 461.991 titik lokasi coffee shop per November 2025, menjadikannya negara dengan kedai kopi terbanyak di dunia, mengungguli China dan Amerika Serikat.

Tapi masalahnya, saat bisnis kopi tumbuh sebesar itu, apakah manfaatnya kembali ke petani di kebun?

Dalam kegiatan Media Gathering & Coffe Experience, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan, Kopi Buana Ciremai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Bank Indonesia Cirebon hadir untuk peningkatan kelembagaan, mulai dari pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai yang meliputi Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka,” kata Wihujeng saat meninjau kebun Kopi Buana Ciremai, Kamis (10/9) pekan kemarin.

Kopi dipilih, lanjut Wihujeng, karena memiliki potensi ekspor tinggi sehingga pengembangannya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.

“Target besarnya pertama adalah kenapa kita itu masuk ke kopi, karena kopi ini adalah komoditas ekspor, jadi kita ingin ekspor ini meningkat,” ucapnya.

Menurut dia, pengembangan kopi dilakukan dari sektor hulu hingga hilir agar peningkatan produksi dan mutu berjalan beriringan dengan kemampuan petani memenuhi permintaan pasar secara berkelanjutan.

Ia mengatakan kopi dari kawasan Gunung Ciremai saat ini sudah diekspor, namun jumlahnya belum banyak dan sebagian besar masih dikirim dalam bentuk biji kopi hijau atau green bean.

“Kalau ekspor sudah ada tapi mungkin tidak banyak ya, belum banyak dan kebanyakan ekspornya dalam bentuk green bean,” ujarnya.

Dia menjelaskan pengiriman dalam bentuk green bean membuat pembeli dari luar negeri masih mengolah dan mengemas kopi tersebut menggunakan merek mereka, sehingga nilai tambah belum sepenuhnya diperoleh dari daerah asal.

Oleh karena itu, pihaknya mengarahkan pengembangan pengolahan agar kopi asal Gunung Ciremai dapat dipasarkan dengan identitas daerah dan memiliki nilai tambah lebih tinggi.

“Harapannya nanti bisa membawa kopi nama Java Buana Cermai ini untuk ekspor,” katanya pula.

Dari sisi kelembagaan, BI Cirebon melakukan pendampingan melalui pembentukan MPIG Java Buana Cermai untuk membangun identitas kopi yang berasal dari kawasan tersebut.

Ia mengatakan identitas geografis diperlukan agar kopi dari kawasan Gunung Ciremai lebih mudah dikenali konsumen, sebagaimana kopi Gayo yang identik dengan daerah asalnya di Aceh.

Pendampingan, kata dia lagi, mencakup peningkatan produktivitas dan kualitas melalui petani, termasuk ekspedisi kopi untuk menentukan cupping score, sehingga mutu kopi dapat diketahui dan program peningkatan nilai tambah disusun berdasarkan standar tersebut.

Di sektor hilir, kata dia, BI Cirebon memperluas promosi dan pemasaran melalui Ciremai Cafe Culture dan Java Coffee Culture, serta membawa kopi berkualitas yang telah dikurasi ke ajang World of Coffee.

“Kopi asal Kuningan, Jawa Barat telah masuk World of Coffee Bangkok pada 2025, sebagai salah satu upaya memperkenalkan kopi kawasan Gunung Ciremai ke pasar internasional,” imbuhnya.

Sementara itu, Taufik Hernawan selaku Ketua MPIG Buana Ciremai menambahkan, Kopi Java Buana Ciremai sendiri merupakan kopi kelompok tani sekaligus merek (brand) kolektif kopi yang mengelola dan memasarkan hasil panen kopi khususnya varietas Arabika dari lereng Gunung Ciremai.

Keberadaan Kopi Buana Ciremai bermula dari keresahannya terhadap praktik pencatutan merek yang merugikan petani lokal. Menurutnya, kopi dari Gunung Ciremai kerap kehilangan identitas asalnya begitu masuk ke tangan pembeli besar dari luar daerah.

Padahal, eksistensi kopi di wilayah ini bukan barang baru. Taufik menyebut budi daya kopi di Kuningan-Majalengka merupakan warisan zaman Belanda sejak 1853. Selama 150 tahun lebih, varietas Arabika, Robusta, hingga Liberika tumbuh subur di tanah Pasundan ini.

“Kopi dari Gunung Ciremai ini banyak diambil orang luar kota. Brand-nya lepas. Kalau diambil kota A, namanya jadi kopi kota A. Asal geografis Kuningannya hilang. Kami mau melindungi ini, jangan sampai identitas aslinya hilang. Arabika, Robusta, Liberika. Ketiga kopi ini hasil sebenarnya warisan dari nenek moyang kita yang ditanam Belanda 1852,” tutur Taufik.

Nama Java Buana Ciremai sendiri merujuk pada dua lokasi utama, yakni Gunung Cakra Buana di Majalengka dan Gunung Ciremai yang melintasi dua kabupaten. Menurutnya, kopi Gunung Ciremai memiliki karakteristiknya tidak jauh dari kopi Jawa Barat lain yang cenderung fruity dengan aroma unik seperti melati, aren, hingga nanas yang keluar secara alami.

Saat ini, lebih dari 50 kelompok tani atau sekitar 500 orang terlibat dalam ekosistem Java Buana Ciremai. Fokus utama asosiasi sekarang adalah memperketat standar operasional prosedur (SOP) pascapanen.

Tujuannya memastikan petani mendapat harga tinggi melalui kualitas yang konsisten, sekaligus memutus ketergantungan pada rantai tengkulak yang selama ini menggerus keuntungan mereka.

pada tahun 2017, ia mulai mengumpulkan para petani lokal di kawasan Gunung Ciremai. Mereka mulai diberi pelatihan serta akses pasar yang lebih luas. Transformasi besar ini didukung oleh Bank Indonesia (BI) Cirebon yang memberikan pendampingan hulu ke hilir.

Fokus utamanya bukan kucuran modal tunai, melainkan edukasi, bantuan mesin, hingga pembukaan akses pasar melalui business matching.

Dalam prosesnya, BI mendatangkan ahli dari pusat penelitian untuk menangani masalah hama. Dukungan sarana seperti mesin barista juga diberikan guna menunjang hilirisasi produk. Di sisi pemasaran, program business matching yang mempertemukan petani dengan calon pembeli menjadi kunci kenaikan transaksi.

Bahkan, fasilitas studi banding ke Gayo, Aceh, yang diberikan BI membuat para petani belajar langsung mengenai sistem industri dan pertanian kopi berkualitas untuk kemudian diterapkan di daerah asal.

“BI mereka kan punya program nih, mulai concern melihat potensi kopi. Mereka support sistem sama dengan visi-misi kita bahwa ingin meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Ada program business matching antara pelaku kopi dengan buyer, calon buyer. Dipertemukan gitu,” tutur Taufik.

Sejak masifnya edukasi dan pendampingan, produktivitas kopi di wilayah ini meroket tajam. Dari yang semula hanya menghasilkan 200 ton per tahun, kini total produksi menyentuh angka 1.700 ton dengan total kapitalisasi nilai mencapai miliaran rupiah.

Kopi tersebut dipasarkan tak hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri seperti Thailand, Taiwan, Hong Kong, Inggris, Australia, hingga Amerika Serikat meski dalam jumlah yang masih terbatas, karena terkendala jumlah petani dan luas lahan.

“Kalau saya 100% malah, jadi dua kali lipat. Setelah ada pendampingan tuh brand kita naik, kualitas kita naik, pengetahuan kita naik. Yang waktu dulu belum ada pembinaan cuma 200 ton kan. Sekarang setiap tahun naik dari 700 ton, 1.300 hingga sekarang 1.700 ton. Meskipun permintaan internasional sangat besar, ekspor saat ini masih terbatas pada skala kiloan hingga hitungan ton, seperti pengiriman 3 ton ke Taiwan dan 2 ton ke Amerika Serikat,” tandasnya. (Agus)