Makam Pangeran Pekarungan Butuh Perhatian Pemerintah
KOTA CIREBON, (FC).- Masyarakat Kota Cirebon tentunya mengenal nama Jalan Pekarungan yang kini menjadi salah satu kawasan padat dan tak jauh dari pusat Balaikota Cirebon.
Namun, hanya sedikit saja yang mengenal tentang asal-usul nama Pekarungan, termasuk sejarah dan sosok dibalik nama tersebut.
Di Jalan Pekarungan, tepatnya di RW 04 Pesayangan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, terdapat sebuah makam salah satu penyebar agama Islam di abad ke 18. Ia adalah Pangeran Harun atau juga dikenal dengan nama Pangeran Pekarungan.
Lokasi makam memang tersembunyi karena dikelilingi padatnya bangunan, sehingga tidak tampak dari jalan utama. Bahkan, jalur menuju ke area makam hanya jalan setapak yang hanya dapat dilalui satu orang saja. Karena itulah, hanya sedikit orang yang tahu tentang keberadaan makam tersebut.
Makam tersebut diyakini masyarakat memiliki kaitan dengan sejarah penyebaran Islam di Cirebon. Berdasarkan cerita yang berkembang, Pangeran Pekarungan disebut memiliki nama asli Syekh Syarief Khafidz dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Pangeran Panjunan.
Namun, keberadaan situs bersejarah itu kini dinilai belum mendapat perhatian yang cukup. Perawatan, penataan lingkungan hingga informasi mengenai sejarah makam masih perlu ditingkatkan agar keberadaannya tidak semakin terlupakan.
Tokoh masyarakat Panjunan, Isnain, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, peninggalan yang berkaitan dengan sejarah leluhur Cirebon perlu dijaga dan dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Sudah saatnya kita semua peduli dengan peninggalan leluhur. Kalau tidak dari sekarang, saya khawatir ke depan situs ini akan semakin rusak bahkan hilang,” ujar Isnain, Rabu (2/9/2026).
Menurut Isnain, perhatian terhadap situs sejarah tidak selalu harus dilakukan melalui pemugaran. Pemerintah juga dapat memulainya dengan pendataan, perawatan lingkungan serta menyediakan informasi yang mudah dipahami pengunjung.
Ia berharap Pemerintah Kota Cirebon bersama aparatur di tingkat kelurahan dan kecamatan dapat lebih aktif mendata dan menjaga situs-situs bersejarah yang ada di wilayahnya.
“Karena di Kota Cirebon mungkin hampir setiap wilayah memiliki situs-situs bersejarah. Ini adalah identitas kita sebagai Kota Wali. Mari kita jaga bersama-sama,” katanya.
Minimnya informasi mengenai sejarah makam juga dinilai menjadi salah satu alasan situs tersebut belum banyak dikenal. Padahal, keberadaan situs seperti Makam Pangeran Pekarungan dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.
Isnain berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret, mulai dari memperbaiki dan menata lingkungan makam hingga memasang papan informasi yang menjelaskan sejarah situs tersebut.
Selain menjaga peninggalan sejarah, penataan yang baik juga dinilai dapat membuka peluang bagi pengembangan wisata religi dan budaya di kawasan tersebut.
“Dengan perawatan dan informasi sejarah yang memadai, Makam Pangeran Pekarungan diharapkan tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi untuk berziarah, tetapi juga menjadi bagian dari cerita sejarah Cirebon yang tetap dikenal oleh generasi berikutnya,” ucap Isnain. (Agus)


Tinggalkan Balasan